
Akhirnya Marisa bisa mengisi daya baterai HP nya setelah beberapa hari selama bersama Indra, pria arogan itu tidak mengizinkan Marisa untuk berhubungan dengan dunia luar.
Banyak sekali pesan dan panggilan tak terjawab yang masuk ke HP Marisa. Bahkan ada juga beberapa pesan dari Sofie yang di kirim beberapa hari yang lalu.
Marisa sedikit merasa merinding saat membaca beberapa pesan dari Sofie.
dimana Indra?!
dimana kamu menyembunyikan tunangan saya?!
kembalikan Indra pada saya!
saya butuh Indra... sekarang!
saya tidak akan membiarkan kamu dan Indra hidup bersama dengan tenang! kamu sudah berjanji untuk membantu saya mendapatkan Indra kembali! saya akan menagih janji kamu! dimana pun kamu berada!
"Ya Allah... Bu Sofie... Maafkan saya..." ucap Marisa lirih dan segera menghapus semua pesan WA dari Sofie.
Air mata Marisa kembali bercucuran. Saat ini Marisa merasa tidak punya siapa-siapa lagi. Gery, sahabat terbaiknya sudah kecewa berat kepadanya. Andro, kekasih terbaiknya tidak akan pernah lagi memeluk untuk menenangkan hatinya.
Sementara Indra Perdana, Sang CEO arogan pilihan hatinya malah tidak ada kabar sedikitpun kepada Marisa! Sejak sore tadi Indra meninggalkan Marisa sendiri di depan gerbang rumah Sofie di sebelah pos satpam! Hingga menjelang malam Indra tidak pernah datang lagi. Bahkan Andro yang kemudian datang dan bersedia untuk mengantarkan Marisa pulang.
Dan sekarang, sudah larut malam seperti ini Indra masih juga belum ada menghubungi Marisa. "Dimana Indra sekarang? Apakah masih ada di rumah Sofie? Kenapa dia tidak berusaha untuk menghubungi aku? Padahal dia tadi meninggalkan aku sendiri di depan gerbang rumah Sofie. Apakah Indra tidak khawatir dengan keadaan aku? Apakah aku sudah pulang? Apakah aku sudah makan? Apakah aku bisa tidur malam ini?" batin Marisa sedih.
Apakah keputusan Marisa untuk memilih Indra adalah satu keputusan yang salah? Kalau memang salah, apakah ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahan itu?
Marisa tidak sanggup seperti ini... Sendirian menanggung beban rasa bersalah kepada Sofie dan Andro juga tentang Gery yang menjauhinya...
Akhirnya Marisa memutuskan untuk melaksanakan shalat malam. Di atas sajadah dan dalam keadaan bersimbah air mata, Marisa memohon petunjuk kepada Allah SWT.
"Ya Allah ya Tuhanku... Kepada siapa lagi hamba bisa berkeluh kesah? Semua orang yang hamba sayang malah menjauhi hamba... Tolong hamba ya Allah... Beri petunjuk Mu untuk melanjutkan kehidupan ini. Beri jalan untuk hamba bersama Indra jika hal itu yang Kau ridhoi dan yang terbaik menurut petunjuk Mu..."
"Hamba juga berdoa untuk Sofie... Semoga Sofie bisa memaafkan kesalahan hamba yang telah menerima cinta Indra.. Hamba juga berdoa semoga Sofie meninggal dengan keadaan Husnul khatimah dan kau tempatkan dia di tempat terbaik di sisi Mu ya Rabbi..."
__ADS_1
"Terakhir hamba mohon agar Andro dan Gery juga bisa memaafkan hamba. Jangan sampai mereka membenci hamba dan menjauhi hamba... Hamba tidak sanggup jika harus terus merasa bersalah seperti ini..."
Baru saja Marisa selesai berdoa dan melipat sajadah nya, terdengar suara ketukan pintu di pintu depan. Marisa segera membuka pintu depan dan mendapati seorang kurir makanan online di teras kosan nya.
"Mbak Marisa?" tanya kurir itu.
"Ya? Saya Marisa" jawab Marisa.
"Ini ada paket makanan untuk Mbak Marisa" kurir itu menyerahkan sebuah paper bag kepada Marisa.
Marisa merasa tidak memesan makanan, maka itu Marisa merasa ragu untuk menerimanya.
"Maaf, saya tidak pesan makanan" kata Marisa.
"Mbak memang tidak pesan, tapi paket ini dipesan oleh seseorang untuk Anda. Nama pemesan ada di paper bag paket"
Marisa mengambil paper bag itu dan membaca tulisan yang tertera disana.
Selamat makan malam, Sayang ♥️♥️♥️
Seketika itu juga darah dalam tubuh Marisa berdesir hebat! Di gigit nya bibir sendiri untuk menahan tangisan.
Mana mungkin aku menangis di hadapan kurir pengantar paket makanan?!
*******
Indra masih berada di rumah Sofie sampai larut malam. Banyak sekali para peziarah yang datang untuk mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Sofie. Beberapa di antaranya adalah rekan bisnis Papa Sofie dan juga mengenal Indra sebagai calon suami Sofie.
Semuanya mencoba menguatkan Indra yang mereka kira sangat merasa kehilangan. Padahal jauh dalam hatinya Indra sedang memikirkan Marisa. Marisa yang di tinggalkannya di depan gerbang rumah Sofie sejak sore tadi.
"Bagaimana keadaan Marisa sekarang? Apakah dia sudah pulang? Apakah Andro mengantarkan Marisa sampai ke rumahnya? Awas saja kalau Andro mempergunakan kesempatan ini untuk mendekati Marisa lagi!" batin Indra.
Indra ingin sekali menghubungi Marisa atau Andro tapi HP nya mati karena kehabisan daya. Indra coba meminjam HP Mama untuk menghubungi Marisa atau Andro tapi Mama tidak mau meminjamkan HP nya.
__ADS_1
"Sebentar saja, Mam! Saya mau menelepon Marisa!" kata Indra.
"Tidak, Dra! Saat ini sedang banyak-banyaknya tamu yang datang untuk menyampaikan rasa belasungkawa atas meninggalnya Sofie! Tidak pantas kalau kamu menelepon Marisa! Kamu tidak usah khawatir. Andro pasti sudah mengantarkan Marisa sampai rumahnya!" kata Mama.
"Tapi, Mam! Saya meninggalkan Marisa sendiri di depan gerbang tadi sore! Bagaimana kalau dia marah?!"
"Tunggu sampai besok ya? Mama yakin Marisa tidak akan marah. Marisa kan gadis baik"
"Lalu sampai kapan saya harus berada disini?! Saya lelah! Saya dan Marisa baru pulang dari luar kota!"
"Sebentar lagi ya, Dra. Sampai tidak ada lagi tamu yang datang"
"Saya lelah, Mam!"
"Kamu harus menjalani semua ini, Dra! Kasihan Sofie. Bagaimanapun dia pernah menjadi calon istri kamu! Beri sedikit penghormatan terhadap Sofie. Besok kita akan kesini lagi untuk menghadiri prosesi pemakaman Sofie dan kamu juga harus ikut sampai acara selesai!"
Indra menggeram kesal!
Untungnya tidak beberapa lama kemudian Mama Sofie meminta Indra dan Mama untuk pulang ke rumah saja karena hari sudah malam. Mama Sofie menawarkan juga Indra untuk menginap tapi Indra menolaknya dengan alasan baru pulang dari luar kota dan tidak membawa pakaian ganti.
Jam sebelas malam barulah Indra dan Mama bisa meninggalkan rumah Sofie. Indra sampai di rumah pukul dua belas malam dan segera mengisi daya HP nya untuk menelepon Marisa. Tapi Marisa tidak mengangkat telepon Indra karena sudah terlelap di rumahnya.
Indra kelelahan dan bangun kesiangan. Saat itu sudah pukul tujuh pagi. Itu juga karena Mama yang membangunkan Indra untuk segera pergi ke rumah Sofie lagi. Tapi Indra mana mau langsung pergi ke rumah Sofie!
"Langsung mandi dan sarapan! Setelah itu kita langsung berangkat ke rumah Sofie!" kata Mama.
"Tidak, Mam! Saya mau menelepon Marisa dulu untuk minta izin kalau saya akan menghadiri prosesi pemakaman Sofie!"
"Marisa juga akan ikut ke pemakaman Sofie kok!"
"Oh ya? Mama kata siapa?"
"Mama tadi sudah menelepon Marisa dan meminta Marisa untuk ikut ke pemakaman Sofie. Marisa setuju dan sekarang Andro sedang menjemput Marisa!"
__ADS_1