
Andro menatap Gery. "Ternyata Henry Adiputra orangnya. Dia masih dendam kepada Indra karena dulu pernah menghancurkan karir nya. Saya rasa Henry juga yang sudah mengirim pesan kepada Marisa agar datang ke apartemen itu" katanya.
"Iya, jadi sekarang apa yang akan Anda lakukan? Apakah Anda akan menemui Henry?" tanya Gery.
"Ya, saya akan menemuinya untuk bicara dengannya"
"Tapi kenapa Anda tidak membiarkan Pak Tio memecat Henry?"
"Kalau dalam prinsip saya, kita tidak boleh memecat seseorang hanya karena dia membuat kesalahan. Ada baiknya kita beri kesempatan kedua. Mungkin dari situlah akan muncul rasa tanggung jawab dan kesetiaan yang tulus dari hatinya karena kita telah memaafkan kesalahannya. Orang yang di pecat itu pasti akan menyimpan rasa sakit hati. Seperti apa yang Henry lakukan kepada Indra sekarang. Api tidak boleh kita lawan dengan api juga"
"Seperti apa yang Anda lakukan kepada Pak Indra. Anda tetap bersikap baik kepadanya walaupun dia sudah merebut Marisa?"
"Ya begitulah" kata Andro seraya menelan ludah sendiri.
"Maaf, Pak Andro. Saya tidak berniat untuk menyinggung perasaan Anda"
"Tidak apa-apa Ger. Saya tahu maksud kamu. Oh ya bagaimana kalau sekarang kamu tidak usah panggil saya dengan panggilan Pak Andro. Cukup dengan Andro saja. Agar kita bisa lebih akrab Saya rasa kita bisa menjadi sahabat baik. Lagipula sekarang kan kamu sudah bukan karyawan di Perdana Enterprise"
"Ya tapi tetap saja saya pernah menjadi bawahan Anda" kata Gery sungkan walaupun dalam hatinya memuji kebaikan hati Andro.
"Ya Allah... Pria ini begitu ganteng, pintar, sopan dan baik hati pula! Kenapa Marisa bisa meninggalkan pria sesempurna ini cuma demi kakaknya yang sama sekali gak ada akhlak?! Apakah karena Pak Indra adalah CEO utama di Perdana Enterprise?! Ah! Harta dan jabatan kan bukan segalanya!" pikir Gery.
"Jadi kamu tidak mau kita jadi lebih akrab?" tanya Andro.
"Bukannya begitu! Baiklah kalau itu kemauan Anda. Saya akan memanggil Anda dengan nama Anda tanpa embel-embel Pak" kata Gery akhirnya.
"Kalau begitu saya akan menemui Marisa sekarang untuk membujuknya dan menjelaskan padanya tentang semua ini" kata Andro.
"Iya, silahkan Pak. Eh! Andro maksud saya. Hehehe"
Andro menuju kamar Marisa dan mengetuk pintunya.
'tok' 'tok' 'tok'
"Marisa, ini saya Andro. Saya boleh masuk?" tanya Andro.
"Andro?" terdengar suara Marisa dari dalam kamar.
"Iya, ini saya"
"Ya udah, masuk aja"
Andro membuka pintu kamar Marisa dan melihat bagaimana Marisa tampak menelungkup di atas ranjangnya dengan bergulung selimut.
"Marisa" panggil Andro serata mendekati Marisa dan kini berdiri di samping tempat tidur gadis itu.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Marisa dari balik selimutnya.
"Saya sengaja datang kesini untuk bicara dengan kamu"
"Ya sudah, bicara saja"
"Masa kamu bersembunyi dibalik selimut seperti itu? Kamu duduk dulu dong. Saya ingin bicara serius"
Marisa menurunkan selimutnya sampai ke dada lalu duduk dan menatap Andro dengan mata yang sembab karena terus menangis.
"Kamu pucat sekali, Marisa" kata Andro sedih dan duduk di samping Marisa di atas ranjang.
"Aku abis nangis" kata Marisa.
"Gara-gara Indra?"
Marisa mengangguk.
"Saya mau bicara dengan kamu tentang masalah Indra, tapi sebelumnya saya ingin kamu makan dulu. Kata Gery kamu belum makan dan minum dari siang tadi"
"Saya tidak lapar"
"Ini sudah jam tujuh malam. Kamu merasa tidak lapar, itu artinya perut kamu sudah penuh angin!"
"Coba saja kamu tepuk perut kamu. Apakah kembung seperti galon?"
Marisa tersenyum sedikit.
"Kamu mau makan apa? Saya akan pesan makanan secara online. Kita makan bersama. Kasihan kan Gery juga belum makan. Dia dari siang tadi nungguin kamu disini. Dia gak mau pergi karena khawatir dengan keadaan kamu"
"Jadi Gery masih ada?"
"Iya, dia kan sayang sekali sama kamu"
"Aku juga sayang sama Gery sebagai sahabat"
"Kalau saya bagaimana? Apakah kamu juga masih sayang kepada saya?" tanya Andro refleks.
Mata Marisa membelalak mendengar kata-kata Andro. Saat itulah Andro tersadar kalau kata-katanya salah dan tidak pantas di ucapkan kepada Marisa. "Maaf, Marisa. Tidak sepantasnya saya bertanya seperti itu... Tapi terkadang saya lupa kalau saya bukan siapa-siapa kamu lagi..." kata Andro lirih...
"Tidak apa-apa. Aku yang salah" kata Marisa.
"Cinta tidak pernah salah. Cinta akan selalu menemukan jalan nya"
"Ya... Walaupun jalan yang salah..."
__ADS_1
"Sudah ya, kita tidak usah bahas dulu masalah cinta. Sekarang saya akan pesan makanan untuk kamu, saya dan juga Gery. Kita makan malam"
Marisa mengangguk perlahan.
Andro pun segera memesan makanan melalui jasa online dan juga membuatkan satu cangkir teh panas untuk Marisa. Saat makanan datang, teh untuk Marisa pun sudah selesai di buat. Andro membawa semuanya kedalam kamar.
"Nih. Minum dan makan dulu" kata Andro seraya meletakkan baki berisi makanan dan teh hangat di atas ranjang Marisa.
Marisa mengambil cangkir teh dan meminum nya sedikit.
"Makan juga dong" kata Andro.
"Gak mau... Kamu saja" kata Marisa.
"Jangan gitu dong. Kamu kan belum makan. Kalau kamu tidak mau makan, saya juga tidak mau!"
"Kok gitu! Kalau mau makan ya makan saja!"
"Kalau begitu kita makan bersama!" Andro mengambil sendok dan membuka kemasan makanan yang di pesan nya, nasi goreng seafood. Lalu di suapi nya Marisa makan. "Ayo makan. Buka mulut nya! Aaaa"
Marisa cemberut. "Emangnya aku anak kecil?!"
"Kalau merasa bukan anak kecil, berarti kamu harus mau makan tanpa saya harus bilang, Aaaa"
Marisa tersenyum sedikit dan akhirnya mau membuka mulutnya. Satu sendok nasi goreng seafood itu pun masuk kedalam mulutnya. Sedap, panas, pedas.
"Hm... Enak" gumam Marisa dan tanpa sadar membuka mulutnya lagi saat Andro menyodorkan sebuah suapan lagi.
"Kerasa sekarang lapar nya?" goda Andro.
"Iya, aku lapar banget ternyata" kata Marisa.
"Nah ini baru Marisa yang saya kenal! Marisa yang suka makan!" goda Andro.
"Tapi ini beneran enak lho, Andro! Coba deh!" kata Marisa dan dengan refleks mengambil sendok di tangan Andro dan gantian menyuapi pria yang pernah menjadi kekasihnya itu.
Andro untuk sesaat tampak bingung sebelum akhirnya mau membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Marisa. "Hm... Benar kata kamu. Ini enak" kata Andro sambil tersenyum manis.
"Iya, kan?! Ya sudah aku makan sendiri saja! Kamu buka nasi goreng yang satunya lagi. Saya gak mau makan seporsi berdua sama kamu karena tidak akan kenyang!" kata Marisa dan mulai makan sendiri.
"Oke, saya setuju!" kata Andro lalu membuka kemasan nasi goreng miliknya.
Diluar kamar, Gery juga mengintip dan melihat bagaimana akhirnya Marisa mau makan. Gery senang sekali ketika melihat Marisa makan dengan lahap.
"Alhamdulillah, akhirnya Marisa mau makan" batin Gery lega.
__ADS_1