My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 223 : Papa... Papa...


__ADS_3

Keesokan harinya Marisa tidak bertemu dengan Andro saat jam sarapan pagi. Indra juga tidak bicara apa-apa dan langsung pergi ke kantor. Tidak lama kemudian barulah Andro muncul di ruang makan dengan menenteng koper besarnya.


"Kamu mau kemana, Dro?" tanya Mama yang belum tahu kalau Andro akan pergi ke Italia pagi itu.


"Saya mau ke Italia" jawab Andro lalu duduk di kursi dan mulai sarapan.


"Kamu mau ke Italia? Kok mendadak sekali?" tanya Mama lagi.


"Ya... Menurut Indra ada beberapa hal penting yang harus segera saya selesaikan disana"


"Ya ampun, Andro! Kamu berapa lama disana? Mama kok merasa khawatir! Takutnya kamu lama disana seperti waktu itu"


"Enggak, Mam. Insya Allah saya tidak akan lama. Begitu selesai pekerjaan disana, saya akan segera pulang"


"Ya sudah kalau begitu..." Mama terlihat berat sekali melepaskan Andro.


Saat itulah Lilis, pengasuh Baby Syailendra turun dari lantai atas dengan menggendong bayi itu yang ternyata sudah bangun. "Bu, ini Baby Syailendra nya bangun" kata Lilis.


Marisa segera menghampiri Lilis dan mengambil Baby Syailendra dari gendongannya. "Anak Mama sudah bangun, Sayang?" sapa Marisa pada anaknya dan menciumi pipi Baby Syailendra dengan penuh kasih sayang.


"Kayaknya dia lapar, Bu" kata Lilis.


"Ya sudah, kamu sarapan saja sekarang. Saya akan menyusui Baby Syailendra di taman belakang sambil menjemurnya" kata Marisa lalu menoleh pada Mama. "Mam, saya ke taman belakang dulu ya?"


"Ya, Marisa" kata Mama.


Sepeninggal Marisa, Andro pun segera menyelesaikan sarapannya dan pamit kepada Mama. "Saya berangkat sekarang, Mam. Pesawat akan lepas landas pukul sembilan pagi"


"Ya, Sayang. Kamu hati-hati ya disana! Kabarin Mama secepatnya kalau sudah sampai. Jangan lupa makan dan istirahat tepat waktu! Sesegera mungkin pulanglah kalau pekerjaan disana sudah selesai" kata Mama.


"Iya, Mam. Makasih atas semua nasehatnya"


"Sama-sama, Sayang. Kamu sudah bicara pada Melati kalau kamu akan pergi ke Italia?"


"Saya rasa dia sudah tahu! Indra pasti sudah memberi tahu Melati tentang kepergian saya!"


"Oh ya. Lalu bagaimana hubungan kamu dengan Melati? Apakah sudah ada kemajuan? Apakah kalian sudah semakin dekat?"

__ADS_1


"Saya tidak suka kepada Melati, Mam. Please jangan bahas soal itu lagi!"


Mama menghela nafas panjang. "Ya sudah... Mama kan cuma ingin kamu segera ada pasangan. Kamu sudah tiga puluh satu, Dro. Minimal kamu punya pacar"


"Ya, Mam. Insya Allah saya akan segera punya pasangan"


"Amin, Sayang"


"Sebelum saya berangkat, saya akan menemui Marisa dulu di taman belakang untuk berpamitan kepadanya"


Mama menatap Andro dengan tajam. "Sebegitu nya kamu sama Marisa, Dro? Kamu tidak berpamitan dengan Melati tapi kamu menyempatkan diri untuk berpamitan dengan Marisa?"


"Saya dan Marisa sudah menjadi saudara, Mam. Sementara Melati hanya sekedar orang lain!"


"Kamu masih mencintai Marisa, Dro? Kamu belum move on dari Marisa?" selidik Mama dengan penuh curiga.


Andro merasa tidak ada gunanya jika berbohong, maka Andro mengakui saja perasaannya kepada Marisa yang memang belum bisa di hapus sampai saat ini!


"Saya memang masih mencintai Marisa, Mam!" jawab Andro tegas!


"Saya tahu, Mam. Karena itu saya menganggap Marisa sebagai saudara saya. Sampai kapanpun saya tidak akan pernah merebut Livi dari Indra seperti apa yang dulu Indra lakukan kepada saya!"


"Marisa adalah jodoh Indra. Kalau tidak berjodoh, mana mungkin mereka sampai menikah dan memiliki anak!"


"Iya, Mam! Saya tahu!"


"Kamu harus bisa menghilangkan perasaan kamu kepada Marisa!"


"Saya mohon jangan paksa saya untuk melupakan Marisa dan menghilangkan rasa cinta ini! Karena saya tidak bisa! Saya tidak tahu caranya! Kalau saya tahu cara untuk bisa melupakan Marisa, sudah dari dulu saya coba. Saat pertama kali saya sadar kalau Marisa ternyata mencintai Indra! Saya mohon, Mam... Saya sudah rela melepaskan Marisa untuk Indra seperti permintaan Mama. Tapi tolong jangan cabut hak saya untuk tetap mencintai Marisa! Karena mencintai seseorang adalah hak mutlak sekeping hati!"


"Ya sudah! Terserah kamu saja! Mama kecewa sama kamu! Kalau begini terus caranya, bagaimana kamu bisa memiliki pasangan?! Bisa-bisa kamu jadi perjaka tua dan tidak akan menikah karena kamu belum bisa melupakan Marisa!"


"Lalu apakah dengan menikah dengan seorang wanita yang saya tidak cintai akan membuat kami bahagia?! Tidak, Mam! Bahkan Indra yang mengaku sangat mencintai Marisa saja belum tentu bisa membahagiakan Marisa!"


"Indra sudah membuat Marisa bahagia dan sejahtera! Tidak ada sama sekali kekurangan Indra dalam mencintai dan memanjakan Marisa! Marisa dan Indra hidup bahagia bersama Baby Syailendra! Lalu kamu sendiri kenapa masih saja mencintai Marisa secara sepihak?!"


"Maaf, Mam. Saya akan menemui dulu" Andro menyudahi pembicaraan dengan Mama dan bergegas menuju taman belakang untuk menemui Marisa. Disana Marisa sudah selesai menyusui Baby Syailendra dan sedang menjemur bayi lucu itu.

__ADS_1


"Marisa" sapa Andro seraya menghampiri Marisa.


"Ya, ada apa Ndro?" tanya Marisa.


"Saya pamit dulu. Saya berangkat sekarang" jawab Andro.


"Ya sudah kalau begitu. Kamu hati-hati ya. Kalau udah sampai disana segera kabarin Mama"


"Saya juga akan segera mengabari kamu kalau sudah sampai disana"


"Oke"


"Sini saya gendong dulu, Baby Syailendra nya" Andro mengulurkan tangannya kepada Baby Syailendra dan ternyata Baby Syailendra segera menyambut uluran tangan Andro dengan riang.


Marisa menyerahkan Baby Syailendra kepada Andro. Dalam hatinya Marisa merasa agak sedih karena merasa kalau akhir-akhir ini Indra selalu berangkat ke kantor lebih awal dan tidak sempat menggendong Baby Syailendra. Beda dengan Andro yang selalu menyempatkan diri untuk menggendong Baby Syailendra setiap pagi.


"Om berangkat dulu ya, Sayang. Kamu sama Mama baik-baik disini ya. Nanti kalau Om pulang, Om akan belikan kamu mainan yang banyak!" kata Andro sambil menciumi Baby Syailendra.


"Pa... Papa... Papa" celoteh Baby Syailendra sambil mengusap wajah Andro.


"Eh, dia panggil saya Papa!" seru Andro senang sekali!


"Sayang, ini Om. Bukan Papa" kata Marisa.


"Papa... Papa...!" celoteh Baby Syailendra tetap pada panggilan Papa.


"Dasar bocah" kata Marisa sambil tersenyum.


"Ya gak apa-apa juga sih kalau Baby Syailendra panggil saya Papa. Mungkin di kiranya saya Indra. Karena kami mirip sekali" kata Andro.


"Tapi Baby Syailendra belum pernah panggil Papa sama Indra" kata Marisa.


"Masa sih?"


"Iya, Baby Syailendra belum bisa bilang Papa. Baru bisa bilang Mama. Makanya saya juga bingung kok dia panggil kamu Papa. Dia kan baru enam bulan"


"Berarti saya adalah orang pertama yang dia panggil Papa..." kata Andro terharu...

__ADS_1


__ADS_2