My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 59 : Akibat Perlakuan Indra


__ADS_3

Marisa begitu terkejut hingga punggungnya membentur rak susun dan membuat beberapa berkas berjatuhan ke lantai. "Apa yang Anda lakukan?!" bentak Marisa sambil memegang tengkuknya sendiri yang terasa merinding.


Indra agak salah tingkah tapi segera bisa menguasai keadaan. "Memangnya apa yang kamu rasakan?!" tanyanya dengan seringai mengerikan.


"Jangan kurang ajar, Pak Indra! Menjijikkan sekali Anda ini!" bentak Marisa dengan tatapan penuh rasa jijik.


"Kamu tadi menungging membelakangi saya! Apa salah kalau saya tiba-tiba jadi ingin menyentuh kamu?"


"Tentu saja salah! Saya bisa melaporkan Anda dengan tuduhan pelecehan seksual! Anda bisa masuk penjara!"


"Saya tidak takut! Saya ini penguasa! Hukum pun bisa saya putar balik kalau saya mau!"


"Dasar kurang ajar! Menjijikkan!" Marisa menjauhi Indra dan segera mengambil tasnya dan pergi dari ruangan itu.


Indra tersenyum sendiri melihat Marisa pergi meninggalkan ruangan. Indra sendiri sebenarnya malu dengan perlakuannya tadi terhadap Marisa, tapi rasa malunya itu terkalahkan oleh rasa gengsi untuk sekedar meminta maaf.


"Dasar munafik! Wanita sok suci! Tapi apakah itu berarti Marisa memang masih gadis? Dia belum menyerahkan dirinya pada Andro? Tadi saja dia kaget sekali saat aku memegang pinggul dan menekan bokong nya!" Indra berdecak berulang kali.


"Marisa, Marisa. Kalau saja kamu sudah tahu bagaimana rasanya kalau saya menggauli kamu dengan posisi seperti tadi, kamu tidak akan marah-marah begitu! Kamu pasti akan mendongak dengan mata membeliak ke atas langit-langit dan kedua tangan meremas seprai dengan kuat!" gumam Indra.


Saat itu sudah jam makan siang. Indra memesan makanan siangnya untuk diantar langsung ke ruangannya. Sambil makan, Indra masih sempat menelepon Mamanya karena tadi pagi tidak sempat menelepon.


Satu jam berlalu dan jam makan siang pun usai. Indra sudah mulai kembali dengan pekerjaannya. Meneliti semua berkas perjanjian dengan pihak klien dari Korea Selatan sebelum di tandatangani.


Tapi Marisa tidak muncul kembali di ruangan. Indra mulai gelisah saat jam sudah menunjukkan pukul satu lebih tiga puluh menit dan Marisa belum juga datang.


"Kemana anak itu?! Berani sekali dia meninggalkan kantor sebelum waktunya dan tidak minta izin dulu kepada saya!" rutuk Indra.


Indra coba menelpon Marisa tapi tidak ada jawaban. Indra coba mengirim pesan WA tapi tidak dibaca.


"Kamu dimana sekarang?!"


"Apa kamu tidak akan kembali ke kantor?!"

__ADS_1


"Kamu berani meninggalkan kantor tanpa izin saya?!"


"Balas!"


Semua pesan WA Indra tidak dibaca oleh Marisa. Indra benar-benar kesal! Baru kali ini dalam tiga puluh tiga tahun usianya, ada seorang wanita yang tidak langsung membaca dan membalas pesan dari Indra!


"Dasar gadis sombong! Sudah tidak punya apa-apa, jual mahal pula! Apa maksudnya pergi tanpa izin seperti ini!" rutuk Indra kesal.


Akhirnya karena saking kesalnya Indra sampai meninju tembok ruangan dengan sangat keras tapi Indra sama sekali tidak merasakan sakit, yang ada hanya rasa kesal dan marah!


Indra sama sekali tidak mengerti kalau perbuatannya tadi sangat menyakitkan perasaan Marisa. Marisa yang memilih langsung pulang ke kos-annya dan menangis sendirian.


Marisa merasa dirinya sangat kotor dan menjijikkan karena sudah diperlakukan tidak senonoh oleh Indra. Marisa jadi dilema dan tidak tahu harus berbuat apa.


Mau diam saja tapi ini sudah keterlaluan! Tapi kalau Marisa melapor pada pihak yang berwajib, tidak ada bukti yang valid.


"Apa aku harus cerita pada Andro? Tapi kan sekarang Andro lagi di luar negeri. Aku gak mau ganggu konsentrasi dia..." batin Marisa.


"Ya Allah... Aku harus bagaimana? Aku sudah tidak sanggup lagi bertahan di Perdana Enterprise... Tolong jangan berikan aku cobaan terlalu berat yang aku tidak sanggup menanggungnya, ya Allah..."


Gery yang sudah pulang dari kantor berkunjung ke rumah Marisa karena tidak bertemu Marisa pada saat pulang kantor tadi. Gery terkejut sekali saat melihat Marisa begitu pucat dan berbaring lemah di atas ranjangnya.


Gery melupakan rasa tabunya untuk memasuki kamar Marisa. Gery menghampiri Marisa dan menyentuh lengan Marisa dan terasa sangat panas sekali.


"Marisa, kamu kenapa?! Ya Allah, kamu panas banget, Mar! Kamu sakit?!" tanya Gery khawatir.


Marisa tidak menjawab. Matanya tetap terpejam. Gery yang bingung terpaksa memanggil Mbak Niki karena sebagai laki-laki Gery merasa risih untuk memeriksa keadaan Marisa walaupun mereka teman dekat.


Gery mengetuk pintu rumah Mbak Niki dengan agak keras. "Mbak! Mbak Niki! Buka, Mbak!" panggil Gery.


Pintu rumah terbuka dan Mbak Niki muncul di balik pintu. "Ada apa?! Berisik banget lo! Gua lagi anteng video call sama yayang Fero!"


"Tolong liat Marisa, Mbak! Marisa sakit!" kata Gery.

__ADS_1


"Sakit kenapa?!" tanya Mbak Niki.


"Tadi dia pulang kantor duluan, terus dari sore gak ada kelihatan keluar dari rumahnya. Aku liat ke rumahnya ternyata dia tiduran. Badannya panas!" tutur Gery.


"Kok lo tahu badannya panas?! Lo masuk ke dalam kamarnya?! Bukan muhrim tahu!" bentak Mbak Niki.


"Iya, aku tahu aku sama Marisa bukan muhrim! Makanya sekarang aku panggil Mbak Niki!" kata Gery kesal.


"Kenapa, ya? Kok sakit mendadak gitu? Awas jangan-jangan Marisa bunting sama pacarnya yang CEO itu! Siapa namanya? Pak Andro!" fikiran Mbak Niki langsung mesum!


"Astaghfirullah! Nyebut Mbak! Istighfar! Jangan asal tuduh orang sembarangan!" Gery jadi semakin kesal!


"Iya, maaf! Gua kan cuma mengingatkan! Bukannya nuduh! Ya udah, sekarang kita lihat keadaannya Marisa!"


Gery dan Mbak Niki pun segera bergegas mendatangi Marisa di kamarnya. Marisa tampak masih terbaring di atas ranjang dengan mata terpejam.


Mbak Niki menyentuh dahi Marisa, terasa panas sekali! "Wah! Panas banget lo, Marisa!" kata Mbak Niki lalu menatap Gery. "Ini mah harus di bawa ke dokter, Ger!"


"Ya udah, Mbak tahu dokter yang dekat gak?" tanya Gery.


"Gak tahu, gua mana pernah ke dokter! Kalau tukang pijit gua tahu!"


"Apa kita bawa aja Marisa ke rumah sakit?"


"Iya, kan ada klinik tuh deket belokan!"


"Ya udah, kita bawa aja Marisa kesana!"


"Biayanya gimana?!"


"Ya Allah, Mbak! Masalah biaya jangan di pikirin! Yang penting kita bawa Marisa sekarang! Cepetan pesan taksi online!"


"Gua gak ada aplikasi gituan! Mana pernah gua naik taksi online! Gua kan ke pasar juga jalan kaki atau naik ojek pengkolan!"

__ADS_1


"Mbak Niki ribet! Ya udah, aku pesen taksi online dulu! Mbak Niki siapin Marisa buat berangkat!"


__ADS_2