
Hari yang paling bersejarah bagi Marisa dan Indra akhirnya tiba juga. Indra dengan di dampingi oleh Mama dan Andro sebagai saksi pernikahan sudah berkumpul di depan meja ijab qobul bersama dengan penghulu dan juga Ayah Marisa sebagai wali nikah dan paman Marisa yang bernama Budi sebagai saksi dari pihak mempelai wanita.
Beberapa keluarga dan kerabat dekat juga sudah berkumpul di kursi tamu untuk menyaksikan langsung acara prosesi ijab qobul itu. Para kameramen dan juru foto juga sibuk mengabadikan momen yang ada tanpa terlewat sedikitpun.
Pagi itu tepat pukul sembilan pagi, Indra resmi mempersunting Marisa dengan satu prosesi ijab qobul yang lancar.
"Ananda Indra Perdana, bapak nikahkan ananda dengan putri kandung bapak bernama Marisa Larasati binti Hikmat Hidayat dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan seperangkat perhiasan mas putih bertabur berlian seberat 100 gram di bayar tunai!" ucap Ayah Marisa saat menikahkan putri kandungnya, Marisa.
"Saya terima nikahnya putri kandung bapak dengan mas kawin yang tersebut di bayar tunai!" ucap Indra dengan lantang dan lancar.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu yang bertugas menikahkan Indra dan Marisa.
"Sah!"
"Sah!"
"Sah!"
"Alhamdulillah..." semua orang yang menyaksikan prosesi ijab qobul itupun mengucap Alhamdulillah sebagai rasa syukur atas sah nya pernikahan Marisa dan Indra.
Setelah itu barulah Marisa muncul dengan pakaian pengantin putih yang bernuansa Sunda dengan di iringi oleh para pengiring pengantin. Dengan langkah perlahan Marisa berjalan mendekati meja ijab qobul dimana Indra sudah menanti dengan pandangan takjub dan mata berbinar-binar.
Bukan hanya Indra, seluruh orang yang hadir di tempat itu sama-sama memandang takjub pada Marisa yang tampak sangat cantik dan bercahaya, termasuk Andro yang dalam hatinya bercampur perasaan bahagia dan juga sedih.
Marisa sampai di hadapan Indra, di raihnya tangan Indra dan di cium nya sebagai bentuk rasa hormat seorang istri kepada suaminya.
Indra memegang kedua belah bahu Marisa dan menjatuhkan satu kecupan lembut di kening Marisa yang kini sudah resmi menjadi istri nya.
Kini mata keduanya bertatapan, saling memandang penuh cinta dan kebahagiaan. Mata Marisa bahkan mulai berkaca-kaca karena saking terharu nya.
__ADS_1
"I love you" bisik Indra.
"I love you to" balas Marisa.
Keduanya pun di dudukan berdua di depan meja ijab qobul untuk saling memasangkan cincin pernikahan, mengucapkan janji pernikahan dan menandatangani surat nikah. Setelah itu di lanjutkan dengan foto bersama dengan keluarga.
Acara selanjutnya adalah pengucapan selamat kepada kedua mempelai di pelaminan dan di tutup dengan makan siang. Marisa dan Indra juga menjalani prosesi adat-istiadat Sunda dalam pernikahan seperti sungkeman, saweran, dan tarik-tarikan bakakak ayam.
Acara selesai pada pukul dua siang dan di lanjutkan dengan resepsi pernikahan pada pukul empat sore dengan nuansa gaya internasional. Marisa memakai gaun pengantin putih panjang berdada rendah dengan bertabur Swarovski dan Indra memakai jas warna hitam.
Para tamu undangan yang sengaja di jemput oleh pesawat terbang pribadi turut datang untuk mengucapkan selamat kepada Marisa dan Indra. Mereka kebanyakan adalah klien bisnis Perdana Enterprise. Di antara mereka ada juga yang sudah mengenal Marisa saat dulu Marisa masih menjadi asisten pribadi Indra dan kerap bertemu dengan Marisa saat ikut metting. Di antara tamu yang hadir ada juga Henry Adiputra yang menemani Pak Tio dan juga ada Kayla yang hadir menemani Mr Baba.
"Selamat menempuh hidup baru ya, Marisa. Semoga langgeng dan bahagia" kata Henry Adiputra sambil menjabat tangan Marisa dengan lama yang di ikuti dengan tatapan melotot dari Indra Perdana!
"Terima kasih, Pak Henry Adiputra" kata Marisa dengan senyum manisnya.
"Jangan lama-lama jabat tangannya, masih banyak tamu yang mengantri!" tegur Indra.
"Selamat ya, Marisa" kata Kayla dengan tatapan mata yang penuh rasa iri.
"Selamat juga atas kehamilan kamu dan juga pernikahan kamu dengan Mr Baba" kata Marisa.
Kayla tidak menjawab melainkan segera menjabat tangan Indra dan berkata "Selamat ya, Pak Indra. Semoga malam pertamanya sukses!" Kayla mengedipkan sebelah matanya yang kali ini di ikuti dengan tatapan melotot dari Marisa!
"Saya juga mengucapkan selamat atas hubungan kamu dengan Mr Baba. Saya senang karena akhirnya kalian berdua bisa menjadi pasangan" kata Indra.
Kayla tidak berkata apa-apa, tapi Mr Baba yang menjawab. "Terima kasih, Pak Indra telah memperkenalkan saya dengan Kayla sehingga saya memiliki istri secantik ini di Indonesia" katanya.
"Sama-sama, Mr Baba" kata Indra lagi.
__ADS_1
"Semoga persalinannya juga lancar. Pasti nanti baby nya mirip sekali dengan anda!" tambah Marisa.
"Terima kasih, Nona Marisa" Mr Baba tampak senang sekali!
Acara malam itu di tutup dengan pesta dansa pada pukul sembilan malam. Marisa dan Indra berdansa di tengah para tamu dengan mesra dan hangat. Semua orang yang memiliki pasangan malam itu berdansa dengan pasangan masing-masing.
Beberapa orang yang tamu yang sibuk sudah kembali ke Jakarta dengan pesawat pribadi milik Indra. Hanya beberapa kawan dekat dan keluarga pengantin yang masih berada di hotel tersebut untuk menginap semalam karena Indra juga menyiapkan kamar untuk para tamu yang akan menginap.
Di antara semua orang yang berbahagia, ada satu hati yang hancur dan tersisih di sudut ruangan. Siapa lagi kalau bukan Andro Perdana, adik dari mempelai pria yang juga adalah mantan kekasih dari mempelai wanita.
Andro memilih menepi di sudut ruangan yang agak gelap dengan segelas kopi hitam pahit yang menemaninya. Melihat bagaimana Marisa dan Indra berdansa mesra dengan saling bertatapan, dan saling menggenggam tangan tanpa mengingat keberadaan Andro sedikitpun.
Menepi itu sakit, apalagi saat menyaksikan orang yang kita cintai berbahagia bersama orang lain...
Andro melihat bagaimana kini Marisa menyandarkan kepalanya di dada Indra dengan mata setengah terpejam yang menandakan bahwa Marisa begitu nyaman dan tenang dalam dekapan Indra.
Bagaimana Indra memeluk Marisa dengan erat dan tampak membisikkan kata-kata mesra di telinga Marisa. Di iringi dengan musik lembut yang mengiringi pesta dansa yang syahdu itu.
Entah mengapa rasanya berat sekali melihat kenyataan seperti ini... Jangankan untuk ikut tersenyum, bernafas saja rasanya berat sekali...
Tidak ada seorangpun yang mengerti perasaan Andro saat ini. Kepada siapa juga Andro akan menceritakan tentang kesedihan hatinya? Rasanya ironi sekali, harus bersedih di saat acara bahagia Marisa dan Indra...
Seketika Andro teringat satu lirik lagu yang akhir-akhir ini begitu sering dia dengar di aplikasi pemutar musik nya...
melihat mu genggam tangannya
nyaman didalam pelukannya
yang mampu membuat ku
__ADS_1
tersadar dan sedikit menepi
Ngatmombilung - Menepi