My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 34 : Perkenalan dengan Henry Adiputra


__ADS_3

Marisa dan Indra sampai di Sumedang sekitar pukul 2 siang. Daerah yang mereka kunjungi masih berupa pedesaan yang memiliki banyak lahan pertanian dan perkebunan. Jalan aspal yang sudah berlubang disana sini dan hanya bisa di lewati kendaraan kecil.


Marisa dan Indra memasuki kawasan yang akan di bangun perumahan nantinya. Masih berupa tanah luas yang kosong dan berbatu. Ada satu bangunan berbentuk rumah tinggal yang nantinya akan menjadi kantor pemasaran.


"Luas sekali, Pak..." ucap Marisa kagum.


"Tentu! Saya mengeluarkan puluhan miliar untuk pembebasan lahan ini!" kata Indra bangga.


"Berapa rumah yang akan di bangun disini?"


"Mulanya saya menargetkan lima puluh unit rumah. Kalau berkembang, kita akan membangun lebih banyak lagi!"


"Hebat! Saya kagum sekali pada Bapak!"


Indra tersenyum manis. Baru kali ini Marisa melihat senyuman yang tulus dari seorang Indra Perdana. Mau tak mau Marisa terpukau juga.


Indra memarkirkan mobilnya di depan bangunan yang merupakan bakal kantor pemasaran. Rupanya sudah ada beberapa orang disana yang langsung menghampiri Indra dan menyambutnya.


"Selamat datang, Pak Indra Perdana." sapa seseorang dari mereka.


Kemudian mereka bergantian bersalaman dengan Marisa dan Indra sambil memperkenalkan diri. Marisa bisa mengingat beberapa orang dari mereka.


Pak Nugraha sebagai pelaksana, Pak Mahmud selaku kepala desa Neglasari, Pak Anwar seorang insinyur bangunan, Pak Badru seorang bos material dan beberapa orang mandor proyek yang Marisa tidak ingat namanya karena tidak terlalu penting.


"Bagaimana Pak Indra? Apakah kita akan langsung metting, atau Bapak barangkali ingin beristirahat dulu?" tanya Pak Nugraha.


"Persiapkan saja segala sesuatunya! Kita akan mulai metting sekitar satu jam lagi. Saya dan Marisa ingin beristirahat sebentar untuk minum kopi." kata Indra.


"Baiklah, Pak. Kebetulan di sebelah sana ada sebuah villa keluarga milik Pak Mahmud yang bisa Bapak pakai untuk beristirahat."


"Baiklah, antar saya kesana!"


"Silahkan Bapak ikuti saya dengan mobil. Saya akan mengendarai motor kesana."

__ADS_1


Pak Nugraha mengajak Indra dan Marisa ke sebuah villa keluarga sederhana, yang adalah milik Pak Mahmud. Letaknya tidak jauh dari lahan yang akan di bangun perumahan Perdana Enterprise.


Villa keluarga itu berada di tengah perkebunan teh dan hanya di jaga oleh sepasang suami istri yang sudah tua. Mereka sangat ramah dan langsung menyuguhkan kue-kue dan kopi untuk Marisa dan Indra.


"Silahkan beristirahat, Pak. Saya akan kembali ke lokasi untuk menyiapkan metting nanti." kata Pak Nugraha.


"Ya!" kata Indra singkat seraya duduk santai di ruang tamu villa.


"Pak Indra, HP saya masih di mobil." kata Marisa.


"Memangnya kenapa?" tanya Indra.


"Takutnya ada pesan masuk, Pak."


"Kamu ingin menghubungi Andro?!"


"Bukan! Saya mau menelepon Mama saya. Mama tahu saya hari ini berangkat ke Sumedang bersama Bapak untuk urusan pekerjaan."


"Selesai metting baru saya akan kembalikan HP kamu!"


"Dasar licik! Dia asyik teleponan sama tunangannya! Sedangkan HP ku masih dia tahan!" batin Marisa geram.


Beberapa menit kemudian, Indra selesai menelepon Sofie dan menghabiskan kopinya. "Marisa, kita mulai metting sekarang. Kamu sudah siap?" tanyanya.


"Siap pak!" jawab Marisa.


"Kamu yang persentasi nanti, ya! Jangan bikin malu saya!"


"Baik, Pak! Saya akan berusaha sebaik mungkin!"


"Bagus! Kita berangkat sekarang!"


Indra kembali ke kantor pemasaran bersama Marisa untuk memulai metting sore itu. Disana semua sudah siap untuk memulai metting. Bahkan ada seorang lagi dari pihak Bank yang akan menjadi partner Perdana Enterprise dalam proses pembayaran angsuran perumahan itu nantinya. Seorang pria tampan berperawakan tinggi kurus dan berkulit putih yang tampaknya beberapa tahun di bawah Indra. Mungkin sebaya dengan Andro.

__ADS_1


"Pak Indra, kenalkan ini Pak Henry. Pihak Bank yang akan bekerjasama dengan perusahaan kita nantinya." kata Pak Nugraha.


Indra tersenyum tipis dan mengulurkan tangannya yang langsung disambut dengan jabatan tangan Henry. "Senang berkenalan dengan Anda. Saya Indra Perdana!" kata Indra memperkenalkan dirinya.


"Saya Henry Adiputra." balas Henry.


"Ini Marisa, asisten pribadi saya." kali ini Indra memperkenalkan Marisa.


Henry menjabat tangan Marisa dengan hangat, dan kali ini jabatan tangan itu lama sekali sehingga Marisa sampai bingung karena tidak bisa melepaskan tangannya dari jabatan tangan Henry.


Indra tentu saja merasa gerah dan langsung berdehem keras. "Ekhm!"


Henry menyadari deheman bernada menyindir yang di tujukan padanya sehingga dia memilih melepaskan tangan Marisa. Di layangkannya tatapan menantang pada Indra yang dibalas dengan tatapan tidak kalah menantang.


Saat ini keduanya seolah bukan klien bisnis, tapi lebih menyerupai rival yang sedang mengukur kekuatan masing-masing lewat tatapan tajam.


"Kita mulai mettingnya sekarang!" kata Pak Nugraha menengahi.


"Baiklah! Pada kesempatan yang baik ini, saya, Indra Perdana selaku CEO utama di Perdana Enterprise ingin mengajak semua pihak yang ada disini untuk melakukan kerjasama dengan membangun perumahan menengah. Saya ingin membangun perumahan bergaya modern minimalis dan khusus di peruntukan untuk para pasangan muda yang baru mau berinvestasi. Untuk itu saya membawa Marisa, selaku asisten pribadi saya untuk melakukan presentasi. Di karenakan dialah orang yang saya tunjuk untuk membuat design rumah modern minimalis dalam proyek kita nanti!" tutur Indra.


"Saya tidak sabar mendengarkan presentasi dari saudari Marisa. Saya yakin design perumahan modern minimalis yang di buatnya pasti secantik orang yang membuatnya!" kata Henry memberi komentarnya.


Indra langsung cemberut karena merasakan kalau pihak Bank bernama Henry itu menaruh perhatian pada Marisa. "Silahkan, Marisa!" kata Indra dengan nada tegas.


"Baik Pak Indra." kata Marisa.


"Berikan persentasi yang singkat, padat dan jelas!" tambah Indra.


Marisa berdiri dari kursinya dan mulai mempersentasikan design rumah yang di buatnya dengan gaya lugas yang menarik dan mudah di pahami.


"Saya ingin pembangunan perumahan ini memiliki fungsi ruang yang bagus dan cukup pencahayaan walaupun kita bangun di lahan yang terbatas di setiap unitnya dan bla... bla... bla..."


Semua orang yang ada di ruangan itu berdecak kagum pada gaya bicara Marisa yang enak di dengar dan rancangan design rumah yang dia buat benar-benar menarik. Henry sampai memberikan tepuk tangan usai Marisa memberikan presentasinya.

__ADS_1


Indra Perdana sendiri merasa sangat kagum pada Marisa. Awalnya Indra merasa ragu apakah Marisa mampu mempersentasikan design buatannya dengan baik atau tidak. Karena terkadang orang yang baik dalam praktek tidak bisa baik saat melakukan teori.


Tapi ternyata Marisa bisa melakukannya dengan baik. Marisa bukan hanya cerdas dalam hal mengurus berkas-berkas penting tapi dia juga bisa merancang sebuah design rumah yang sangat bagus dan sekarang ada satu hal lagi potensi dalam diri Marisa, yaitu pandai berbicara di depan banyak orang. Diam-diam hati Indra makin menyukai Marisa.


__ADS_2