
Keesokan harinya Marisa bersama Indra memeriksakan kehamilan Marisa ke rumah sakit langganan mereka. Menurut dokter Febriani yang memeriksa Marisa, kandungan Marisa dalam keadaan baik dan sehat. Bayi yang ada didalam kandungannya bergerak aktif dan mengalami kenaikan berat badan yang ideal.
Setelah selesai memeriksakan kehamilan, Marisa dan Indra pergi ke kantor. Sesampainya disana, Marisa di sambut hangat oleh para karyawan yang memang sudah satu bulan ini tidak pernah bertemu lagi dengannya termasuk Bella.
Kemudian Indra pun membawa Marisa ke ruangan CEO dan disana sudah ada Melati yang sedang sibuk bekerja dengan laptopnya. Melihat kedatangan Indra dan Marisa, Melati segera meninggalkannya pekerjaannya untuk menyambut mereka.
"Selamat siang, Pak Indra" sapa Melati dengan sedikit menundukkan wajahnya seperti biasa.
"Selamat siang. Perkenalkan ini Marisa, istri saya" kata Indra memperkenalkan Marisa kepada Melati.
Melati segera menghampiri Marisa dan menundukkan kepalanya dihadapan Marisa. "Selamat siang, Bu Marisa. Perkenalkan saya Melati" sapa Melati.
"Hai, salam kenal juga Melati" balas Marisa.
"Senang sekali saya bisa berkenalan dengan Bu Marisa. Pak Indra selalu menceritakan tentang Anda kepada saya"
"Oh ya?"
"Ya, katanya Anda adalah seorang wanita yang cantik dan baik hati. Setelah sekarang saya melihat bagaimana Bu Marisa, yakinlah saya kalau memang Bu Marisa secantik apa yang di ceritakan Pak Indra"
"Ah, berlebihan" kata Marisa seraya melirik kearah Indra.
Indra merangkul pundak Marisa. "Memang kenyataannya kamu cantik sekali kok!"
Melati memperhatikan Indra dan Marisa dengan kagum. Pasangan muda yang tampak sangat bahagia dan serasi sekali. Seorang CEO tampan, gagah dan sukses dengan istrinya yang cantik dan baik hati.
"Oh ya, Bu Marisa mau makan sesuatu? Atau mau minum?" tanya Melati pada Marisa.
"Tidak usah, saya sudah ngemil tadi di jalan" jawab Marisa.
"Ya sudah. Kalau begitu kamu sama Melati ngobrol-ngobrol saja berdua. Saya akan menyelesaikan tugas saya sebentar sebelum kita makan siang" kata Indra.
"Oke" kata Marisa.
Melati segera menggandeng tangan Marisa dan membawanya duduk di atas sofa. "Mari, Bu. Duduk dulu. Ibu kan sedang hamil. Harus banyak istirahat dan jangan terlalu lama berdiri"
"Makasih ya, kamu baik sekali" kata Marisa.
"Ah, Bu Marisa bisa aja. Saya akan buatkan teh manis hangat untuk Bu Marisa, ya?"
__ADS_1
"Boleh, terima kasih ya"
"Sebentar, Bu" Melati meningkatkan ruangan CEO dan pergi ke pantry untuk membuatkan teh manis hangat untuk Marisa.
"Melati itu baik sekali dan perhatian ya?" kata Marisa pada Indra.
"Ah, biasa saja! Dia bahkan tidak pernah menawari saya makan ataupun minum. Tapi saya lihat sikapnya kepada kamu memang sangat baik. Sepertinya kalian berdua bisa bersahabat. Usianya dua tahun lebih muda dari kamu"
"Nanti aku minta nomor HP nya, deh. Aku mau kenal lebih dekat dengan dia"
Tak lama kemudian Melati muncul dengan teh manis hangat dan cemilan-cemilan untuk Marisa. "Ini Bu, sambil menunggu Pak Indra selesai bekerja, Ibu makan dulu" kata Melati sambil menaruh bawaan nya di atas meja.
"Kamu bawain saya cemilan segala. Saya kan sudah bilang kalau saya sudah ngemil tadi" kata Marisa.
"Jam makan siang kan masih satu setengah jam lagi, Bu. Nanti Ibu lapar. Kalau Ibu merasa lapar kan enak sudah ada cemilannya"
"Iya ya"
Marisa dan Melati pun larut dalam obrolan yang mengasyikkan. Mereka bisa cepat akrab karena sama-sama memiliki sifat yang ramah. Sebentar saja keduanya sudah seperti dua orang sahabat yang sudah mengenal lama. Mereka membicarakan banyak hal tentang pekerjaan, kehamilan, hingga belanja online.
Indra yang sedang sibuk dengan laptopnya pun ikut tersenyum saat melihat kalau istrinya tampak senang mengobrol dengan Melati. "Mereka cepat sekali akrab" pikir Indra.
"Marisa sering banget menceritakan tentang asisten pribadi kamu yang baru itu, Dra. Namanya Melati, ya?" kata Mama saat sarapan pagi bersama.
"Oh iya, Mam" kata Indra.
"Kayaknya anaknya baik dan menyenangkan. Gimana kalau malam ini kita ajak Melati makan malam bersama?" usul Mama.
"Aku setuju, Mam!" seru Marisa bersemangat.
"Ya saya sih setuju-setuju saja" kata Indra.
"Kamu gimana, Dro?" Mama melirik kearah Andro.
"Terserah" kata Andro acuh.
"Ya sudah, nanti sekitar jam tujuh-an Andro akan menjemput Melati ke rumahnya!" kata Mama lagi.
Andro sedikit terhenyak mendengar kata-kata Mama. "Saya menjemput Melati ke rumahnya?"
__ADS_1
"Iya, kamu! Masa Indra?! Indra kan suami Marisa!"
"Suruh saja Melati kesini naik taksi online!"
"Ya gak sopan dong, Dro. Melati kan perempuan. Perempuan itu harus di jemput"
"Iya, oke oke! Saya akan jemput dia nanti malam" kata Andro akhirnya mengalah.
"Memangnya kamu gak suka sama Melati? Kata Marisa dia cantik! Anaknya juga baik" tanya Mama.
"Enggak, saya gak suka! Kulitnya hitam!" jawab Andro sekenanya karena memang pernah beberapa kali bertemu dengan Melati di kantor.
"Kok kamu jadi ngeledekin gitu! Kulitnya Melati itu bukannya hitam tapi sawo matang. Eksotis" tegur Marisa.
"Saya tidak suka dengan warna kulit seperti itu" kata Andro.
"Ya kalau kamu suka kan maksud Mama ada baiknya juga kamu mengenal Melati lebih dekat. Siapa tahu cocok. Kamu sudah tiga puluh satu lho, Dro" kata Mama.
"Iya, betul itu! Ada baiknya kamu segera cari jodoh dan menikah! Menikah itu ternyata sangat menyenangkan, lho!" kata Indra.
"Sudah ah! Gak usah membicarakan masalah jodoh. Pokoknya nanti malam saya akan jemput Melati untuk makan malam bersama kita dan setelah itu kalau perlu akan saya antar pulang kembali" kata Andro.
Dan saat di kantor, Indra pun mengatakan pada Melati bahwa Mama ingin mengajaknya untuk makan malam bersama di rumah keluarga Perdana.
Melati agak kaget mendengar ajakan Indra itu. "Saya di ajak makan malam bersama keluarga Anda, Pak?" tanyanya.
"Iya. Nanti Andro yang akan menjemput kamu" jawab Indra.
"Tapi, ada acara apa?"
"Tidak ada acara apa-apa. Mama saya cuma ingin berkenalan saja dengan kamu karena Marisa sering menceritakan tentang kamu kepada Mama"
"Ya ampun, Bu Marisa"
"Istri dan Mama saya memang seperti itu. Mereka selalu bersikap bersahabat dengan orang yang mereka sukai. Jadi bagaimana? Kamu bersedia?"
"Baiklah, Pak Indra. Saya bersedia. Tapi apakah tidak merepotkan Pak Andro kalau beliau menjemput saya? Biar saya naik taksi online saja"
"Tidak, Mama saya yang meminta Andro untuk menjemput kamu dan Andro bersedia"
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, Pak Indra. Saya dengan senang hati akan datang malam nanti"