
Marisa terpaksa masuk ke dalam kamar tidur itu dengan langkah yang berat. Sementara Indra menatap dengan sorot mata yang tidak sabaran.
"Sini! Duduk di samping saya dan pijat bahu saya! Pakai ini!" Indra menyerahkan cream pijat pada Marisa.
Marisa mengambil cream itu dan duduk di samping Indra. "Maaf Pak, ini sudah diluar pekerjaan saya," Marisa masih mencoba menolak secara halus.
"Kamu kan asisten pribadi saya! Sudah tugas kamu juga membantu masalah pribadi saya! Saya tidak enak badan! Seharian saya menyetir mobil sementara kamu tidur! Apa salahnya kamu bantu memijat bahu saya?!"
"Ya sudah, Bapak berbalik sana!"
Indra memutar tubuhnya sehingga membelakangi Marisa, lalu di bukanya kaos yang dipakainya sehingga kini Indra sudah bertelanjang dada.
Lagi-lagi Marisa merasa dadanya berdebar berhadapan dengan punggung Indra yang kekar dan berotot. Ada satu rasa aneh yang membuat darahnya mengalir lebih cepat. Rasa yang belum pernah Marisa rasakan sebelumnya.
"Fokus, Marisa! Fokus!" batin Marisa geram, lalu membuka tutup botol cream pijit dan mulai mengoleskannya di sekujur punggung Indra. Sangat perlahan sehingga seolah-olah Marisa sedang mengusap-usap punggung Indra. Kemudian dengan lembut mulai di pijatnya bahu Indra.
"Agak keras, Mar!" perintah Indra.
"Baik, Pak." Marisa menambah kuat pijatannya, dan kali ini Indra terdengar mengeluarkan suara bersendawa.
"Nah, seperti itu! Bagus! Enak sekali pijatan kamu!" puji Indra.
"Bapak suka di pijat?" tanya Marisa.
"Iya, Mama saya sering mengerik dan memijat saya kalau saya merasa tidak enak badan. Begitu juga Andro," jawab Indra.
"Kalau sama orang lain pernah?"
"Tidak! Saya tidak suka orang asing menyentuh tubuh saya!"
"Saya juga termasuk orang asing, bukan?"
"Tidak, kamu cukup dekat dengan saya!"
__ADS_1
"Bapak mau saya kerik? Saya juga bisa mengerik,"
"Boleh!"
"Ada koinnya?"
"Tidak ada! Mana mungkin seorang CEO utama seperti saya punya recehan apalagi uang logam!"
"Lagi gak enak badan masih aja bisa sombong!" rutuk Marisa dalam hatinya. "Ya sudah, saya ambil sendok dulu di ruang makan."
Marisa pergi mengambil sebuah sendok di ruang makan dan kembali ke kamar lalu mulai mengerik Indra. Beberapa kali Indra mengeluarkan suara sendawa.
Selesai mengerik Indra, Marisa kembali memijat bahu Indra tapi baru beberapa menit memijat, Indra berbalik dan memegang tangan Marisa dengan matanya yang menatap tajam ke mata Marisa.
Marisa merasa terkejut dan coba menarik tangannya dari pegangan tangan Indra, tapi Indra tidak melepaskan dan malah semakin erat memegang tangan Marisa.
"Lepasin tangan saya! Bapak mau apa?!" tanya Marisa cemas.
"Kamu tidak boleh lepas dari genggaman saya malam ini, Marisa! Saya ingin kamu menemani saya malam ini di kamar ini!" bisik Indra. Perlahan tapi tegas.
"Saya suka kamu, Marisa! Saya sudah cukup lama memperhatikan kamu dan merasa semakin suka pada kamu! Saya menginginkan kamu malam ini! Hanya malam ini!"
Mata Maria membelalak mendengar kata-kata Indra yang seperti itu! Di tariknya tangannya dari pegangan Indra tapi tidak bisa dan malah terasa sakit!
"Lepaskan saya! Saya tidak bisa memenuhi keinginan Bapak! Saya bukan wanita murahan! Saya tidak mau!" bentak Marisa.
"Jangan sok jual mahal kamu, Marisa! Saya tahu kamu juga menyukai saya!" Indra melepaskan tangan marisa tapi kemudian memeluk tubuh gadis itu hingga kini tubuhnya berdekapan dengan Marisa.
Marisa merasa darahnya tersirap! Ini berbahaya! Marisa bisa-bisa kehilangan kehormatannya di tangan Indra malam ini juga! Wajah Marisa langsung pucat pasi!
Sementara Indra justru merasa sangat bernafsu untuk bisa menaklukkan Marisa malam ini juga! Darahnya mengalir deras dengan nafas memburu. Pelukannya di tubuh Marisa semakin erat dan membuat Marisa sulit bernafas.
"Lepaskan saya, Pak Indra! Lepaskan saya!" Marisa mencoba memberontak dengan sekuat tenaga, tapi apa artinya pemberontakan Marisa di bandingkan tubuh Indra yang besar dan kuat?
__ADS_1
Tatapan Indra begitu liar menjelajahi wajah Marisa yang begitu dekat dengan wajahnya. Mata Marisa yang menyiratkan ketakutan... Bibir Marisa yang bergetar...
Indra merasa gemas dan tidak bisa menahan diri lagi, di cium nya bibir Marisa dengan kasar dan liar. Bukan hanya mencium, Indra bahkan menjelajahi bibir Marisa dengan mulutnya dan kini mengunyah bibir gadis itu dengan kuat!
"Hmph... Hmph..." Marisa tidak sanggup untuk bersuara.
Indra semakin berani, bukan hanya mencium tapi kini tubuhnya bergerak menindih tubuh Marisa. Tubuh Marisa yang mungil seolah-olah tertelan dalam tindihan Indra. Kaki dan tangan Marisa melejang-lejang mencoba melepaskan diri. Tapi tidak ada gunanya. Indra begitu kuat dan kini bibirnya turun ke leher Marisa dan menciuminya dengan membabi buta.
"Lepaskan saya, Pak Indra! Ingat Bu Sofie! Saya juga bukan pacar Bapak! Saya pacar Pak Andro!" teriak Marisa.
"Saya tidak perduli!" bentak Indra lalu dengan kurang ajarnya meraba dada Marisa yang ada di bawah himpitan dadanya! "Luar biasa!" desis Indra semakin bergairah!
"Tidak!!! Whua!!!" Marisa menjerit keras berharap suaranya terdengar keluar villa dan akan ada seseorang yang menolongnya.
"Diam! Percuma kamu berteriak! Tidak akan ada yang mendengar apalagi membantu kamu melepaskan diri! Sekarang sebaiknya kamu diam dan nikmati saja apa yang akan saya lakukan pada tubuh kamu!" geram Indra.
"Tidak mau! Lepaskan saya! Dasar pria kurang ajar! Menjijikkan! Bajingan!" teriak Marisa lalu kemudian memekik histeris karena *********** di remas keras!
"Bersikaplah jinak! Kamu adalah asisten pribadi saya! Kewajiban kamu melayani semua keperluan saya di kantor maupun di atas tempat tidur! Kamu butuh rekomendasi bagus dari saya bukan?! Saya akan berikan nilai A+ untuk kamu asal kamu jadi milik saya malam ini!" kata Indra keras!
"Saya lebih baik mati daripada harus menyerahkan kehormatan saya!" Marisa berkata tak kalah kerasnya!
Indra tidak mau berdebat lagi dengan Marisa. Maka dengan kasarnya di renggutnya baju tidur Marisa di bagian dada hingga sobek terkoyak.
Bret!
Marisa menjerit histeris dan mencoba memukuli dada Indra, tapi pukulan Marisa tidak ada rasanya sama sekali untuk Indra yang saat itu sedang di kuasai oleh nafsu.
"Kamu milik saya malam ini!" desah Indra penuh gairah.
Marisa memutar otaknya dan mendapatkan ide yang mungkin tidak berhasil tapi layak di coba. Kalau Indra tidak mempan dengan pukulan, mungkin Indra tidak akan bisa menahan kalau Marisa menggelitiknya!
Tanpa pikir panjang Marisa menggelitik pinggang Indra! Dan berhasil! Indra memekik geli dan tindihannya pada tubuh Marisa sedikit mengendur karena tubuhnya berkelit ke samping! Di saat itulah Marisa menendang perut Indra dengan keras!
__ADS_1
Buk!
Indra mengaduh dan melepaskan tubuh Marisa yang berada dalam himpitannya. Saat itulah Marisa melepaskan dirinya dan berlari keluar kamar!