My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 19 : Terima Kasih Untuk Hari Ini


__ADS_3

Pulang pergi ke restoran seafood yang jaraknya cukup jauh dari kantor membuat Marisa sampai di kantor dengan wajah yang agak pucat dan lesu. Marisa sempat berpapasan dengan Bella di koridor menuju ruangan CEO.


"Marisa, kamu baik-baik saja? Wajah kamu pucat sekali! Kamu sakit?" tegur Bella.


"Saya tidak apa-apa kok, Mbak." jawab Marisa seraya tersenyum pahit.


"Kamu dari mana saja? Saya perhatikan kamu keluar kantor cukup lama."


"Saya baru saja menjalankan tugas dari Pak Indra."


"Tugas? Tugas apa?" tanya Bella lagi.


"Tugas mulia!" nada suara Marisa meninggi.


"Tugas mulia?" Bella mengerutkan keningnya, tapi Marisa tidak berkata apa-apa lagi melainkan segera berlalu dari hadapan Bella.


Marisa memasuki ruangan CEO dan mendapati Indra sedang asyik memakan kepiting asam manis saus tiram pesanannya.


Darah Marisa mendidih! Dalam hatinya muncul keinginan untuk mengambil kemasan makanan yang sedang di makan oleh Indra itu dan menumpahkannya ke pakaian Indra!


Tapi kenyataannya, Marisa hanya bisa kembali ke tempat duduknya dan diam mematung. Menatap kosong layar laptopnya.


Indra melirik sedikit kepada Marisa dan tersenyum sinis melihat kedatangannya. "Lama sekali kamu, Marisa!" tegur Indra.


Hening.


Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Marisa.


"Karena kamu lama sekali, saya jadi pesan kepiting asam manisnya lewat online!"


Tetap hening.


Tak ada jawaban.


Indra melihat wajah Marisa yang tertutup laptopnya. Indra menjadi jengkel karena Marisa sama sekali tidak menggubris perkataannya.


"Marisa, kamu ini bisu atau tuli?!" bentak Indra dan akhirnya berdiri dari duduknya dan bergegas menghampiri meja kerja Marisa.

__ADS_1


Indra kini sudah berada di depan meja kerja Marisa dan melihat wajah Marisa yang kini tidak terhalang oleh apapun. Seketika itu juga Indra terhenyak.


Marisa tampak diam mematung, tapi bukan hal itu yang membuat seorang Indra Perdana terhenyak, melainkan ada butir-butir air mata yang menetes ke pipi gadis itu.


Indra tidak pernah melihat ada seorang gadis menangis sebelumnya. Tapi saat ini ada seorang gadis cantik yang menangis tanpa suara isakan, dan itu akibat dari perbuatannya.


Indra memang sengaja menyuruh Marisa untuk pergi jalan kaki ke restoran seafood langganannya. Padahal Indra sudah lebih dulu memesan makanan itu lewat Bella dan minta dikirim melalui online. Tidak lain adalah untuk mengerjai Marisa agar bolak balik jalan kaki tanpa hasil!


Dan kini, tangis tanpa suara seorang Marisa Larasati mampu menggetarkan hati seorang Indra Perdana. Tapi bukan Indra Perdana namanya kalau harus terlarut dalam suasana dramatis seperti ini!


"Kenapa kamu menangis?! Kamu ini sudah dewasa! Kamu mahasiswi tingkat akhir! Bukan seorang anak TK! Berani sekali kamu menangis di depan saya dan di ruangan saya!" bentak Indra.


Marisa menyeka air matanya yang membasahi pipinya. "Maaf, Pak Indra... Saya ingin menangis saat ini... Bapak sudah membuang waktu dan tenaga saya! Bapak juga sudah berhasil menguras pikiran saya! Kali ini saja, saya berjanji tidak akan menangis lagi..." ujar Marisa sambil terisak.


"Mulai sekarang saya juga ingatkan kepada kamu untuk jangan pernah dekati adik saya lagi! Atau kamu akan menyesal!" ancam Indra.


"Oh! Jadi hanya karena masalah Pak Andro, Bapak mengerjai saya seperti ini?! Apa salah saya, Pak?! Kan Bapak sendiri tahu, kalau Pak Andro yang mendekati saya!"


"Hentikan tangisan kamu sekarang juga! Saya tidak suka wanita cengeng seperti itu! Atau saya akan usir kamu dari ruangan saya saat ini juga!"


"Kamu sengaja menangis untuk mendapatkan simpati dan rasa iba saya?!"


"Kalau begitu, izinkan saya pergi sekarang Pak! Usir saja saya dari ruangan Anda sekarang juga!"


"Kamu menantang saya, Marisa?!"


"Anda yang keterlaluan, Pak! Saya sudah berusaha untuk menyelesaikan tugas yang Anda berikan, tapi ternyata Anda hanya mengerjai saya!"


"Kamunya yang kelewat lama! Jadi saya memilih memesan via delivery!"


"Sekarang Bapak pikir! Saya pergi jalan kaki! Bagaimana saya bisa cepat sampai?! Pikir Pak!" kata Marisa berapi-api. "Tapi saya paham! Saya hanya seorang bawahan dan Anda adalah atasan saya! Anda berhak memperlakukan saya semau anda! Dan saya ucapkan terima kasih untuk hari ini!"


"Bagus kalau kamu mengerti posisi kamu dimana! Sekarang kalau kamu masih menangis seperti itu, tinggalkan ruangan saya!"


"Baik, Pak Indra Perdana yang terhormat!" Marisa berdiri dari duduknya dan pergi menuju toilet untuk mencuci mukanya. Bagaimanapun juga Marisa tidak akan membiarkan siapapun melihat bagaimana tersiksanya dia karena perlakuan seorang Indra!


Marisa pun keluar dari toilet dan kembali duduk di kursinya kemudian membuka tas kecilnya dan mengeluarkan alat make-upnya. Di polesnya wajahnya yang agak pucat dengan riasan sederhana tetapi menarik. Dalam sekejap saja wajah Marisa tampak cantik dan segar.

__ADS_1


Indra yang sedari tadi memperhatikan Marisa mau tidak mau hatinya berdecak kagum melihat kecantikan Marisa yang semakin menonjol dengan make-up tipisnya. Bahkan Indra tidak sempat berpaling saat Marisa menoleh dan memergoki Indra yang sedang memperhatikan dirinya.


"Kenapa Bapak lihatin saya dandan?" tanya Marisa.


"Ah, tidak! Saya sama sekali tidak ngelihatin kamu dandan!" tukas Indra sok jaim.


"Baiklah Pak, saya akan pergi sekarang juga dari ruangan ini! Walaupun saat ini belum jam keluar kantor!"


"Tapi kan kamu sudah tidak menangis lagi sekarang?"


"Saya sudah tidak bisa melanjutkan pekerjaan saya! Tapi Bapak tenang saja, besok seusai Bapak fitnes dan sampai ke kantor, pekerjaan yang Bapak berikan pada saya akan saya serahkan tepat waktu!"


"Tapi Marisa, kamu tidak bisa pergi begitu saja!" Indra coba menahan Marisa.


"Sampai jumpa besok, Pak Indra. Dan sekali lagi, terima kasih untuk hari ini"! kata Marisa seraya pergi meninggalkan ruangan itu tanpa Indra bisa mencegahnya.


*******


Marisa memilih pergi ke kantin yang terletak di belakang kantor dan mengopi disana. Tidak lupa Marisa mengirim WA pada Gery agar sahabatnya itu datang ke kantin sepulang kerja nanti karena hari ini Fero tidak bisa menjemputnya.


Satu jam kemudian Gery muncul di kantin dan ikut memesan secangkir kopi. Melihat wajah Marisa yang cemberut, Gery paham kalau Marisa dapat masalah lagi.


"Mar, tumben kamu udah keluar kantor. Tadi kamu WA aku jam tiga." kata Gery.


"Aku pergi dari kantor! Aku gak tahan dengan sikap Pak Indra sama aku!"


"Kenapa lagi dia?"


"Gila banget pokoknya!" Marisa menceritakan semuanya pada Gery. Bagaimana Indra mengerjainya hanya karena Indra tidak suka Marisa dekat dengan Andro.


"Gila banget, sumpah!" rutuk Gery.


"Di luar nalar, kan?!" kata Marisa.


"Jadi gimana sekarang? Kamu akan menjauhi Pak Andro?"


"Aku juga gak tahu, Ger..."

__ADS_1


__ADS_2