
Indra mengumpulkan keberaniannya untuk berkata jujur pada Mama Renata. Setelah beberapa kali menarik nafas panjang dan menyusut air matanya, Indra akhirnya membuat sebuah pengakuan yang sangat mengejutkan Mama.
"Mam, maafkan saya... Saya yang sebenarnya telah menyakiti Marisa. Sebelum Marisa pergi dari rumah ini, saya sempat bermasalah dengannya, bahkan saya tidak tidur dikamar malam itu" kata Indra.
"Kenapa, Ndra?! Apa yang telah kamu perbuat kepada Marisa?!" desak Mama.
"Saya... Saya sudah berselingkuh, Mam..." akhirnya Indra mengakui kesalahannya pada sang Mama yang selama ini selalu membela dan menyayanginya bahkan sampai menyingkirkan Andro demi kebahagiaan Indra.
Betapa kagetnya Mama saat mendengar pengakuan dari Indra itu! Mama merasa seolah ada petir yang menyambar di depan matanya! Tubuhnya serasa lemah tak berdaya dan akhirnya Mama melosoh jatuh duduk di atas sofa ruang keluarga.
"Mama! Maafkan saya, Mam!" Indra menghambur memeluk Mama yang terduduk lemas dengan kepala yang terus di geleng-geleng.
"Indra, katakan kalau yang kamu katakan tadi adalah tidak benar!" kata Mama berharap kalau Indra hanya mengarang cerita saja.
"Maaf, Mam. Saya telah berselingkuh... Marisa sudah mengetahuinya dan sakit hati. Bahkan Marisa mengetahui tentang ini sejak dua bulan yang lalu..."
Mama kini menatap bengis kepada Indra. "Siapa wanita selingkuhan kamu itu?! Katakan kepada Mama sekarang!" bentaknya!
"Wanita itu adalah Melati..." Indra menyebutkan nama Melati sambil menundukkan kepalanya.
"Ya Tuhan... Indra!" Mama Renata sampai menutup mulutnya sendiri karena tidak menyangka kalau Indra telah berselingkuh dengan Melati! Asisten pribadinya sendiri yang selama ini telah menggantikan posisi Marisa di kantor!
"Marisa sudah sakit hati dan kecewa dengan kelakuan saya yang satu itu, Mam... Makanya dia memutuskan untuk pergi membawa Syailendra dan kini saya tidak tahu mereka ada dimana! Saya sudah putus asa dan tidak tahu apa lagi yang harus saya lakukan untuk menemukan mereka..." Indra berkata pilu dengan air mata bercucuran.
__ADS_1
"Keterlaluan kamu, Indra! Kenapa kamu berselingkuh dengan Melati?! Marisa jauh lebih cantik dari Melati! Marisa kurang apalagi sehingga kamu tega melakukan hal keji seperti itu?! Kamu tahu, Indra?! Perselingkuhan adalah satu kesalahan pria yang akan sangat menyakiti hati wanita! Walaupun Marisa satu saat nanti bisa memaafkan kamu, dia tidak akan pernah bisa melupakan rasa sakitnya! Rasa sakit itu akan terus terasa hingga akhir hayatnya! Ya Tuhan...! Kamu ini punya penyakit berselingkuh yang di turunkan oleh siapa?! Almarhum Papa kamu tidak pernah menyakiti hati Mama seperti kamu menyakiti hati Marisa!" Mama Renata kini marah besar!
"Maaf, Mam... Saya tergoda untuk berselingkuh dengan Melati karena dia yang terus menerus berusaha untuk menggoda saya! Dasar wanita ******* dan murahan!"
"Tutup mulut kamu, Indra! Perselingkuhan terjadi karena murni kesalahan kedua belah pihak! Mama tidak mungkin menyalahkan Melati seorang karena kamu juga punya andil dalam masalah ini!"
"Iya, Mam... Saya terima kesalahan saya..." Indra kembali menunduk.
"Kamu jahat, Indra! Kamu bukan hanya menjadikan Melati sebagai asisten pribadi pengganti Marisa, tapi kamu juga menjadikan dia sebagai pengganti Marisa di tempat tidur!"
Indra tidak bisa berkata-kata untuk menjawab Mama lagi.
"Kurang apalagi Marisa selama ini?! Mama bahkan sampai menyalahkan dia karena telah pergi dari rumah! Padahal dia pergi dengan membawa rasa sakit yang luar biasa! Bagaimana jika Marisa tidak kembali lagi?! Kita tidak akan bisa menemukan Syailendra lagi! Ya Tuhan..."
Mama tiba-tiba merasakan dadanya berdenyut sakit dengan nafas yang terengah-engah. Mama memegang dadanya sambil meringis kesakitan!
Tapi Mama tidak bisa menjawab, pertanyaan Indra karena Mama keburu pingsan di atas sofa ruang keluarga itu!
"Mama! Mama! Mama!" Indra semakin panik! Indra berteriak-teriak seperti anak kecil sambil mengguncangkan tubuh Mama.
Beberapa asisten rumah tangga pun berlarian menghampiri Indra yang berteriak-teriak memanggil Namanya yang tidak sadarkan diri.
"Pak Indra! Nyonya kenapa?!"
__ADS_1
"Ya Tuhan, Nyonya pingsan!"
"Pak Indra! Kita harus segera membawa Nyonya ke rumah sakit!
Keadaan menjadi panik hingga akhirnya Pak Mukti datang dan segera menggendong Mama untuk membawanya ke rumah sakit.
"Pak Indra, kita ke rumah sakit sekarang!" kata Pak Mukti.
"Iya Pak! Segera siapkan mobilnya!" kata Indra.
Indra dan Pak Mukti pun membawa Mama Renata ke rumah sakit. Sesampainya disana, Mama segera mendapatkan tindakan di ruang ICU sementara Indra menunggu didepan ruangan dengan pikiran kacau yang tidak menentu.
Marisa dan Syailendra belum bisa ditemukan dan sekarang malahan Mama Renata yang pingsan!
"Sekarang aku harus bagaimana?! Marisa hilang bersama Syailendra! Mama masuk rumah sakit! Apa yang harus aku lakukan?! Ya Tuhan..." disaat-saat seperti ini barulah Indra merindukan keberadaan Andro.
"Kalau saat ini Andro ada bersama saya , pasti keadaannya tidak akan sekacau ini! Saya akan ada bersama seorang saudara yang akan menguatkan saya! Bisa membagi kesusahan ini dan mencari jalan keluar bersama-sama!"
"Semua ini gara-gara wanita s*ialan bernama Melati itu! Awas saja kalau nanti Mama sudah agak tenang dan bisa saya tinggalkan di rumah sakit! Akan saya cari Melati dan akan saya cincang dia hingga mati!"
Indra malah menyalahkan Melati atas semua kemalangan yang menimpnya! Padahal seharusnya Indra menyadari bahwa ini semua akibat kesalahan dia juga yang tidak bisa menahan diri untuk tidak berselingkuh dengan Melati!
Nasi kini telah menjadi bubur. Indra sudah kehilangan Marisa dan juga Syailendra, dan kini Mama Renata jatuh sakit akibat tidak tahan menerima guncangan hati setelah mengetahui perselingkuhan Indra dengan Melati.
__ADS_1
Satu jam kemudian barulah dokter keluar dari ruang ICU dan mengatakan kalau kondisi Mama Renata sangat terguncang dan akibatnya dia mengalami serangan jantung.
Untungnya Mama Renata sudah melewati masa kritis dan sekarang harus menjalani perawatan di rumah sakit. Keadaannya juga sudah stabil tapi belum sadarkan diri. Indra pun meminta seseorang suster di rumah sakit itu untuk merawat dan menjaga Mama Renata selama dua puluh empat jam.