My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 260 : Marisa Tidak Ditemukan


__ADS_3

Marisa akhirnya sampai di Cirebon pada pukul setengah dua siang. Saat itu Syailendra sudah tertidur nyenyak setelah diberi makan dan susu saat di perjalanan tadi.


"Kita sudah sampai" kata Henry seraya memarkirkan mobilnya didepan sebuah rumah mungil yang tampak terawat rapi. Henry turun dari mobilnya sambil merenggangkan tubuhnya yang terasa sangat pegal setelah menyetir dari pagi tadi.


Marisa ikut turun dari mobil dan melihat keadaan sekitarnya. Sebentar saja Marisa langsung merasa betah karena suasana disana. Deretan rumah yang sederhana dan memiliki taman dan kebun serta pagar-pagar yang terbuat dari bambu sehingga ada jarak lumayan jauh dari satu rumah ke rumah lainya.


Di sebrang jalan ada pesawahan dengan latar belakang bebukitan yang hijau menghampar. Udaranya pun terasa sejuk dan segar di pernafasan. Marisa berdecak kagum melihat bagaimana asrinya kampung tersebut.


"Indah sekali pemandangan disini" kata Marisa sambil tersenyum kepada Henry.


"Kamu suka?" tanya Henry.


"Suka sekali"


"Nah itu rumah sahabat ku, ayo kita kesana sekarang" Henry mendahului Marisa menuju satu rumah dimana Henry tadi memarkirkan mobil didepannya.


"Assalamu'alaikum!" seru Henry.


Wa'alaikum salam" kata suara seorang wanita dari dalam rumah dan tak lama kemudian sesosok wanita itu keluar dari dalam rumah dengan mengenakan daster.


"Teh Ina" sapa Henry pada wanita itu yang ternyata bernama Ina.


"Pak Henry udah sampai" sapa Teh Ina yang sudah tahu kalau Henry akan datang kesana.


"Iya, Saya baru saja sampai. Ini Marisa. Sahabat yang saya yang saya ceritakan kepada Teteh kemarin" Henry memperkenalkan Marisa.


Marisa dan Teh Ina pun bersalaman dengan menyebutkan nama masing-masing.


"Selamat datang, Bu Marisa" kata Teh Ina ramah.

__ADS_1


"Terima kasih, Teh" kata Marisa.


"Bagaimana rumah yang saya pesan untuk Marisa sudah di siapkan?" tanya Henry.


"Sudah, Pak. Sebentar ya saya panggil Akang dulu. Mari masuk dulu kedalam"


Teh Ina masuk kedalam rumah di ikuti oleh Marisa dan Henry. Sesampainya didalam Teh Ina pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman sekaligus memanggil suaminya yang sedang mandi.


Sementara Marisa dan Henry duduk bersama di ruang tamu dan tak lama kemudian Teh Ina sudah muncul kembali dengan membawa minuman dan makanan ringan untuk tamunya.


Tapi kali ini Teh Ina muncul di temani suaminya yang langsung membuat Marisa terbelalak kaget saat melihat bagaimana rupa suami Teh Ina. Sebuah wajah seram karena memiliki banyak penuh luka bahkan ada satu luka besar di bagian matanya sehingga membuat mata pria itu tampak sedikit keluar mengerikan!


"Herman?!" desis Marisa seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat itu.


"Apa kabar, Bu Marisa?" sapa suami Teh Ina yang memang Herman adanya. Bekas supir pribadi Indra yang selama ini menghilang tanpa jejak.


"Kamu Herman, kan?" tanya Marisa.


*******


Seharian itu Indra sibuk mencari Marisa, dari mulai terminal hingga ke bandara. Tapi Marisa tidak bisa di temukan. Marisa seolah hilang di telan bumi. Indra sudah meminta tolong pada beberapa orang suruhannya hingga mengeluarkan banyak uang, tapi Marisa tetap tidak bisa ditemukan.


Keesokan harinya Indra melanjutkan pencarian kerumah Gery dan ternyata Marisa juga tidak ada disana. Gery dengan piawainya mengatakan kalau dia sama sekali tidak pernah berkomunikasi dengan Marisa semenjak beberapa bulan terakhir ini.


"Kok bisa sih Marisa pergi dari rumah?! Ini pasti ada masalah berat! Marisa itu wanita kuat yang tidak biasanya lari dari masalah!" kata Gery pada Indra.


"Saya juga tidak tahu ada masalah apa dengan Marisa. Mungkin ada suatu kesalahpahaman yang terjadi antara kami yang belum terselesaikan tapi dia malah memilih pergi dari rumah" kata Indra.


"Bagaimana dengan Pak Andro?! Kenapa Anda tidak meminta bantuan kepada Pak Andro?! Dia selalu bisa menyelesaikan masalah seberat apapun masalah itu" kata Gery lagi memancing Indra karena sebenarnya Gery juga sudah tahu tentang kepergian Andro yang lebih awal dari Marisa.

__ADS_1


"Saya tidak tahu Andro ada dimana..." kata Indra dengan suara lemah. Keangkuhan dan kearoganan seorang Indra Perdana kini seolah lenyap di depan Gery.


"Masa kakak gak tahu keberadaan adiknya?!" tanya Gery pura-pura kaget.


"Ya begitulah kehidupan saya saat ini, Ger. Andro pergi dari rumah karena Mama saya khawatir dengan kedekatannya dengan Marisa, sementara Marisa pergi sudah tiga hari ini sehingga memunculkan kecurigaan Mama kalau dia menyusul Andro"


"Tapi Marisa tidak mungkin pergi menyusul Pak Andro! Marisa bukan wanita seperti itu!"


"Saya tahu Marisa seperti apa. Saya juga yakin bahwa Marisa tidak akan pergi menyusul Andro"


"Makanya Pak Indra, kalau punya saudara jangan di musuhi! Jadi sekarang susah kalau mau minta tolong! Orang lain tidak akan bisa mengerti kesulitan kita selain dari saudara kita sendiri!"


"Iya Ger... Saya sekarang benar-benar merasakan bagaimana saya membutuhkan Andro"


"Jadi sekarang bagaimana? Bapak mau cari Marisa kemana lagi?"


"Saya juga tidak tahu... Saya sudah tiga hari ini mencari Marisa dan saya tidak menemukan dia! Padahal saya sudah meminta bantuan kepada orang-orang yang ahli dalam mencari keberadaan seseorang"


Indra pun pulang ke rumah lagi-lagi dengan tangan kosong. Indra seolah sudah kehilangan harapan untuk menemukan Marisa dan Syailendra. Maka Indra langsung menangis sedih sambil berlutut di hadapan Mamanya.


"Ya Tuhan, Indra... Kamu kenapa, Sayang?!" Jangan menangis sedih seperti ini! Mama tidak sanggup melihat kamu sampai seperti ini!" seru Mama sambil ikut menangis memeluk Indra.


"Saya belum menemukan Marisa dan Syailendra, Mam! Saya tidak tahu lagi harus mencari dia kemana?! Bagaimana sekarang keadaan anak saya?! Saya sangat merindukan Syailendra..." ratap Indra.


"Kamu yang sabar ya, Nak. Ini semua gara-gara Marisa yang jahat itu! Dia sudah membawa Syailendra pergi dari kita! Mama tidak memikirkan Marisa tapi lebih pada keselamatan Syailendra! Tentang Marisa, Mama tidak perduli lagi! Mau dia mati atau hidup!"


"Mama..." Indra kembali menangis histeris di pelukan Mama.


"Ada apa Indra?! Apakah ada sesuatu yang ingin kamu katakan pada Mama?"

__ADS_1


"Sebenarnya... Sebenarnya ini semua bukan karena kesalahan Marisa... Saya yang telah melakukan kesalahan besar, Mam!"


Kening Mama berkerut dan jantungnya berdebar kencang. "Maksud kamu, Indra?!" tanyanya.


__ADS_2