My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 136 : Sofie Meninggal


__ADS_3

Andro baru saja pulang dari kantor pada hari Kamis sore itu saat Mama menghambur memeluk nya dan menceritakan tentang Sofie yang masuk rumah sakit dan sekarang dalam keadaan koma.


"Ternyata selama ini Sofie mengidap kanker otak stadium empat! Sekarang Sofie dalam keadaan koma! Kita harus segera pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Sofie, Ndro!" tutur Mama.


"Ya Allah! Kok bisa sih selama ini Sofie tidak menyadari penyakitnya?" kata Andro prihatin.


"Kadang penyakit kanker memang seperti itu! Baru menunjukkan gejala disaat keadaannya sudah parah!"


"Ya udah, saya mandi dulu dan kita segera berangkat ke rumah sakit"


"Kamu makan dulu saja"


"Enggak, Mam. Saya barusan sudah makan di kantor"


"Oh begitu. Ya sudah, Mama siap-siap dulu ya"


"Ya, Mam. Lalu bagaimana dengan Indra? Apakah Indra sudah tahu tentang keadaan Sofie? Saya masih belum bisa menghubungi Indra. Indra masih menutup akses untuk saya"


"Mama sudah menelepon Indra. Dia akan pulang hari ini juga bersama Marisa"


Terdengar suara helaan nafas panjang dari Andro. Mama paham dan segera merangkul putra bungsunya itu.


"Kamu gak apa-apa kan, Andro?" tanya Mama lembut.


"Ya, Mam. Saya tidak apa-apa. Tapi bagaimana dengan keluarga Sofie? Mereka pasti belum tahu kalau Indra sudah memutuskan Sofie"


"Iya, keluarga Sofie memang belum tahu. Makanya tadi pagi Mama Sofie menelepon Mama dan meminta agar Indra segera datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Sofie"

__ADS_1


"Saya tidak habis pikir dengan Indra. Kalau dia tidak mencintai Sofie, kenapa dia mau mengikat tali pertunangan dengan wanita itu?! Kalau sudah begini kan kasihan juga Sofie. Pasti Sofie sudah berharap kalau bisa menikah dengan Indra. Seperti hal nya saya... Saya juga sudah berharap kalau bisa menikah dengan Marisa..."


Mama merasa sedih mendengar kata-kata Andro. "Mama tahu ini pasti berat untuk kamu, Ndro. Kamu yang kuat ya?! Mama yakin kamu akan bisa mendapatkan cinta sejati yang Allah sudah siapkan untuk kamu, tapi bukan Marisa"


"Ya, Marisa hanya untuk Indra" desis Andro.


Mama hendak bicara lagi tapi Andro segera meninggalkan Mama untuk masuk kedalam kamar dan meneteskan air mata dalam kesendiriannya. Andro tidak mau Mama melihat air mata yang jatuh membasahi pipinya. Biarlah rasa sakit ini Andro sendiri yang merasakan. Mama tidak usah tahu dan tidak boleh tahu!


"Akhirnya kita akan bertemu lagi, Marisa. Saya tidak tahu apakah saya harus bahagia ataukah bersedih... Saya juga tidak tahu apakah nantinya sanggup melihat kamu berdampingan dengan kakak kandung saya, Indra... Saya hanya ingin tahu, apakah yang membuat kamu berubah pikiran dan memilih Indra. Padahal saya sudah berharap banyak kepada hubungan kita... Kamu adalah gadis pertama yang bisa membuat saya jatuh cinta dan kamu juga adalah gadis pertama yang menyia-nyiakan cinta itu ..."


*******


Satu jam kemudian Andro bersama Mama sudah tiba di rumah sakit tempat Sofie dirawat. Mereka bertemu dengan kedua orang tua Sofie yang tampak sangat bersedih. Sofie adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kakak laki-laki nya sudah menikah dan tinggal di Amerika. Kedua orang tua Sofie juga sering bolak-balik ke luar negeri untuk urusan pekerjaan dan Sofie yang sering kali di tinggal di Indonesia untuk memegang perusahaan keluarga.


Bisa di katakan kalau Sofie adalah seorang wanita dewasa yang kesepian. Di usianya yang sudah dua puluh delapan tahun, Sofie belum menikah dan sering tinggal sendiri di rumah keluarganya yang besar.


Sofie sudah biasa hidup mandiri sejak remaja dan kini selalu sibuk dengan urusan pekerjaan. Sofie juga merupakan anak yang penurut, maka itu dia menerima saat Mama dan Papa nya menjodohkannya dengan Indra yang adalah anak dari rekan kerja Papa nya.


Mungkin karena itu juga penyakit Sofie menjadi bertambah parah dan akhirnya drop. Mama dan Papa nya tidak menyangka kalau putri mereka sampai mengidap kanker otak yang ganas itu! Sofie tidak pernah mengeluh ataupun bercerita kalau dia sedang sakit.


Bu Eva, Mama nya Sofie langsung menangis seraya memeluk Mama Renata saat mereka bertemu di depan ruang perawatan Sofie. "Jeng Renata, Sofie tidak sadarkan diri. Keadaannya koma..." ratap Mama Eva.


"Sabar ya, Jeng Eva. Mudah-mudahan ada jalan kesembuhan untuk Sofie" hibur Mama Renata.


"Amin... Oh ya, mana Indra?"


"Indra sedang dalam perjalanan pulang dari luar kota"

__ADS_1


"Oh iya, semoga Indra bisa cepat sampai"


Sementara itu, Andro melihat Sofie dari jendela kaca. Tampak Sofie yang terbaring di atas ranjang perawatan dengan banyak selang dan oksigen yang dipasang pada saluran pernapasan nya. Iba juga Andro melihat bagaimana keadaan Sofie saat itu.


"Apa yang akan Indra lakukan nanti jika dia melihat bagaimana keadaan Sofie saat ini. Apakah dia akan tetap memilih Marisa? Hm... Kenapa juga Indra jadi seorang yang tidak bertanggung jawab seperti ini!" batin Andro geram.


Papa Sofie mendekati Andro dan berkata. "Keadaan Sofie sudah sangat parah. Dokter berkata kalau hidup Sofie mungkin tidak akan bisa bertahan lama karena jaringan kanker nya sudah menyebar luas..."


"Ya Allah..." Andro merasa prihatin sekali.


"Makanya kami menyesal sekali karena tidak tahu kalau selama ini Sofie mengidap penyakit mematikan itu!" kata Mama Eva.


"Mudah-mudahan Allah beri kesembuhan untuk Sofie..." kata Andro dan semua pun mengaminkan nya.


Saat itulah terlihat dari jendela kaca kalau tubuh Sofie tampak bergerak-gerak. Matanya juga tampak terbuka mulutnya tampak mengucapkan kata-kata.


"Om, Tante! Sofie sadar!" seru Andro!


"Iya! Ya Allah! Papa! Cepat panggil dokter!" seru Mama Eva dan segera memasuki kamar perawatan Sofie.


"Ya Ma!" kata Papa Sofie lalu segera memanggil dokter dan kemudian memasuki ruang perawatan bersama dokter dan beberapa orang perawat.


Mama Renata mendekati Andro dan menggenggam erat tangan Andro. Mereka tidak ikut masuk dan hanya melihat dari kaca jendela. Terlihat dokter dan para perawat sedang memeriksa keadaan Sofie. Tampak juga Mama dan Papa Sofie menangis dan berangkulan.


Walaupun tidak melihat dari dekat, Andro paham kalau keadaan Sofie sekarang sedang gawat. Apalagi melihat bagaimana mata Sofie tampak membelalak dan tubuhnya bergerak-gerak seolah kesakitan.


Hingga akhirnya terlihat Sofie menghembuskan nafas terakhir dan terkulai lemah. Dokter memompa jantungnya beberapa kali namun akhirnya menggeleng kepada para perawat.

__ADS_1


"Ya Allah...!" ucap Mama Renata dengan tubuh bergetar hebat.


"Inalilahi wainalilahi roziun..." ucap Andro seraya merangkul erat pundak Mama.


__ADS_2