
Mata Indra memandang keadaan kos-an Marisa dengan pandangan merendahkan dan senyum tipis di sudut bibirnya yang menyiratkan meremehkan.
"Ruang tamu yang sangat sempit! TV tabung zaman prasejarah! Karpet murahan! Banyak sampah juga! Luar biasa! Hebat sekali kamu bisa bertahan di tempat seperti ini!" kata Indra sinis!
Marisa cemberut. "Kalau Anda kesini cuma mau menghina kos-an saya yang sederhana dan sempit ini, sebaiknya Anda pulang ke kediaman keluarga Perdana sekarang juga dimana terdapat segala macam kemewahan dan itu merupakan tempat ada berasal!"
"Tapi masalahnya calon istri saya ada disini!"
"Saya bukan calon istri Anda!"
Indra mengernyit. "Apa maksudnya kamu berkata seperti itu! Kamu mau ingkar janji?! Kamu kan sudah memilih saya! Apakah Andro sudah berhasil mempengaruhi kamu agar kembali kepadanya?!"
"Tidak begitu! Saya dan Andro sudah selesai, tapi bukan berarti saya sudah berniat serius dengan Anda! Saya masih ragu untuk menjalani hubungan dengan Anda!"
"Cukup, Marisa! Bisakah kamu ganti kata anda dengan kamu ?! Saya geli mendengarnya!"
""Terserah!"
"Kamu ini kenapa sih?! Kok saya datang bukanya menunjukkan rasa senang, malah bersikap dingin begini?!"
"Siapa yang tidak mendatangi lagi saya pada sore hari itu?! Membiarkan saya sampai larut malam di depan gerbang rumah Sofie?!" Marisa bertanya dengan menaikan kedua belah alisnya.
"Masalah itu? Saya minta maaf"
"Lalu siapa juga yang kemarin seharian tidak ada menghubungi saya?!"
"Tunggu, Marisa. Dengar dulu penjelasan saya! Saya sudah berusaha untuk menghubungi kamu siang kemarin! Tapi kamu tidak mengangkat telepon dari saya!"
"Kan kamu sedang bersama keluarga Sofie!"
"Bukannya kamu yang sedang asyik bersama adik saya?!"
"Jangan memutar balikan fakta! Saya dan Andro sudah selesai!"
"Oke, kalau begitu izinkan saya melanjutkan penjelasan saya! Sepulang dari pemakaman Sofie, HP saya terjatuh kedalam WC! HP nya mati dan sekarang sedang berada di counter! Kalau kamu tidak percaya, saya akan membawa kamu kesana sekarang untuk mengambil HP itu!"
__ADS_1
Marisa langsung mengerti. "Oh, jadi seperti itu?! Saya kira kamu sudah mulai melupakan saya dan merasa menyesal karena telah meminta saya untuk jadi kekasih kamu"
Indra mendekat. "Saya tidak akan bisa melupakan kamu! Tidak akan pernah bisa! Saya sudah beribu kali berusaha untuk melupakan kamu. Tapi nyatanya kamu malah masuk semakin dalam kedalam hati saya, Marisa Larasati!"
Indra terus bergerak mendekat dan Marisa malah bergerak mundur. Akhirnya Marisa yang membentur tembok di belakangnya hingga gadis itu tidak bisa mundur lagi! Tubuh keduanya kini berhadapan dengan sangat dekat. Nafas Indra terasa menghembus hangat di wajah Marisa, begitupun sebaliknya.
Marisa kini tidak bisa mundur lagi. Marisa terdiam saat Indra memegang dagunya dan mengangkatnya agar wajah mereka menjadi sejajar. Tanpa persetujuan Marisa, Indra bergerak cepat untuk melahap bibir gadis itu dengan penuh gairah. Indra bagai seseorang yang sedang kehausan dan kini menemukan air sehingga ingin meredakan dahaganya dengan sepuas-puasnya!
Tubuh Indra makin merapat ke tubuh Marisa yang sudah mentok ke tembok dibelakangnya. Dada Indra menekan dada Marisa. Bahkan Marisa mulai merasakan ada sesuatu yang sudah sangat keras menekan di perutnya. Membuat Marisa merasa merinding sendiri karena menyadari benda apakah yang sedang menekan perutnya itu!
"Hmph...! Hmph...!" Marisa tidak bisa bersuara karena bibirnya tersumbat oleh bibir Indra.
Marisa seolah-olah terkunci! Mundur sulit, maju pun tidak bisa! Yang bisa dilakukannya sekarang hanyalah pasrah pada ciuman Sang CEO yang panas dan buas!
Hingga akhirnya ciuman Indra merambat ke leher Marisa dan menimbulkan rasa geli dan nikmat yang membuat Marisa mendesah mesra tepat di telinga Indra.
"Ah... Ah... Indra...!"
"Saya sangat merindukan kamu, Marisa" bisik Indra di antara ciumannya yang bertubi-tubi di leher Marisa.
"Saya juga merindukan kamu, tapi jangan ciumi saya seperti ini! Akh...!!!" Marisa merasakan Indra mengigiti lehernya dengan gemas!
"Geli, sudah ah!"
Indra bukannya berhenti tapi malah mulai meraba-raba dada Marisa dengan nakalnya! Meremasi dengan gemas hingga Marisa menggelinjang karena geli, nikmat, dan sakit.
"Sakit, Indra! Sudah!" pekik Marisa.
"Saya suka buah dada kamu! Sangat kenyal dan padat!" bisik Indra.
"Saya bilang sudah! Nanti ada yang mendengar suara pekikan saya dan mengintip kegiatan kita!"
"Makanya kamu jangan berisik!"
"Mana mungkin saya tidak berisik! Ini sangat-sangat..." Marisa tidak menemukan kata yang tepat untuk mengisi kalimatnya.
__ADS_1
"Sangat-sangat apa?! Sangat-sangat nikmat?!" goda Indra seraya menaikkan intensitas gerakannya di dada Marisa. Malahan kini satu tangannya sudah bergerak kebawah tubuh Marisa dan meraba-raba pangkal paha Marisa.
"Sudah! Saya tidak mau kalau kita sampai di gerebek orang satu kampung!" sergah Marisa dan dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Indra.
Indra merasa kata-kata Marisa ada benarnya juga. Sudah banyak kejadian penggerebekan di kampung yang akhirnya akan membuat Indra malu dan menjatuhkan harga dirinya. Apalagi kalau sampai ada wartawan yang meliput!
Indra melepaskan pelukannya pada tubuh Marisa. "Oke, saya lepaskan kamu! Tapi saya akan melanjutkannya lagi di lain waktu! Saya belum selesai dengan tubuh kamu!" katanya dengan nada mengancam.
"Belum selesai bagaimana?! Kamu kan sudah janji tidak akan mengulangi lagi perbuatan yang saya tidak suka!" kata Marisa.
"Siapa tahu kan pada akhirnya kamu yang secara sukarela mau menyerahkan diri?!"
"Tidak akan pernah!"
"Marisa kenapa kamu sangat-sangat menggairahkan?! Bahkan saya kini sudah tidak bisa tertarik lagi pada tubuh wanita lain!"
"Gombal! Laki-laki seperti kamu akan bisa pindah ke lain body walaupun tidak bisa pindah ke lain hati!"
"Marisa, kamu boleh percaya atau tidak! Saya sudah dua kali melakukannya dengan wanita lain, tapi saya gagal!"
"Gagal bagaimana?" Marisa penasaran juga.
"Saya tidak bisa keluar. Tiba-tiba saya teringat pada kamu dan akhirnya saya merasa mual dengan tubuh yang sedang saya gagahi! Saya merasa gairah saya hilang saat itu juga!"
"Menjijikkan! Beraninya kamu mengingat saya saat sedang gituan sama orang lain!"
"Saya juga tidak tahu kenapa itu bisa terjadi!"
"Jangan-jangan sekarang kamu sudah lemah syahwat! Kamu tidak bisa melakukan hubungan badan dengan wanita manapun juga! Saat sedang melakukannya, tiba-tiba kamu kehilangan gairah dan loyo!"
Indra melotot! "Enak saja kamu bicara seperti itu! Waktu kita di puncak, saya sudah pernah melakukannya dengan meminjam bokong kamu! Saya bisa menuntaskannya!"
"Itu kan tidak benar-benar terjadi!"
"Jadi kamu mau saya benar-benar melakukannya?!"
__ADS_1
"Tidak seperti itu! Tapi ada baiknya kamu periksakan diri ke dokter! Saya tidak mau menikah dengan kamu kalau kamu lemah syahwat!"
Marisa hanya bercanda tentunya!