My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 203 : Ingin Melahirkan Secara Normal


__ADS_3

Bulan ini kandungan Marisa sudah memasuki usia sembilan bulan dan tinggal menunggu saat persalinan. Marisa sudah tidak boleh pergi kemana-mana dan hanya diam saja di rumah. Marisa juga sudah menyiapkan tas besar untuk dibawa ke rumah sakit jika sewaktu-waktu akan melahirkan.


Indra begitu protektif terhadap Marisa sehingga apapun yang di perlukan Marisa harus selalu di layani oleh semua asisten rumah tangga yang ada di rumah. Bahkan kalau bisa, Indra ingin Marisa terus berdiam diri didalam kamar dan tidak usah turun ke lantai bawah.


"Apakah tidak sebaiknya kamu melahirkan secara operasi Caesar saja? Jadi kita bisa memilih tanggal berapa kamu melahirkan" kata Indra suatu malam ketika mereka sedang beristirahat di atas ranjang.


"Aku mau melahirkan secara normal. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi ibu yang sesungguhnya" kata Marisa.


"Melahirkan secara Caesar juga kan tetap menjadikan kamu seorang ibu"


"Beda dong, Dra. Rasanya kurang lengkap. Didalam keluarga aku juga gak ada yang pernah melahirkan secara Caesar. Jadi pasti aku juga akan bisa melahirkan normal karena itu sudah jadi tradisi"


"Tapi kalau menunggu-nunggu seperti ini, saya jadi tidak tenang juga saat berada di kantor. Takutnya kamu tiba-tiba merasa mulas!"


"Kan kamu bisa segera pulang"


"Kamu ini susah sekali kalau di ajak bicara! Mau menang sendiri terus!"


Marisa mencium pipi Indra "Gak apa-apa kan, Dra? Lagipula aku kan ingin segera pulih pasca melahirkan. Jadi aku bisa total dalam merawat Dede bayi. Kalau secara Caesar, aku akan pulih lebih lama dan gak bisa segera beraktifitas karena luka bekas operasi"


"Betul juga sih..."


"Terus nantinya kita juga akan lebih lama lagi puasa berhubungan intim"


Indra menatap Marisa dengan tatapan khawatir. "Benarkah seperti itu?! Kalau operasi Caesar, kita tidak bisa segera melakukannya?"


"Iya, bisa sampai tiga bulan lamanya!"


"Wah! Mana bisa begitu!" Indra panik sekali. "Sekarang saja saya sudah sangat tersiksa karena sudah satu minggu tidak menikmati tubuh kamu!"


"Kalau kamu mau, kita masih bisa melakukannya sekarang kok!"


"Tidak ah! Saya ngeri melihat perut kamu yang sudah sembilan bulan ini" Indra mengelus-elus perut Marisa.

__ADS_1


"Iya sih, aku juga ngeri"


"Nanti saja setelah Dede bayinya lahir, kita baru akan lakukan lagi! Kapan kita bisa melakukannya lagi setelah kamu melahirkan?"


"Katanya sih empat puluh hari"


"Lama sekali..." Indra mengeluh sampai meraba celananya sendiri.


Marisa dengan nakal ikut memegang bagian celana Indra yang menonjol. Di pijat-pijat dan di remas-remas nya perlahan.


"Marisa...!" Indra mendesah.


Marisa makin berani dan menurunkan celana Indra serta mengeluarkan senjata milik Indra yang sudah menegang keras dengan sempurna.


"Kamu mau apa?"


"Diam saja..." Marisa mulai mengurut-urut senjata Indra dan perlahan-lahan melakukan gerakan mengocok sehingga membuat Indra mendesah nikmat.


Marisa menatap Indra dengan mesra dan mulai mendekatkan diri ke senjata Indra yang sedang di genggamnya dan tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada pemiliknya, Marisa memasukkan senjata Indra kedalam mulutnya dan langsung mengulumnya dengan lembut.


"Marisa...! Ahhhhh.....!!!!!" Indra menegang dengan wajah mendongak ke atas!


Marisa dengan lihai mengulum, menghisap dan menggerakkan kepalanya maju mundur sehingga membuat Indra merasa melayang di awang-awang! Indra belum pernah mendapatkan suatu kepuasan dengan cara seperti ini. Biasanya saat nafsunya sudah tidak bisa ditahan lagi, Indra akan segera memasukan senjatanya kedalam milik Marisa dan menggempurnya!


Tapi untuk saat ini sepertinya Indra harus menahan keinginannya untuk memasuki tubuh Marisa dan hanya menggunakan mulut Marisa saja sebagai pemuas hasratnya.


"Terus, Sayang! Hisap yang kuat...! Argh...!!! Iya! Seperti itu! Ugh... Nikmatnya! Ah... Kamu benar-benar luar biasa, Marisa!" Indra tidak hentinya mendesah panjang karena merasakan kenikmatan dari kelihaian mulut Marisa.


Hampir dua puluh menit Marisa memberikan servis lewat mulutnya dan membuat Indra sampai melejang-lejang bahkan hingga memekik tertahan! Akhirnya pertahanan Indra pun jebol juga! Semburan kepuasaan nya meledak-ledak dalam mulut Marisa dengan dahsyatnya.


"Arghhhh.....!!!!!" Indra menggeram hebat hingga tanpa sadar meremas rambut Marisa. Tapi Marisa tidak menghindar sedikitpun, malahan dengan cepatnya di telannya semua semburan hangat yang memenuhi mulutnya tanpa ada sisa sedikitpun!


Perlahan ketegangan tubuh Indra pun berangsur surut dan kini tinggal terdengar desah nafasnya yang memburu. Betapa pencapaian yang baru saja di rasakannya seolah-olah membuat tubuhnya terasa ringan dan melayang-layang.

__ADS_1


Marisa mengangkat wajahnya dan menatap Indra dengan senyuman nakal yang menggoda. "Bagaimana, Pak Indra Perdana? Anda sudah puas?" tanyanya.


"Kamu nakal tapi luar biasa hebat, Marisa! Kamu sempurna! Kamu bisa membuat saya puas hanya dengan mulut saja!" desis Indra gemas.


"Saya akan selalu jadi pemuas nafsu Anda, Pak Indra Perdana"


"Kamu tidak seharusnya melakukan hal itu. Kamu kan sedang hamil besar dan saya bisa memahami hal itu"


"Tapi Anda suka, kan?"


"Suka sekali! Sendi-sendi tubuh saya serasa lemas dan ringan... Bahkan kamu menelan semuanya tanpa sisa! Kamu benar-benar telah menjelma menjadi seorang wanita dewasa yang profesional dalam urusan ranjang! Padahal kamu begitu sulit saya dapatkan dulu!"


"Kan sekarang kita sudah halal! Saya tahu kalau saya harus jadi seorang wanita dewasa yang hebat dalam urusan ranjang agar kamu tidak berpaling dari saya"


"Bodoh kalau saya sampai berpaling dari kamu! Kamu seorang wanita yang tidak ada kekurangannya! Kamu sempurna dan luar biasa!" Indra mendekap erat Marisa ke dadanya dan menjatuhkan ciuman bertubi-tubi di kepala Marisa.


"Makasih ya, Indra" Marisa balas memeluk tubuh Indra.


"Saya sangat mencintai kamu, Marisa"


"Saya juga sangat mencintai kamu"


Indra pun mengajak Marisa untuk tidur. Malam itu Marisa tidur nyenyak dalam dekapan Indra. Marisa tidur nyenyak sekali hingga tidak sadar kalau Indra bangun lebih dulu dan pergi mandi pagi itu.


Saat Marisa terbangun, Marisa mendengar suara-suara di kamar mandi yang menandakan bahwa Indra sedang mandi. Dengan malas Marisa berusaha duduk di atas ranjangnya karena perutnya sudah semakin besar sehingga sangat terasa berat walaupun hanya untuk bangkit dari tempat tidur.


Saat itulah tiba-tiba Marisa merasakan ada semburan cairan hangat mengucur deras dari bagian bawah tubuhnya. Sangat deras hingga Marisa tidak bisa untuk menahannya dan di ikuti perutnya yang tiba-tiba terasa mulas!


Marisa memaksakan untuk turun dari ranjang. Perutnya terasa semakin sakit!


"Aduh!" pekik Marisa dan melihat ada cairan bening mengalir dari paha ke betisnya. "Ya Allah... Ketuban aku pecah!" Marisa tercekat dan segera berteriak memanggil Indra!


"Indra!!! Cepetan keluar, Dra! Aku pecah ketuban! Dra!!! Cepetan!!!"

__ADS_1


__ADS_2