
Marisa keluar dari kos-an dan mengunci pintunya. Ada Gery yang sedang mencuci motor di depan kos-annya. Gery hanya melirik sekilas ke arah Marisa dan melanjutkan kesibukannya. Marisa hanya bisa menghela nafas panjang karena paham kalau Gery masih marah.
"Marisa...!!! Ya Allah! Kemana aja Lo!" pekik Mbak Niki yang saat itu juga ada didepan rumahnya seusai menjemur pakaian. Mbak Niki menghambur memeluk Marisa dan mengguncangkan tubuhnya dengan keras.
"Ya Allah, Mbak! Sakit! Pelan-pelan!" pekik Marisa kesakitan.
Mbak Niki melepaskan pelukannya. "Kemana aja Lo?!" tanyanya lagi.
"Saya dari luar kota, urusan pekerjaan" jawab Marisa.
"Ah, masa..." Mbak Niki menatap julid ke arah Marisa. "Tapi si Gery udah kagak PKL, ah! Lo bohong ya?! Pasti pacar Lo, Pak Andro itu udah pulang dari Turki dan Lo dibawa liburan! Iya, kan?! Ngaku Lo!" serang Mbak Niki.
"Enggak seperti itu, Mbak. Saya memang kerja! Bukan sama Andro!"
"Ya bukan sama Andro, tapi sama Indra!" celetuk Gery.
Wajah Marisa langsung berubah pucat. Tidak menyangka kalau Gery bisa ikut julid juga!
"Indra?! Hah! Itu kan CEO utama di tempat kalian PKL?! Yang katanya kakaknya Andro! Wah wah wah!" Mbak Niki semangat sekali karena mendapat breaking news! "Gimana ceritanya Lo bisa pergi liburan sama Indra?; Trus Andro gimana? Ya Allah, Marisa! Lo ini serakah ya! Udah kenyang sama adiknya, Lo embargo juga kakaknya!"
"Ya kan Indra CEO utama, Mbak! Lebih kaya raya!" celetuk Gery lagi!
Mata Marisa mulai memerah.
Saat itulah mobil Andro muncul untuk menjemput Marisa. Andro turun dari mobil dan menghampiri Marisa yang mematung di depan rumah dengan wajah pucat.
"Assalamu'alaikum, Marisa. Ada apa? Kenapa kamu pucat seperti itu? Kamu sakit?" tanya Andro.
Marisa menggeleng lemah.
__ADS_1
"Pak Andro! Apakah benar menurut kabar yang beredar kalau sekarang Marisa jadian sama kakak Anda yang adalah CEO utama?" tanya Mbak Niki yang lagak nya persis seperti wartawan TV acara gosip.
Andro jadi melongo. "Mbak kata siapa?" tanyanya.
"Kata lambe Gery!" jawab Mbak Niki seraya mengerling ke arah Gery.
"Apaan sih?! Saya gak bilang apa-apa kok!" sangkal Gery tapi sambil nyengir.
"Tadi Lo bilang gitu!" kata Mbak Niki.
"Btw Pak Andro, ada apa Bapak pagi-pagi kesini? Jemput Marisa?" tanya Gery.
"Ya, saya dan Marisa akan menghadiri pemakaman Sofie" jawab Andro.
"Inalilahi wainalilahi roziun! Bu Sofie meninggal?! Ya Allah... Kasihan banget! Semoga Allah memberi tempat yang baik dan menerangkan alam kuburnya dan mengampuni dosa-dosanya" ucap Gery ikut bersedih.
"Siapa tuh, Bu Sofie?" tanya Mbak Niki kepo.
"Wah wah wah! Jangan-jangan Bu Sofie itu meninggal karena sakit hati karena Marisa merebut tunangannya!" kata Mbak Niki.
"Bisa jadi!" tambah Gery.
"Ndro, kita bisa pergi sekarang?" tanya Marisa dengan suara bergetar menahan tangis.
"Sudah! Sudah! Mbak Niki dan Gery jangan gibah! Dosa tahu! Apalagi kalau gibahin orang yang sudah meninggal!" kata Andro.
"Kita bukan gibah! Kita prihatin!" kata Mbak Niki.
"Trus kenapa Bapak sekarang berangkat kesana sama Marisa? Apa gak akan marah tuh Pak Indra yang arogan?" kata Gery.
__ADS_1
"Indra sudah tahu kalau saya akan pergi bersama Marisa. Kalau begitu saya berangkat dulu ya, Assalamu'alaikum" pamit Andro dan segera membuka pintu mobilnya untuk Marisa.
"Wa'alaikum salam" kata Mbak Niki dan Gery.
Marisa segera masuk kedalam mobil Andro.
"Yaelah! Masih di bukain pintu segala, Pak!" celetuk Mbak Niki.
"Sudah menjadi kebiasaan sih" kata Andro seraya tersenyum pahit dan segera ikut masuk juga kedalam mobilnya.
Didalam mobil, ternyata Marisa sudah tidak mampu lagi menahan air matanya. Kata-kata Mbak Niki dan Gery tadi sangat menyinggung hati Marisa. Mbak Niki julid, Marisa sudah biasa. Tapi kali ini Gery juga ikutan julid. Marisa benar-benar merasa sedih. Kalau dulu, justru Gery yang selalu membela Marisa kalau Mbak Niki mulai julid.
Andro sendiri paham perasaan Marisa, maka Andro segera menarik satu lembar tisu untuk kemudian di serahkan kepada Marisa. "Nih, usap air mata kamu. Jangan menangis lagi. Saya kan sudah bilang kemarin, kamu tidak boleh menangis lagi, karena saya tidak akan bisa memeluk untuk meredakan tangis kamu atau sekedar membelai pipi kamu untuk menyeka air mata yang kamu teteskan. Walaupun sesungguhnya saya saat ini merasa sedih sekali melihat kamu menangis seperti itu. Saya tidak bisa melihat gadis yang saya cintai meneteskan air mata" kata Andro.
Parahnya air mata Marisa justru tambah deras mengalir. Marisa terenyuh dengan kebaikan Andro yang tidak pernah berubah. Andro begitu perduli akan perasaan Marisa. Padahal Marisa sendiri tidak pernah perduli apakah Andro akan bersedih jika Marisa memilih Indra. Buktinya Marisa tega memilih Indra walaupun harus mengorbankan hati Andro.
"Lho kok kamu malah tambah menangis? Saya harus berbuat apa sekarang?" kata Andro lagi.
Marisa mati-matian menghentikan tangisannya. Marisa tidak tega jika harus menambah beban di hati Andro karena tangisannya. "Baiklah, saya tidak akan menangis lagi. Saya akan berusaha untuk kuat. Setidaknya didepan kamu" kata Marisa.
"Kalau Indra tahu kamu menangis, pasti dia juga akan memeluk kamu untuk menenangkan perasaan kamu. Tapi saat ini Indra sedang tidak ada di sisi kamu. Jadi kamu jangan menangis, karena saya tidak berhak lagi untuk menyentuh kamu"
Marisa teringat saat-saat dulu bersama Andro, dimana Indra kerap kali mencoba untuk mendekatinya walaupun saat itu Marisa adalah pacar Andro. Indra bahkan beberapa kali mencuri kesempatan untuk memeluk dan mencium Marisa.
Tapi kini saat Marisa sudah menjadi milik Indra, justru Andro berlaku sopan dan tidak berani untuk menyentuh Marisa sedikitpun. Andro benar-benar baik hati dan tulus. Lalu kenapa Marisa tidak bisa mencintai Andro?! Marisa malah jatuh cinta pada Indra yang selalu menyakiti hatinya sejak pertama kali mereka bertemu.
Akhirnya Marisa dan Andro sampai di daerah Tanggerang Selatan dimana Sofie akan di makamkan. Suasana disana sudah ramai karena cukup banyak juga orang yang mengantarkan Sofie ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
"Sudah sampai, ayo kita turun" kata Andro.
__ADS_1
Marisa dan Andro pun turun dari mobil dan mendekati area pemakaman dimana saat itu sedang di laksanakan prosesi pemakaman Sofie. Saat itu jasad Sofie sedang di timbun dengan tanah. Marisa kembali merasa sedih dan bersalah kepada Sofie. Marisa juga dapat melihat ada Indra disana, berjajar di antara para keluarga Sofie.
Indra yang adalah kekasih Marisa ada disana, mengikuti prosesi pemakaman Sofie yang adalah bekas tunangannya. Sadarlah Marisa kalau saat ini dia tidak sedang memiliki Indra.