My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 137 : Di Rumah Sofie


__ADS_3

Indra sedang dalam perjalanan pulang ke Jakarta saat Mama Renata meneleponnya dan mengabarkan bahwa Sofie telah meninggal. Saat itu Indra menaiki mobil yang di sewanya secara online untuk mengantarkannya pulang ke Jakarta.


"Halo, Mam" sapa Indra.


Terdengar suara isakan Mama sebelum akhirnya Mama menceritakan tentang kematian Sofie. "Sofie sudah meninggal, Dra... Baru saja..."


"Inalilahi wainalilahi roziun" ucap Indra.


"Sekarang kamu ada dimana, Dra?" terdengar lagi suara Mama bertanya.


"Di perjalanan, Mam" jawab Indra.


"Segera kesini, Dra. Sofie disemayamkan di rumahnya. Besok akan di lakukan prosesi pemakamannya"


"Iya, saya langsung kesana sekarang"


"Iya, Mama dan Andro tunggu ya"


"Ya, Mam" Indra menutup teleponnya dan menatap Marisa.


"Ada apa, Dra? Apakah Bu Sofie kritis?" tanya Marisa.


"Sofie sudah meninggal" jawab Indra.


"Ya Allah... Inalilahi wainalilahi roziun..." Marisa meneteskan air mata. Marisa merasa sangat bersalah atas kematian Sofie. Sofie meminta Marisa untuk membantu agar Indra mau kembali, tapi kenyataannya sekarang Marisa malah bersama Indra.


"Sudah, jangan menangis. Ini sudah menjadi takdir yang telah Allah berikan" kata Indra seraya merangkul bahu Marisa.


"Saya merasa tidak enak. Saya merasa bersalah kepada Bu Sofie" air mata Marisa semakin deras mengalir.


Indra mengusap air mata yang menetes di pipi Marisa. "Kamu ini kenapa sih senang sekali menangis? Apakah kamu di ciptakan dari air? Kenapa juga kamu harus merasa bersalah?"


"Saya pernah di minta oleh Bu Sofie untuk resign dari Perdana Enterprise agar kamu bisa kembali bersamanya. Tapi sekarang saya malah bersama kamu. Apakah saya tidak merebut kamu dari tangannya?"


"Tidak! Saya yang meminta kamu untuk bersama saya! Perasaan cinta yang kita berdua rasakan bukankah satu kesalahan. Lagipula saya dan Sofie belum menikah. Kami belum terikat janji apapun"


Indra meminta agar sopir taksi online mengantarkannya ke rumah Sofie, bukan ke rumah sakit karena menurut Mama, Sofie akan di semayamkan di rumahnya.


Sepanjang perjalanan Marisa tidak bisa tenang. Marisa terus menangis tanpa bisa di hentikan oleh Indra.


Hingga akhirnya mereka tiba didepan rumah Sofie dan terlihat disana sudah banyak orang-orang yang bertakziah dan ada beberapa bendera kuning di depan gerbang rumah Sofie.

__ADS_1


"Kita turun sekarang, Mar" kata Indra.


"Kamu duluan saja. Saya nanti menyusul" kata Marisa.


"Kenapa?" tanya Indra.


"Saya tidak mau masuk berbarengan dengan kamu. Tidak enak pada keluarga Sofie kalau kita muncul bersama" jawab Marisa.


"Ya, saya mengerti" Indra turun dari mobil dan Marisa ikut keluar tapi saat Indra melangkah masuk kedalam gerbang rumah Sofie, Marisa tidak langsung mengikutinya.


Indra tiba di depan pintu utama rumah Sofie dan bertemu dengan Mama Renata dan juga keluarga Sofie. Andro juga tampak ada disana.


"Indra!" seru Mama Renata dan segera menghampiri Indra untuk memeluk anaknya yang selama beberapa meninggalkan rumah.


"Mama, maaf saya baru bisa pulang sekarang" kata Indra.


Mama melepaskan pelukannya dan menatap Indra. "Kamu baik-baik saja kan, Dra?"


"Jujur, keadaan saya kurang baik. Nanti saya akan ceritakan semuanya pada Mama" Indra kemudian menemui seluruh keluarga Sofie yang ada disana dan mengucapkan belasungkawa.


Dan akhirnya Indra bertemu dengan Andro. Adik kandung yang menjadi saingan beratnya dalam memperebutkan Marisa.


Andro yang adalah kekasih Marisa tapi kini telah berhasil di rebut oleh Indra.


"Hai. Hai apa kabar kamu, Dra?" balas Andro.


"Saya baik-baik saja"


"Kalau baik-baik saja, kenapa kamu tidak pernah mau menerima telepon ataupun pesan WA dari saya?"


"Saya akan menjelaskan semuanya kepada kamu, tapi tidak untuk sekarang"


"Ya, saya tahu. Sekarang sebaiknya kamu lihat Sofie untuk yang terakhir kalinya"


Indre mendekati tubuh Sofie yang sudah kaku dan terbungkus kain penutup jenasah. Indra tidak sampai hati untuk membuka kain penutup itu untuk sekedar melihat wajah Sofie untuk yang terakhir kalinya. Indra merasa sedih tapi tidak sampai menangis. Bagaimanapun Sofie selama beberapa tahun sudah menjadi bagian dari hidup Indra walaupun Sofie tidak pernah bisa memiliki hati Indra.


Indra hanya merunduk dan berbisik kepada jenasah Sofie. "Maafkan saya, Sofie. Semoga kamu tenang di alam sana dan mengikhlaskan saya untuk bersama Marisa"


Indra kembali berdiri di samping Mama dan Andro. "Mam, saya mau pulang" bisik Indra.


"Sebenar lagi, Dra! Mama mau ikut pengajian untuk Sofie setelah Maghrib" kata Mama.

__ADS_1


"Tapi saya capek. Saya ingin istirahat. Kalau begitu saya pulang duluan"


"Tidak, Dra! Kamu baru datang dan harus tetap berada disini! Kamu akan ikut pengajian dan pulang bersama Mama dan Andro!"


"Tapi, Mam"


"Tidak ada tapi-tapian! Kamu harus berempati! Sofie itu tunangan kamu!"


"Kami sudah putus"


"Keluarga Sofie tidak tahu masalah itu! Tolong kamu bertahan disini! Demi Mama! Mama tidak mau kamu di cap sebagai pria yang tidak bertanggung jawab!"


"Ya, oke!" akhirnya Indra mengalah dan terpaksa berdiam di samping Mama. Dalam hatinya Indra merasa khawatir karena Marisa masih ada diluar sana. Indra takut kesempatan ini di pergunakan Andro untuk bertemu dengan Marisa.


Sementara itu, Andro juga ingin sekali menanyakan kepada Indra tentang Marisa. Tapi Andro tahu kalau Indra pasti tidak akan memberi tahunya. Andro memutuskan untuk mencari Marisa sendiri. Mumpung Indra masih harus berada disini.


Indra menghampiri Mama dan mohon izin untuk pulang duluan. Mama pun mengizinkan Andro. Tapi Indra yakin jadi panik dan melarang Andro untuk pulang.


"Tidak, kamu tidak boleh pulang! Kamu harus tetap berada disini! Bersama Mama dan saya!" hardik Indra!


"Lho, kenapa? Saya sudah dari tadi berada disini! Bahkan sejak dari rumah sakit!" kata Andro.


"Sebentar lagi akan di mulai acara pengajian nya!"


"Saya tidak akan ikut. Saya capek dan akan pulang duluan"


"Indra, biarkan Andro pulang dan kamu yang harus tetap berada disini!" kata Mama dan Indra tidak bisa melawan kata-kata Mama. Akhirnya terpaksa Indra membiarkan Andro pulang duluan walaupun dengan hati yang ketar-ketir. Takut Andro bertemu dengan Marisa.


"Mam, saya khawatir Andro bertemu dengan Marisa" bisik Indra setelah Andro pergi.


"Marisa? Memangnya Marisa ada disini?" tanya Mama.


"Marisa masih diluar"


"Ya ampun, Indra! Kenapa kamu tidak ajak Marisa masuk? Mama kira Marisa sudah kamu antarkan pulang!"


"Saya langsung kesini sesuai perintah Mama"


"Kalau begitu Mama akan kirim pesan kepada Andro dan minta Andro untuk mengantarkan Marisa pulang"


"Aduh! Jangan dong, Mam!"

__ADS_1


"Lho, kamu tega membiarkan Marisa diluar sampai larut malam?! Biarkan Andro bertemu Marisa dan mengantarkan Marisa pulang! Kamu jangan khawatir! Kalau Marisa benar-benar memilih kamu, dia tidak akan kembali kepada Andro!"


__ADS_2