My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 8 : Penyelidikan Atas Marisa


__ADS_3

Rabu pagi Marisa bekerja sendiri di ruangannya karena Indra ada jadwal fitnes. Marisa merasa ada yang hilang karena selama dua hari ini selalu bersama Indra dalam satu ruangan.


Marisa sibuk menyiapkan berkas dan agenda untuk metting siang ini bersama para kepala bagian di Perdana Enterprise. Pukul 10 siang Marisa sudah menyelesaikan pekerjaannya.


Marisa merenggangkan kedua tangannya untuk meredakan rasa pegal akibat terlalu lama membungkuk lalu mengusap kedua lengannya yang terasa merinding.


"Kenapa bulu-bulu dilengan ku berdiri semua?! Katanya kalau bulu-bulu lengan berdiri, artinya ada makhluk tak kasat mata di sekitar kita!" Marisa tercekat lalu merasa konyol. "Ah! Mana mungkin! Hawa diruangan ini memang terasa sangat dingin! Jauh dengan ruangan yang lainnya." batin Marisa.


Marisa bangkit berdiri untuk mengambil air minum di dispenser air. Sambil meneguk air, dia memperhatikan seantero ruangan CEO itu. Benar-benar rapi dan bersih! Apalagi meja kerja Indra Perdana! Benda-benda disana tidak ada yang berserakan ataupun berantakan. Semuanya tersusun rapi pada tempatnya.


Tiba-tiba Marisa teringat akan Pak Indra yang sudah bertunangan. "By the way, katanya Pak Indra udah punya tunangan? Kok gak ada foto berbingkai di meja kerjanya, ya?" fikir Marisa "Kan biasanya di meja kerja itu ada foto orang yang kita sayangi.


"Aku juga kalau boleh pengen majang foto Fero di atas meja kerja ku. Tapi pasti Pak Indra gak bakal ngizinin! Padahal kan enak kalau lagi gabut bisa mandangin foto Fero." batin Marisa.


Marisa lalu berinisiatif untuk melihat Gery di bagian gudang. Seperti apa kiranya pekerjaan Gery sehari-hari. Lagipula sebentar lagi jam makan siang.


Marisa pun keluar dari ruangan dan menuju bagian gudang di belakang gedung lantai dasar. Disana ia melihat bagaimana beratnya pekerjaan Gery. Memindahkan barang-barang berat ke truk kontainer.


Peluh membasahi wajah Gery yang tampak semakin gelap berkilat saat dia menghampiri Marisa. "Halo Mar! Tumben kamu kesini," sapa Gery.


"Iya, aku udah selesai kerja. Kita makan siang yuk?!" ajak Marisa.


"Oke, aku cuci muka dulu, ya?"


"Kasihan kamu, Ger! Kerja kamu berat banget,"


"Namanya juga laki-laki, Mar."


"Sini aku usap dulu keringat kamu," Marisa mengeluarkan satu tisu basah dari tasnya lalu dipakai untuk mengusap wajah Gery. Marisa memekik saat melihat tisu basah di tangannya berubah warna dari putih bersih menjadi kusam. "Ih..! Tuh lihat kotor banget wajah kamu!"


"Iya, hehe!"


Tanpa Marisa ketahui saat itu gerak-geriknya sedang dipantau oleh Herman dan direkam melalui HP. Juga saat Fero menjemputnya sore hari.


Seperti yang diceritakan sebelumnya Herman memang ditugaskan oleh Indra untuk memantau seluruh gerak-gerik Marisa.


*******


Saat keduanya bertemu sore hari, Herman menyerahkan laporannya tentang kegiatan Marisa hari itu pada Indra. "Saya sudah menyelidiki asisten pribadi Bapak seharian ini! Dan ini adalah hasilnya," ujar Herman.

__ADS_1


Indra mengambil HP Herman dan melihat sekilas isinya. "Kamu kirim saja ke HP saya! Nanti saya yang akan melihatnya sendiri di rumah!" titah Indra.


"Baik Pak!"


"Pantau terus gerak-gerik Marisa! Kalau ada hal lain yang bisa kamu dapatkan, kamu segera kirim saja ke HP saya!"


"Baik Pak! Tapi kalau boleh saya tahu, apa motif Bapak mengawasi gerak-gerik asisten pribadi Bapak itu?" tanya Herman penuh rasa ingin tahu.


"Bagaimanapun dia adalah anak baru di perusahaan saya. Posisinya saat ini juga bukan main-main! Asisten pribadi! Saya tidak mau ambil resiko kalau ternyata dia bisa merugikan perusahaan saya!"


"Oh, begitu. Baiklah! Saya akan terus pantau gerak-gerik Marisa!" kata Herman, namun hatinya membatin, "Ah, dasar aja Pak Indra kepo karena asisten pribadinya cantik banget kayak model!"


Indra Perdana malam itu coba menyelidiki tentang Marisa lewat Instagram pribadinya. Banyak foto-foto Marisa bersama Fero, bersama Gery, juga saat sedang sendiri.


Indra juga meneliti berkas Marisa yang beberapa hari lalu dia tolak untuk memeriksanya karena menganggap itu hanya buang-buang waktu.


"Kamu cantik, Marisa..." desah Indra sendiri. "Sayang kalau wanita secantik kamu akrab dengan dua cowok yang tidak jelas masa depannya seperti ini!"


Indra melihat juga lewat video yang di kirim Herman melalui WA. Disana jelas terlihat bagaimana keakraban Marisa dengan Gery saat Marisa mengusap wajah Gery dengan tisu, juga saat Marisa pulang kantor di jemput Fero sore harinya.


"Masih kecil, sudah berani bergaul sedekat ini dengan cowok! Dilihat dari berkas lamarannya, Marisa juga berdomisili di Bogor. Itu artinya dia bukan orang Bekasi!


"Sepertinya aku harus menyelidiki lebih jauh tentang Marisa sampai ke tempat tinggalnya-bukan hanya di area perkantoran! Kalau memang dia tinggal sendiri di kosan atau di kontrakan, mungkin aku bisa menyuruhnya agar dia pindah ke salah satu apartemenku." pikir Indra.


"Bagaimanapun dia sekarang adalah asisten pribadiku. Aku tidak mau punya seorang asisten pribadi yang tinggal di kosan apalagi kosannya itu mudah di masuki sembarangan laki-laki!"


*******


Keesokan paginya Indra sudah hadir di kantor dan disana sudah ada Marisa yang sibuk dengan pekerjaannya.


Marisa tampak terkejut melihat Indra. "Selamat pagi, Pak Indra!" sapa Marisa.


"Pagi!" jawab Indra singkat.


"Bukannya Bapak hari ini ada jadwal fitnes?" tanya Marisa.


"Saya mau jemput kamu, saya mau kamu menemani saya fitnes hari ini!"


Marisa terbelalak. "Eh-ikut ke tempat fitnes Bapak?"

__ADS_1


"Iya, kamu kan asisten pribadi saya!"


"Tapi saya pakai baju kantoran, Pak,"


"Kita mampir dulu ke toko olahraga dan kita beli baju olahraga untuk kamu!"


"Baik Pak." jawab Marisa patuh walau dalam hatinya masih bertanya-tanya. Mau apa dia ikut ke tempat fitnes Indra hari ini?


"Ayo ikut saya! Kita pergi sekarang!" Indra melangkah terlebih dahulu di ikuti Marisa. Sampai diluar ruangan mereka bertemu dengan Bella.


"Bapak mau kemana? Bukannya ada jadwal fitnes hari ini?" tanya Bella.


"Saya memang akan pergi ke tempat fitnes! Tapi saya akan membawa Marisa!" jawab Indra.


"Oh iya, Pak!" kata Bella seraya tersenyum penuh arti ke arah Marisa, tapi Marisa tidak peka.


Di lantai bawah pun banyak orang kantor memperhatikan CEO mereka, Indra Perdana yang berjalan bersama asisten pribadi barunya yang cantik.


Beberapa karyawan mulai berbisik-bisik karena tidak biasanya seorang Indra Perdana muncul pagi hari di hari Kamis karena semua sudah tahu kalau hari itu adalah jadwal pribadinya.


Tapi hari ini Indra Perdana muncul di kantor dan membawa asisten pribadinya yang baru-keluar kantor.


"Bukannya hari ini Pak Indra ada jadwal fitnes, ya?" tanya seorang karyawan wanita namanya Kayla.


"Iya, kan udah jadwal pribadinya." kata yang lainnya, namanya Indah.


"Gak ada metting diluar kantor kan hari ini?"


"Gak ada, lah! Pak Indra anti metting diluar kantor pada hari Rabu dan Kamis!"


"Terus, mau dibawa kemana asisten pribadinya yang baru itu?! Jangan-jangan dibawa ke tempat fitnes dan langsung check in!" Kayla mulai berprasangka buruk.


"Hus! Jangan asal ngomong kamu, Kay!" tukas Indah.


"Terus, kalau bukan karena mau berduaan, ngapain pagi-pagi Pak Indra sampai datang kesini untuk bawa dia keluar kantor?!"


"Bisa jadi sih... Dia kan anak PKL-an. Pasti butuh rekomendasi bagus dari Pak Indra!"


"Dan biasanya cewek kayak gitu mau melakukan apa aja buat dapet apa yang dia mau! Termasuk melelang harga diri!"

__ADS_1


__ADS_2