My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 106 : Saat-saat Genting


__ADS_3

Indra sudah minum bergelas-gelas minuman keras yang memabukkan malam itu. Tapi suasana hatinya bukannya membaik melainkan menjadi semakin buruk. Indra malah semakin merasa kehilangan Marisa. Bahkan Indra tak hentinya merutuki dirinya sendiri kenapa tidak berterus terang saja kalau dia sudah jatuh cinta pada Marisa.


"Kenapa saya tidak berterus terang saja kepada Marisa kalau saya sebenarnya sangat mencintainya?! Saya belum tentu bisa bersama dia lagi seperti tadi siang! Apalagi kalau Andro sudah kembali nanti! Setidaknya walaupun Marisa tidak menerima perasaan cinta ini, dia bisa mengetahuinya. Itu saja sudah cukup!" batin Indra sedih.


Akhirnya karena kepalanya sudah terasa berputar-putar, Indra memutuskan untuk pulang ke rumah. Kalau di teruskan minum-minum disini, yang ada Indra akan terkapar tak sadarkan diri karena mabuk berat dan tidak bisa kembali ke rumah.


Dengan terhuyung-huyung Indra menuju pelataran parkir di depan bar itu untuk menemukan mobilnya yang terparkir disana. Dengan agak kesulitan akhirnya Indra berhasil menemukan mobilnya.


Indra merogoh saku jas nya dan meraih kunci mobilnya. Tapi sebelum Indra memasukan kunci mobil itu kedalam lubangnya, Indra di kejutkan dengan sebuah tepukan keras di bahunya.


Indra menoleh dan melihat sesosok tubuh tinggi tegap dan berpenutup wajah berdiri tepat di belakangnya. Dari balik penutup wajahnya, terlihat ada sorot mata yang berkilat menyeramkan!


"Siapa Anda?!" bentak Indra dengan suara parau dan tubuh yang masih terhuyung.


"Malaikat maut!" jawab sosok itu singkat dan dengan cepat menyarangkan satu pukulan keras tepat ke wajah Indra!


'Buk!'


Indra mengaduh kesakitan dan jatuh terjerembab! Dengan sekuat tenaga Indra mencoba untuk bangkit berdiri tapi pukulan demi pukulan menghantam wajah dan tubuhnya.


Kalau saja saat ini Indra tidak dalam keadaan mabuk berat, mungkin Indra bisa melawan sosok orang yang memukulinya. Tapi saat ini keadaan Indra sangat payah. Jangankan untuk melawan, untuk berdiri tegak saja, Indra sudah tidak mampu!

__ADS_1


Indra terkapar lemah dengan wajah yang babak belur. Dengan sudut bibir dan pelipis sobek yang mengucurkan darah segar! Sementara sosok orang yang memukulinya kini berdiri sambil menginjakan kaki di atas dada Indra!


"Bedebah! Singkirkan kaki kamu dari atas dada saya!" teriak Indra! Dalam keadaan genting seperti itu Indra masih merasa gengsi dan terhina atas perlakuan orang tersebut kepada dirinya!


"Hahahaha! Anda menginginkan saya menyingkirkan kaki dari atas dada Anda?! Malahan harusnya kaki saya ini berada di atas kepala anda! Dasar CEO arogan busuk! Sudah mau mati masih besar nyali!" geram sosok itu!


"Apa mau kamu?! Siapa kamu?!" bentak Indra.


"Saya adalah malaikat maut yang akan mencabut nyawa Anda! Hahahaha! Mana seorang Indra Perdana yang terhormat dan berkuasa?! Yang bahkan hukum pun tidak bisa menyentuhnya! Sekarang Anda hanyalah seekor kutu busuk yang menjijikkan dan terhina di ujung kaki saya?!"


'Dug!' sosok itu menendang keras dada Indra hingga Indra mengaduh kesakitan dan kembali memuntahkan darah segar dari mulutnya!


"Minta ampun sekarang juga pada sang pemilik kehidupan! Anda selama ini berbuat seenaknya seolah-olah Anda akan hidup selamanya di dunia! Kematian saat ini sudah sangat dekat dengan Anda! Maut sedang mengintai dan siap memangsa Anda!" gertak sosok itu!


"Coba Anda ingat-ingat lagi, kepada siapa Anda telah melakukan banyak kedzaliman dan kejahatan! Anda kini sudah tidak bisa mendatangi mereka satu persatu, orang yang telah anda dzalimi untuk sekedar meminta maaf!" sosok itu kembali mengingatkan Indra pada kesalahan-kesalahan nya!


"Ya Allah... Kalau saya memang harus mati saat ini juga, saya tidak bisa menolak. Tapi seandainya saja Kau memberikan kesempatan saya untuk selamat dan bisa melewati ini semua... Saya ingin bisa Kau pertemukan dulu dengan Marisa... Tolong ya Allah... Saya sangat mencintai Marisa... Saya punya banyak kesalahan kepadanya. Saya tidak bisa hidup tenang kalau belum meminta maaf pada Marisa..." batin Indra. Di saat-saat seperti ini Indra masih teringat pada Marisa.


Indra juga teringat pada Mama nya. "Mama... Maafkan Indra... Kalau Indra pergi saat ini... Indra gak bisa jaga Mama lagi dan Andro lagi..."


Lalu Indra ingat pada Andro.

__ADS_1


"Maafkan aku, Ndro... Aku belum bisa jadi Kakak yang baik buat kamu. Saya selalu mengambil hak-hak kamu dan tidak pernah mau mendengarkan kamu. Saya selalu menganggap kamu tidak lebih baik dari saya... Dan bahkan saya menginginkan gadis yang kamu miliki... Marisa..."


Selanjutnya Indra tidak bisa mengingat apa-apa lagi. Karena sekujur tubuh kembali merasakan sakit akibat dari tendangan-tendangan yang di lancarkan oleh sosok itu.


"Ampun... Sakit... Jangan siksa saya lagi..." ratap Indra dengan perasaan sangat tersiksa. Kalau saja bisa, rasanya Indra ingin mati saja daripada harus merasakan siksaan seberat ini!


"Hahahaha! Ini tidak seberapa, Indra Perdana! Di alam kubur sana keadaannya akan lebih sakit lagi! Dan Anda tidak akan bisa memohon ampun lagi! Anda hanya akan bisa menjerit dan menjerit!"


"Saya mohon... Ampuni saya..." suara Indra sudah terdengar semakin lemah. Darah sudah membasahi seluruh wajahnya bahkan mengalir ke sekitar tempatnya terkapar.


"Hahahaha! Baiklah! Saya akan meringankan penderitaan anda! Sekarang bersiaplah untuk menerima kematian dan mempertanggung jawabkan apa yang telah Anda lakukan di dunia! Anda juga tidak akan bisa bertemu Mama dan adik Anda! Juga wanita yang sangat anda cintai, Marisa!"


"Marisa? Dia menyebut nama Marisa! Siapa dia sebenarnya?!" pikir Indra diantara kesadaran yang sudah semakin hilang...


Saat itulah seseorang berlari tergesa-gesa dan sampai di tempat dimana Indra terkapar! Seorang gadis cantik berambut panjang dan bertubuh semampai, Marisa!


Marisa terpekik saat melihat bagaimana keadaan Indra yang terkapar berlumuran darah dengan adanya sesosok tubuh tinggi besar yang memakai penutup kepala sehingga wajahnya tidak bisa di kenali.


"Hentikan! Apa yang kamu lakukan! Kenapa kamu menyiksa Pak Indra sampai seperti ini? Lepaskan!!!" teriak Marisa.


"Hahahaha! Sosok itu malahan tertawa terbahak-bahak melihat Marisa yang datang untuk menolong Indra.

__ADS_1


Saat itu Fero juga sudah muncul dan berdiri di samping Marisa. Bahkan Fero mengepalkan tangannya untuk berjaga-jaga kalau ada kemungkinan duel dengan sosok yang telah menyiksa Indra.


"Hahahaha! Untuk apa kalian berdua repot-repot datang kemari untuk menyelamatkan Indra?! Percuma saja! Indra adalah seorang yang tidak akan menghargai pertolongan dari siapapun! Dia tidak punya rasa berterima kasih! Sebaiknya sekarang kalian pergi! Biarkan Indra menjemput ajal nya sendirian!"


__ADS_2