
Dari seorang karyawan magang yang sedang menjalani praktek kerja lapangan sebagai asisten pribadi, kini Marisa Larasati menjadi calon istri dari seorang CEO tampan dan kaya raya.
Seperti Cinderella yang akhirnya berjodoh dengan Sang pangeran tampan. Marisa benar-benar di manjakan oleh Indra. Apapun yang Marisa inginkan pasti akan di berikan oleh Indra, bahkan Indra selalu membanjiri calon istri nya itu dengan segala bentuk kemewahan walaupun Marisa tidak memintanya.
Indra sangat mencintai Marisa walaupun Indra tidak bisa sepenuhnya melepaskan sifat arogan nya. Tapi Indra kini sudah lebih banyak bersabar dan tidak cepat marah-marah.
Satu Minggu setelah acara wisuda di kampus Marisa, Indra bersama Mama Renata datang langsung ke Bogor untuk melamar Marisa kepada keluarganya. Andro tidak ikut karena masih berada di Italia.
Keluarga Marisa pun dengan senang hati menerima lamaran dari keluarga Perdana Tanggal pernikahan Marisa dan Indra pun sudah di tentukan di tanggal cantik dan berlangsung di pulau Bali. Selanjutnya Indra akan berbulan madu di pulau Dewata itu selama satu Minggu.
Mulailah Mama Renata yang sibuk berkordinasi dengan wedding organizer untuk mempersiapkan acara pernikahan Indra dan Marisa. Tidak lupa Mama Renata juga selalu rajin menghubungi Mama Marisa agar acara bisa berlangsung lancar sesuai keinginan kedua belah pihak.
Mama Marisa ingin akad pernikahan di gelar dengan adat Sunda di pagi hari dan Mama Renata ingin acara resepsi dengan gaya internasional di gelar sorenya.
Marisa sendiri menyerahkan semua acara pernikahan kepada orang tuanya. Marisa tidak mau ribet untuk ikut mengurus semuanya. Marisa hanya di minta untuk menemui designer kondang bersama Indra untuk mencari gaun pengantin dan juga memilih cincin pernikahan dan seperangkat perhiasan emas putih bertahtakan berlian yang di rancang khusus oleh toko perhiasan di Paris yang adalah sahabat dari Mama Renata.
Marisa juga hanya di minta untuk pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya sebagai syarat untuk membuat surat-surat pelengkap pernikahan dengan Indra.
"Akhirnya, kita akan menikah juga ya Sayang" bisik Indra mesra saat sedang bersama Marisa di rumah kontrakan Marisa pada malam hari itu. Indra memeluk Marisa dari belakang di atas sofa saat mereka berdua bersantai di ruang TV.
"Iya, Alhamdulillah" kata Marisa.
"Kamu bahagia?"
"Tentu saja"
"Saya tidak akan pernah menyakiti kamu lagi! Saya akan selalu berusaha agar kamu selalu bahagia!"
__ADS_1
"Benarkah?!"
"Iya! Seperti ini" Marisa meraba buah dada Marisa dari arah belakang dan meremasnya dengan gemas. Indra memang paling suka dengan bagian atas dari tubuh Marisa itu.
"Ah!" Marisa mendesah karena remasan dua tangan Indra dan jilatan lidah Indra di tengkuk nya.
"Marisa, Sayang... Sebentar lagi kamu akan menjadi istri saya! Tinggal dua Minggu lagi! Setelah itu saya akan bisa menyentuh tubuh kamu sepuas hati saya... Saya sudah lama menahan diri untuk tidak melakukan nya selama masa pacaran dan pertunangan kita"
"Iya, saya pasti akan memberikan semuanya kepada kamu nanti"
"Saya tidak sabar... Sesuai keinginan dalam hati saya yang sudah lama saya pendam! Pada saat itu tiba, saya tidak akan melepaskan kamu! Saya akan menyekap kamu selama tiga hari tiga malam di kamar pengantin kita!"
"Untuk apa? Kan kita di Bali mau bulan madu! Makan, jalan-jalan, beli oleh-oleh! Kalau aku di kamar terus sepanjang hari, rugi dong kita kesana! Di Jakarta saja!"
"Tiga hari saja, setelah itu baru kamu akan saya keluarkan dari kamar! Setelah itu silahkan kalau kamu mau jalan-jalan, belanja, main di pantai! Pokoknya tiga hari tiga malam pertama pernikahan kita, kamu hanya boleh berada didalam kamar untuk melayani saya!" Indra meremas payudara Marisa dengan penuh gairah.
Marisa merintih karena remasan tangan Indra yang semakin keras. "Awh...! Iya, Pak Indra Perdana yang terhormat... Saya bersedia untuk melayani Anda selama tiga hari tiga malam"
"Udah dong, Dra... Jangan nakal terus, lama-lama aku yang gak tahan..." desah Marisa.
"Ya tidak apa-apa, bagus kalau kamu mau menyerahkan diri seutuhnya pada saya saat ini juga" bisik Indra sambil satu tangannya masuk kedalam celana tidur Marisa.
"Ah....!" Marisa merintih dan tubuhnya menggelinjang hebat dalam dekapan Indra. Bagaimana tidak?! Didalam sana tangan Indra langsung masuk ke penutup bagian paling intim dari tubuh Marisa dan mulai meraba-raba daerah yang hangat itu.
"Diam, Marisa!" bisik Indra tegas! Nafas Indra memburu saat merasakan bagaimana bagian itu sudah menjadi lembab karena terus di raba-raba.
"Jangan, Indra...!"
__ADS_1
"Ini sudah basah, Marisa...! Kamu menikmatinya! Kamu menginginkan saya melakukan ini!"
"Kamu yang membuat saya jadi begini..."
"Jadi bagaimana?! Jadi sebasah ini?!"
"Ah... Ough...! Lepaskan saya... Indra!" Marisa mati-matian menahan mulutnya agar tidak menjerit dengan mengigit bibirnya kuat-kuat! Mata Marisa di pejamkan rapat-rapat!
Sementara dibawah sana jari-jari tangan Indra semakin liar mengaduk-aduk isi celana Marisa. Indra begitu hati-hati karena tidak ingin merusak bagian tubuh Marisa yang paling berharga tapi gerakan jari-jarinya benar-benar membuat Marisa tidak sanggup menahan kenikmatan. Tanpa sadar Marisa malah semakin lebar membuka kedua kakinya!
"Ugh! Kamu begitu basah, Marisa! Saya jadi ingin melihat dan menciumi nya!" kata Indra di telinga Marisa sembari menjilati terlinga gadis itu!
"Jangan..."
"Saya ingin dan pasti akan melakukannya! Saya akan menjilati dan menerkam seluruh bagian tubuh kamu!"
"Ah... Saya tidak tahan, Pak Indra!" jerit Marisa kembali memanggil Indra dengan panggilan 'Pak Indra' yang justru membuat gairah Indra semakin tersulut!
"Kamu memang asisten pribadi saya yang paling berharga, Marisa!" Indra semakin memperkuat lagi tekanan dan gerakan jari-jarinya hingga akhirnya Marisa menjerit tertahan dengan tubuh mengejang dan kemudian lemas di pelukan Indra.
"Pak Indra... Anda nakal sekali..." kata Marisa di antara nafas yang tersengal-sengal.
"Saya tahu dari awal kalau kamu memang menginginkan saya juga seperti saya menginginkan kamu!" kata Indra sambil menciumi bibir Marisa dengan lembut dan membelai-belai rambutnya.
Marisa hanya bisa menganggukkan kepalanya perlahan karena masih merasa lemas.
"Ya sudah, kalau begitu kamu tidur nyenyak. Saya akan menemani kamu tidur" kata Indra lalu memangku tubuh Marisa dan membawanya ke atas ranjang untuk di baringkan.
__ADS_1
"Kamu selalu membuat saya sampai di puncak kenikmatan... Tapi bagaimana dengan kamu sendiri? Apakah kamu masih tahan untuk tidak menyentuh saya? Saya takut kamu tersiksa setiap kali kita bermesraan" kata Marisa.
Indra tersenyum mendengar kata-kata Marisa itu. "Kamu jangan khawatir, Sayang! Setelah hari pernikahan kita, saya akan menagihnya dan kamu harus membayar nya lunas dengan tubuh indah mu!"