
Minggu pagi nya, Marisa mendapat pesan WA dari Andro kalau adik dari Indra Perdana itu ingin menemuinya untuk mengajak makan diluar. Marisa yang baru saja bangun langsung mengiyakan karena tidak punya alasan untuk menolak.
Marisa segera mandi dan pada saat itulah Andro datang ke kos-annya. Pintu rumah Marisa masih terkunci dari dalam. Andro mengetuk pintunya perlahan.
"Assalamu'alaikum, Marisa." kata Andro.
"Pak Andro, sini Pak! Marisa nya mandi dulu. Tadi dia pesan sama saya kalau Bapak datang tolong ditemani selama menunggu dia mandi!" sahut Gery yang sedang minum kopi di depan kos-annya.
"Oh, baiklah." Andro segera menghampiri Gery dan ikut duduk di teras. "Bagaimana kabar kamu, Ger?" sapa Andro.
"Alhamdulillah baik, Pak." jawab Gery.
"Betah kerja di Perdana Enterprise?"
"Betah Pak, sayangnya Bapak jarang ada di kantor! Padahal lebih enak kalau Bapak saja yang memimpin perusahaan! Kayak waktu Pak Indra ke Sumedang!"
"Kalau Indra yang di kantor memangnya kenapa?"
"Ya gak adil aja! Masa Marisa sebagai asisten pribadinya gak di kasih gaji bulanan pertama?! Padahal kan Marisa rajin dan selama ini selalu mengerjakan tugas dengan baik! Kalau cuma karena Marisa pulang duluan ke Jakarta itu sih bisa di maafkan! Siapa suruh nyebelin! Jadi di tinggal!" rutuk Gery.
"Apa kamu bilang? Marisa tidak menerima gaji pertama nya?" tanya Andro terkejut.
"Aduh!" Gery menutup mulutnya sendiri karena tidak sengaja bercerita pada Andro. Tapi toh, Gery sudah terlanjur menceritakannya.
"Jawab saya, Gery!"
"Iya Pak... Tapi Bapak janji ya, gak akan cerita lagi sama Marisa kalau saya ceritakan ini semua!" Gery acungkan jari kelingking nya.
"Iya, janji!" kata Andro sambil nyengir dan mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Gery.
"Jadi begini, Pak Andro!" wajah Gery berubah serius. "Saya sedih! Marisa kemarin tidak menerima gaji pertamanya dari perusahaan! Katanya sih, Pak Indra masih marah gara-gara Marisa pulang duluan waktu mereka pergi ke luar kota,"
"Keterlaluan Indra!" rutuk Andro.
"Iya! Pokoknya sad story deh! Malam tadi ada Fero juga kesini, tapi bukannya ke rumah Marisa malahan ngapel ke rumah Mbak Niki!" Gery semakin ember.
"Mbak Niki yang janda?"
"Heeh! Songong deh tuh si Fero! Pas pulang knalpot nya di gerung-gerung di depan Marisa!"
__ADS_1
"Kasihan Marisa! Tapi apakah kamu tahu kenapa Marisa meninggalkan Indra waktu mereka pergi bersama ke luar kota dan memilih pulang dengan orang lain? Kalau tidak salah namanya Henry,"
"Wah, kalau masalah itu Marisa juga gak cerita. Tapi pasti semua itu kesalahan Pak Indra! Pak Indra itu terlalu sombong! Mungkin ada perkataan atau perbuatannya yang menyinggung perasaan Marisa!"
"Ya sudah, kalau begitu saya minta nomer rekening Marisa. Kamu punya?"
"Ada sih. Buat apa, Pak?"
"Saya akan transfer uang gaji untuk Marisa. Dari uang saya sendiri."
"Wah, ide bagus tuh, Pak!"
"Iya, kasihan kan Marisa pasti butuh uang."
"Iyalah! Tapi Bapak jangan bilang-bilang sama Pak Indra! Nanti di kiranya Marisa morotin Pak Andro!"
"Ya, saya paham."
"Oke Pak! Sebentar, saya kirim nomer rekening Marisa."
"Saya transfer berapa, ya? Lima juta cukup?"
"Lebih dari cukup, Pak! Hehehe!"
Marisa segera keluar rumah dan melihat ada Andro di teras kos-an Gery. Marisa menghampiri Andro dan menegurnya, "Pak Andro, apa-apaan ini?! Kenapa Bapak transfer saya?!"
"Itu gaji bulanan kamu." jawab Andro.
"Tapi Pak, saya kerja di Perdana Enterprise. Bukan kerja sama Bapak. Bapak gak usah repot-repot transfer saya!"
"Kan kamu gak dapat gaji pertama kamu?"
"Bapak kata siapa?!" Marisa melirik sadis pada Gery.
Gery menggeleng panik dengan wajah tanpa dosa.
"Bukan dari Gery. Saya kan CEO juga di Perdana Enterprise. Saya punya laporan keuangan sekaligus nomer rekening kamu. Jadi saya tahu kalau kamu tidak menerima gaji pertama kamu." kata Andro menyelamatkan Gery.
"Saya gak mau, Pak. Ini gak adil dan ini juga terlalu besar!" kata Marisa.
__ADS_1
"Apanya yang terlalu besar?!" tiba-tiba Mbak Niki keluar dari rumahnya dan ikutan nimbrung.
"Ini Marisa di transfer uang sama Pak Andro!" kata Gery. Maksud Gery adalah agar Mbak Niki panas karena semalam Mbak Niki yang sudah memanas-manasi Marisa saat Fero datang ke rumahnya.
"Hah?!! Di transfer?!! Berapa?!!!" Mbak Niki kepo abis.
"Lima juta rupiah!" jawab Gery.
"Waduh! Banyak amat! Terus Marisa, kenapa elu kayaknya gak seneng?! Itu rezeki nomplok! Gua aja cuma di beliin nasi Padang sama si Fero tadi malam!" seru Mbak Niki pada Marisa.
Marisa jadi bertambah kesal! "Pak Andro! Bapak sengaja ya, mau bikin saya malu?!"
Andro tampak bingung. "Saya tidak bermaksud seperti itu,"
Melihat wajah Andro yang kebingungan dan tanpa dosa, hati Marisa terenyuh juga. "Maksud Pak Andro baik, dia tidak bermaksud mempermalukan diriku. Hanya saja aku jadi ingat kata-kata ku kemarin pada Pak Indra kalau aku bisa saja meminta uang pada adiknya. Tapi aku tidak bermaksud sungguh-sungguh melakukan itu..." batin Marisa.
"Kamu tidak marah kan, Marisa?" tanya Andro khawatir.
Marisa jadi tersenyum, senyum paling manis yang pernah Andro lihat. Seketika itu juga Andro menjadi terpana dan membatu.
"Ya sudah, saya tidak marah, malahan saya ucapkan terima kasih."
"Ah, sama-sama, Marisa."
"Sekarang Bapak mau apa?"
"Saya mau ajak kamu keluar, boleh?"
Marisa berfikir sejenak dan akhirnya mengangguk. "Oke, saya ambil tas duluz"
"Yes!" seru Andro tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
"Udahlah, resmiin aja Pak! Segera jadian biar saya bisa minta pajaknya!" seru Gery.
"Apaan sih, Ger!" geram Marisa.
"Iya Mar! Udah aja elu jadian sama Pak CEO! Biar gua lancar sama yayang Fero!" seru Mbak Niki.
Marisa hanya tersenyum kecut. Setelah mengambil tas dan mengunci pintu kos-annya, Marisa pun pergi bersama Andro dengan menaiki mobil mewah milik sang CEO.
__ADS_1
Di dalam perjalanan Marisa sempat berfikir. Sabtu kemarin dia benar-benar merasa sedih karena perlakuan Indra. Indra memarahinya, tidak memberikannya gaji pertama, bermesraan dengan Sofie di depan matanya. Lalu Malam nya Fero yang datang ke rumah Mbak Niki dan menggerung-gerungkan knalpot motornya didepan Marisa. Hari yang sial!
Tapi saat ini dunia sedang bersahabat. Ada Andro yang manis dan begitu baik hati bersama Marisa. Lalu kenapa Marisa tidak mencoba membuka hati? Bukankah dia juga pantas untuk bahagia?