
Kandungan Marisa kini sudah menginjak usia tujuh bulan. Marisa juga sudah mengetahui dari hasil USG kalau jenis kelamin bayi nya adalah laki-laki. Selama itu pula Marisa merasakan kebahagiaan yang luar biasa karena Indra dan juga Mama melimpahi nya dengan kasih sayang dan perhatian yang berlebihan.
Selain bersama Indra dan Mama, Marisa juga hidup bersama Andro di bawah satu atap dan saling menghargai satu sama lain. Semenjak kepulangannya dari Italia, Andro tidak pernah lagi meninggalkan rumah untuk waktu yang lama. Dan kini Andro juga sudah bisa menerima kalau Marisa sudah jadi istri Indra dan sudah menjadi bagian dari keluarga Perdana dan mereka hanyalah sebatas saudara ipar. Andro juga ikut antusias menyambut kelahiran bayi Marisa dan juga Indra.
Perut Marisa kini sudah terlihat sangat besar. Saat berjalan kaki pun terlihat sekali kalau Marisa sudah sangat kerepotan. Maka itu Indra memutuskan untuk tidak lagi membiarkan Marisa ikut ke kantor. Marisa di minta diam saja di rumah dan melakukan aktifitas yang tidak terlalu melelahkan.
"Tapi kan aku masih bisa kerja, Dra! Aku bosan juga kalau diam di rumah terus!" kata Marisa merajuk.
"Tidak, Marisa Sayang! Saya minta kamu diam di rumah agar bisa lebih banyak beristirahat! Kalau bosan kami bisa berkebun, olah raga ringan, atau memasak makanan kegemaran kamu. Pokoknya aku tidak boleh ikut saya ke kantor lagi! Kalau masalah kamu bosan, nanti saya akan mengajak kamu jalan-jalan setiap Sabtu dan Minggu!" kata Indra tegas.
"Tapi bagaimana dengan kamu sendiri? Kamu kan butuh asisten pribadi yang bisa membantu semua pekerjaan kamu. Kalau enggak, kamu bisa kerepotan!"
"Nanti saya akan cari asisten pribadi"
Marisa berpikir sejenak sebelum akhirnya setuju untuk diam di rumah. "Ya sudah kalau begitu. Aku akan tinggal di rumah asalkan kamu mencari asisten pribadi yang baru"
"Iya, nanti saya akan cari rekomendasi yang bagus"
Indra pun meminta Bella untuk membuka lowongan kerja sebagai asisten pribadi di situs resmi perusahaan. Tiga hari kemudian sudah banyak sekali orang yang melamar untuk menjadi asisten pribadi Indra. Indra pun meminta Pak Rafi untuk memilih beberapa orang yang terbaik dari segi pendidikan dan pengalaman kerja.
Pak Rafi pun memilihkan sepuluh calon asisten pribadi baru untuk Indra.
"Saya sudah pilihkan sepuluh orang yang terbaik untuk menjadi asisten pribadi Pak Indra menggantikan Bu Marisa yang sedang cuti" kata Pak Rafi saat menemui Indra di ruangan nya pagi itu.
__ADS_1
"Kirim berkas lamaran mereka ke email saya! Nanti saya akan pilih salah satu untuk kemudian kamu seleksi" kata Indra.
"Baik, Pak" Pak Rafi pun mengirimkan sepuluh berkas lamaran ke email Indra yang segera Indra teliti saat senggang.
Ada sepuluh berkas lamaran yang berisikan informasi tentang sepuluh wanita cantik berpendidikan tinggi yang melamar untuk menjadi asisten pribadi Indra.
"Saya tidak suka dengan mereka! Dari wajahnya saja saya bisa tahu kalau mereka semua adalah tipe wanita penggoda! Saya menginginkan seorang asisten pribadi yang juga berkepribadian baik seperti Marisa" pikir Indra sambil terus meneliti berkas-berkas lewat laptopnya.
Hingga akhirnya pada berkas terakhir, Indra menemukan berkas lamaran yang berisi sesuai dengan kriteria nya. Seorang wanita cantik berpendidikan tinggi tapi berpenampilan elegan dan sederhana dengan dandanan yang tidak terlalu wah dan riasan wajah yang tipis natural.
"Sepertinya saya akan memilih wanita ini sebagai asisten pribadi saya yang baru" gumam Indra dan segera menelepon Pak Rafi.
Tidak lama kemudian telepon pun tersambung. "Halo, Pak Rafi"
"Saya sudah memilih salah satu dari sepuluh wanita yang melamar sebagai asisten pribadi saya yang baru"
"Oh ya, bagaimana Pak? Anda pilih yang mana? Biar nanti saya akan segera mengirim email kepada dia agar bisa datang besok dan interview dengan saya"
"Saya pilih berkas lamaran yang nomor sepuluh. Namanya Melati Khairunnisa. Kamu segera kirim email-nya agar dia bisa segera interview dan juga bisa segera bekerja sama dengan perusahaan kita. Saya sedang sibuk sekali dan membutuhkan segera seorang asisten pribadi untuk membantu semua pekerjaan saya!"
"Oke, baik Pak! Saya akan segera kondisikan"
Pak Rafi segera memeriksa berkas lamaran atas nama melati Khairunisa yang Indra pilih sebagai asisten pribadinya. Seorang wanita cantik yang memiliki kemiripan dengan Marisa dari segi penampilan dan gaya berpakaian.
__ADS_1
"Ini dia Melati Khairunnisa. Dia lulusan S1 dari universitas terkemuka di salah satu universitas di Bandung. Dia asli dari Jakarta dan punya pengalaman bekerja di sebuah perusahaan saat menjalani PKL di masa kuliahnya. Hm... Kok mirip-mirip sama Bu Marisa ya?" Pak Rafi mulai berpikir ke arah lain.
"Hampir sama dengan penampilan Bu Marisa. Apakah Pak Indra sengaja memilih seorang asisten pribadi yang mirip dengan istrinya? Wah wah wah! Lihat saja nanti kalau wanita itu sudah bekerja disini! Jangan sampai terjadi peristiwa dua tahun lalu dimana Pak Indra jatuh cinta pada Bu Marisa yang adalah asisten pribadinya sampai meninggalkan almarhumah Bu Sofie yang sudah bertunangan dengannya!"
*******
Seminggu kemudian Indra pun mendapatkan seorang asisten pribadi untuk menggantikan posisi Marisa di perusahaan. Dia adalah seorang wanita cantik berusia Dua puluh dua tahun. Tiga tahun lebih muda dari Marisa yang kini usianya sudah menginjak dua puluh lima tahun. Nama wanita itu adalah Melati Khairunnisa.
"Saya sudah mendapatkan seorang asisten pribadi. Namanya Melati" kata Indra saat beristirahat bersama Marisa di atas ranjang mereka pada suatu malam.
"Oh ya? Syukurlah. Kamu gak akan kerepotan lagi sekarang" kata Marisa yang saat itu sedang duduk bersandar di atas ranjang dengan posisi Indra tiduran di pangkuannya.
"Ya, saya saat ini sedang sibuk-sibuknya dalam pekerjaan di kantor! Bella juga tidak bisa menemani setiap metting dengan para klien karena pekerjaannya juga sudah menumpuk setiap harinya! Sementara Andro juga sibuk di lapangan!"
"Iya, saat ini perusahaan memang sedang banyak proyek besar"
Indra mencium perut Marisa. "Ini juga karena rezekinya anak kita, Sang putra mahkota keluarga Perdana!" kata Indra.
"Alhamdulillah..."
Tiba-tiba saja sang jabang bayi yang ada didalam kandungan Marisa bergerak-gerak aktif seolah mendengarkan obrolan Mama dan Papa nya.
"Aduh, Dra! Dede bayi nya nendang! Sakit sekali!" keluh Marisa kesakitan.
__ADS_1
"Iya, keras sekali tendangannya! Dasar anak jagoan!" kata Indra lalu membelai-belai perut Marisa. "Hey, anak Papa jangan menendang terlalu keras! Kasihan Mama kesakitan! Nanti saja kalau kamu sudah lahir dan tumbuh besar, Papa akan ajak kamu main sepak bola!"