
Indra benar-benar merasa kesal pada Sofie. Saat ini hati Indra makin meragukan kalau dia bisa hidup berdampingan bersama Sofie. Apalagi Indra menyadari kalau selama dia tidak pernah mencintai Sofie.
Indra sudah tahu sejak awal kalau dia tidak memiliki perasaan khusus pada Sofie. Tapi Indra menerima perjodohan dengan Sofie karena ingin menyenangkan hati Mama sekaligus memang karena Indra memang membutuhkan pendamping hidup.
Cinta itu tidak penting! Bahkan mungkin cinta itu tidak ada! Indra yakin bisa hidup berdampingan dengan Sofie dalam satu pernikahan tanpa cinta. Yang penting Sofie cantik, seksi, kaya raya dan berasal dari kalangan keluarga terhormat.
Tapi ternyata Indra salah! Dia tidak bisa menikahi wanita yang tidak dia cintai. Buktinya selama Mama atau Sofie membicarakan tentang pernikahan, Indra merasa jengkel!
Justru kini Indra malah merasakan perasaan yang berbeda pada Marisa. Indra bisa terus memikirkan Marisa, merindukannya, bahkan mencemburui setiap pria yang dekat dengan Marisa!
Kalau saja waktu bisa di putar kembali dan Marisa datang untuk pertama kalinya ke kantor seperti saat itu, Indra tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan Marisa! Bukan untuk satu malam tetapi untuk selama-lamanya!
"Kenapa saya harus hidup bersama Sofie kalau saya tidak mencintainya?! Yang ada saya nanti bisa tua lebih awal dan botak sebelum waktunya akibat kecerewetan wanita itu! Pernikahan sama sekali bukan jalan yang bagus untuk saya! Saya tidak butuh komitmen dan juga sebuah rumah tangga!
Kalau Mama memang menginginkan seorang menantu dan beberapa orang cucu, biar Andro saja yang mewujudkan keinginan Mama! Bersama Marisa tentunya!
Marisa? Marisa dengan Andro? Ya ampun! Apakah saya bisa menerima kalau nantinya Marisa ada di rumah ini dengan status sebagai adik ipar?! Gila! Saya harus bisa segera melupakannya!
Saya yang mau merusak kebahagiaan Marisa dan Andro! Saya sudah berkata pada Marisa dan Andro kalau saya akan merestui hubungan mereka. Saya juga sudah berjanji untuk melamar Marisa untuk Andro sepulangnya Andro dari Turki nanti!
Selama itu pula saya sudah harus bisa merelakan Marisa dan bisa berlapang dada jika akhirnya mereka bersama nanti! Ya! Saya pasti bisa melupakan Marisa!"
Indra akhirnya tertidur dengan kegalauan hatinya. Keesokan harinya Indra terbangun dan merasakan kepalanya berdenyut sakit.
sial! sejak kapan saja mengidap sakit kepala berat seperti! pasti ini akibat terlalu memikirkan Marisa!
Indra masih bermalas-malasan di atas tempat tidurnya karena hari itu hari Minggu. Tidak ada rutinitas ke kantor dan Indra juga merasa enggan untuk kembali ke alam nyata dimana Marisa bukan miliknya! Indra merasa lebih baik dia tidur lagi, mungkin dia akan bermimpi indah memiliki Marisa sehingga jika terbangun nanti, pusing di kepalanya akan sedikit berkurang.
'tok! tok! tok!' suara ketukan di pintu kamarnya memaksa Indra untuk kembali ke alam nyata.
"Siapa?!" tanya Indra gusar.
"Dra, ini Mama" terdengar suara Mama dari luar.
"Masuk aja, Ma!"
__ADS_1
Pintu terbuka dan Mama muncul dengan segelas kopi hitam kesukaan Indra.
"Selamat pagi, Indra Perdana anak mama" sapa Mama.
"Pagi Mam" balas Indra dengan senyuman.
Mama mendekati Indra dan duduk di sisi tempat tidurnya.
"Ini Mama bawakan kamu kopi hitam" kata Mama seraya meletakkan cangkir kopi di atas meja.
"Makasih, Mam. Padahal gak usah repot-repot" kata Indra lalu bergerak bangkit.
"Kamu minum kopinya lalu mandi. Setelah itu turun dan sarapan!"
"Ya Mam, nanti saya akan sarapan"
"Jangan lama-lama ya! Ada Marisa di ruang makan"
"Marisa?!" Indra terkejut mendengar Mama menyebut nama Marisa.
"Sama Andro?! Andro semalam tidur di rumah Marisa?!" Indra langsung negatif thinking!
"Ya enggaklah, Dra! Andro pulang sendiri malam tadi. Marisa baru datang naik taksi online" kata Mama.
"Mau apa Marisa kesini?"
"Ya menemui Andro"
betul juga! pasti Marisa datang kesini untuk menemui Andro! mana mungkin dia kesini untuk menemui saya! kamu kebanyakan bermimpi, Indra Perdana!
"Tumben Marisa pagi-pagi kesini untuk menemui Andro" kata Indra sinis.
"Lho, kamu lupa? Andro kan mau berangkat ke Turki pagi ini. Marisa akan ikut mengantarkan Andro ke bandara. Kamu juga harus ikut mengantarkan Andro!" kata Mama.
"Oh ya, maaf Mam. Saya lupa. Tapi kenapa saya harus ikut mengantarkan Andro ke bandara! Andro kan sudah biasa pergi sendiri ke bandara tanpa pengawalan saya!"
__ADS_1
"Indra, kali ini Marisa juga kan ikut mengantarkan Andro! Mana mungkin kita membiarkan Marisa pulang sendiri setelah Andro masuk kedalam pesawat?! Kamu harus ikut ke bandara dan mengantarkan Marisa pulang nanti!"
"Memangnya Marisa itu siapa sih?! Sehingga saya harus mengantarkan dia pulang nantinya?! Kalau Marisa mau mengantarkan Andro ke bandara ya silahkan! Tapi pulangnya ya sendiri saja! Naik taksi online seperti saat dia datang kesini! Merepotkan saja!"
Mama memegang bahu Indra. "Indra Sayang, Marisa itu pacar Andro. Dia akan menikah dengan Andro dan berarti dia akan jadi adik ipar kamu. Jadi bagian dari keluarga kita. Kamu jangan keras seperti ini ya! Marisa anak baik. Kamu mandi sekarang dan ikut mengantarkan Andro ke bandara ya?!"
"Iya iya!" Indra gusar.
"Juga antarkan Marisa pulang nanti!"
"Siap Mam!"
"Nih gitu dong! Itu baru Kakak yang baik! Ya udah sekarang di minum ya kopinya!"
"Iya Mam..."
Mama meninggalkan kamar Indra. Tinggalah Indra sendiri dengan pikiran yang semakin galau karena harus bertemu dengan Marisa.
"Pagi-pagi begini sudah harus ketemu Marisa! Bagaimana aku bisa lupa!" rutuk Indra kesal!
Indra mandi dengan tergesa-gesa dan memakai pakaian santai. Tapi tunggu! Apakah sudah terlihat menarik di hadapan Marisa, ya? Indra mematut-matutkan dirinya sendiri di depan cermin. Lalu malah merasa konyol sendiri!
"Sial! Kenapa saya sebegitu perduli nya terlihat menarik di hadapan Marisa! Sama sekali tidak penting!" rutuk Indra lagi!
Selesai berpakaian Indra segera turun ke kanan bawah dan menuju ruang makan. Rupanya semua sudah menunggu Indra. Andro juga tampak sudah rapi dan siap berangkat ke bandara.
"Selamat pagi semuanya" sapa Indra.
"Lama amatir sih mandi nya, bos?! Saya sudah lapar sekali ini!" kata Andro.
"Kenapa tidak makan saja duluan?!"
"Ya harus bersama-sama dong. Mumpung ada Marisa juga pagi ini"
Indra melirik Marisa dan ternyata kebetulan sekali Marisa juga sedang melirik pada Indra. Dua mata bertemu, dua hati saling bicara dalam diam.
__ADS_1
Dua hati yang sebenarnya saling mencintai tapi tidak bisa saling menyatakan. Dua hati yang terbelenggu oleh sebuah kemunafikan. Lalu apakah masih bisa dua hati itu menyatu? Atau semuanya memang sudah terlambat...