
Marisa menatap Andro dengan pandangan menyesal. "Maaf Pak Andro, Gery terlalu blak-blakan!" katanya.
"Gak apa-apa, Mar. Gery adalah orang ke sekian yang bicara seperti itu kepada saya." kata Andro.
"Hah?!" Gery ternganga. "Kira-kira saya yang keberapa, Pak? Kurang lebihnya gitu?"
"Wah! Udah gak kehitung, Ger! Saya juga tidak bisa menyalahkan kalau orang banyak menganggap Indra itu menyebalkan!" kata Andro sambil nyengir.
"Kira-kira kenapa tuh Pak, Kakak Bapak itu nyebelin banget?" tanya Gery.
"Dia itu arogan, sombong, ferfeksionis, dan cerewet! Dari kecil dia sudah seperti itu. Tapi puncaknya setelah Papa kami meninggal dan perusahaan keluarga menjadi tanggung jawab Indra. Indra jadi punya beban berat. Dia juga punya tanggung jawab terhadap saya dan Mama. Jadi dia benar-benar bekerja keras untuk membuat perusahaan semakin maju untuk masa depan kami juga." tutur Andro.
"Oh gitu, jadi Pak Indra punya tanggung jawab besar sepeninggal almarhum Papanya? Hebat ya, Pak Indra! Aku jadi kagum sama dia! Dia benar-benar pekerja keras! Perusahaannya aja sampai menggurita!" kata Marisa kagum.
"Ehem!" Gery malah berdehem. "Kenapa Pak Andro gak coba bantu Pak Indra buat me-manage perusahaan? Jadi beban Pak Indra bisa dibagi ke Pak Andro?"
"Indra itu ferfeksionis, Ger! Mana mungkin dia mau membagi tanggung jawab itu pada saya? Di matanya saya tetap adalah seorang anak kecil! Baginya hanya dia yang mampu! Orang lain tidak bisa apa-apa dan akan selalu ada kurangnya!"
"Ngeri!"
"Ya, itulah Indra!"
"By the way, Bapak kan tadi katanya mau ketemu Marisa? Tuh Marisa udah ada!" kata Gery.
Marisa jadi ingat kalau Andro kesana memang untuk mencarinya. "Iya, ada apa Bapak mencari saya?" tanya Marisa pada Andro.
"Saya mau ajak kamu jalan-jalan." jawab Andro.
"Jalan-jalan kemana? Metting?"
"Ini diluar jam kerja, Mar. Saya dan kamu adalah teman dan saya mau jalan-jalan bersama kamu sebagai seorang teman!"
"Tapi..."
Belum sempat Marisa meneruskan kata-katanya, Mbak Niki yang julid sudah selesai menjemur pakaian dan ikutan menimbrung. "Udah, Mar! Elu ikut aja jalan-jalan sama Pak Bos ganteng! Masalah si Fero mah biarin urusan gua!" kata Mbak Niki.
"Fero siapa?" tanya Andro.
"Pacar Marisa!" jawab Mbak Niki.
"Bukan, saya udah putus sama Fero." kata Marisa sedih.
"Hah?! Kenapa?!" tanya Gerry terkejut.
"Kok bisa? Pasti gara-gara bos ganteng ini kan?!" tuding Mbak Niki pada Andro.
"Kok jadi nyalahin saya?!" protes Andro.
__ADS_1
"Lha itu Marisa jadi putus sama Fero! Sebelum Marisa PKL di perusahaan Bapak, mereka baik-baik aja!"
"Mungkin ada masalah lain."
"Alah! Justru gara-gara Bapak! Lagian ngapain hari Minggu datang kesini buat ajak Marisa pergi?! Gak cukup apa ketemu tiap hari di kantor?!"
"Pak Andro, ayo kita pergi sekarang! Saya mau jalan-jalan sama Bapak!" kata Marisa segera mengambil keputusan karena tidak tahan dengan kejulidan Mbak Niki. Kalau dia dan Andro segera pergi, itu lebih baik.
Andro tampak semangat. "Ayo, Marisa!"
"Mbak, Ger, aku sama Pak Andro pergi dulu, ya?" kata Marisa lalu menutup pintu rumahnya.
"Oke, Mar!" seru Gery.
"Pepet terus, Mar!" seru Mbak Niki.
Andro dengan sopan membukakan pintu mobilnya untuk Marisa. Marisa masuk ke dalam mobil dan tak lama kemudian mereka pun pergi dari lingkungan kos-an itu.
"Luar biasa! Mantap banget, Marisa! Dapet bos ganteng kayak gitu!" kata Mbak Niki.
"Rezeki nomplok itu!" timpal Gery.
"Tapi ngomong-ngomong, emangnya bener Marisa putus sama Fero?"
"Gak tahu juga sih, Mbak. Marisa belum cerita sama aku."
"Kita mau kemana, Pak?" tanya Marisa.
"Terserah, kamu maunya kemana?" jawab Andro sambil mengerling.
"Saya tidak mau kemana-mana."
"Lho, tadi kan kamu bersedia jalan sama saya? Saya kira kamu ada rekomendasi tempat jalan yang seru."
"Saya cuma ingin menjauhi Mbak Niki! Dia julid banget! Saya tahu Bapak gak nyaman."
"Kamu sendiri apakah nyaman tinggal di lingkungan seperti itu?"
"Nyaman-nyaman saja. Saya sudah terbiasa."
"Kamu mau gak pindah ke tempat yang lebih layak? Apartemen misalnya? Kalau minat, saya bisa pindahkan kamu ke apartemen saya."
"Tidak usah, Pak. Terima kasih."
"Saya serius,"
"Saya sudah betah di tempat kos-an saya. Ada Gery juga kan disana."
__ADS_1
"Iya, saya tahu kamu dan Gery adalah sahabat baik. Kalian tidak akan bisa dipisahkan." ujar Andro sambil tersenyum manis.
Marisa tertegun. Dia ingat saat Indra marah besar ketika Marisa menolak untuk tinggal di apartemennya kala itu. Apa lagi saat Marisa mengemukakan alasannya kalau dia tidak bisa meninggalkan Gery.
Tapi saat hal serupa kini terjadi dengan Andro, pria tampan itu tidak marah dan mau mengerti. Marisa menjadi semakin kagum pada sosok Andro. Beda sekali dengan sang kakak, Andro memang bukan Indra!
"Oh ya, Marisa. Katanya kamu putus dengan pacar kamu?" tanya Andro.
"Iya..." jawab Marisa lesu.
"Ada apa?"
"Pacar saya menuduh saya ada hubungan gelap dengan atasan di kantor, Pak Indra."
Kening Andro berkerut. "Ada hubungan dengan Indra? Memangnya ada apa dengan kamu dan Indra sehingga pacar kamu bisa berpikiran seperti itu?"
"Saya juga gak tahu, Pak. Dia tiba-tiba memutuskan hubungan dan membawa-bawa nama Pak Indra."
"Jadi sekarang kamu single?"
"Mungkin... Tapi saya sangat berharap dia bisa berfikir lebih jernih lagi. Saya... Saya masih sangat mencintai dia..."
"Saya mengerti," ada nada kecewa dalam suara Andro yang tidak disadari Marisa. "Oh ya Mar, gimana kalau sekarang kita makan? Kamu belum sarapan, kan?"
"Boleh, Pak. Bahkan saya belum makan dari semalam."
"Karena masalah dengan pacar kamu?"
Marisa mengangguk jujur.
Andro malah menggenggam tangan Marisa dan meremas jemarinya dengan sebelah tangan masih menyetir mobil. "Kamu gak boleh gitu! Nanti kamu sakit!"
"Iya, Pak," kata Marisa seraya kontan menarik tangannya dari genggaman Andro. Risih sekali rasanya, apalagi Andro adalah atasannya.
"Kamu mau makan dimana?" tanya Andro.
"Bapak kan pernah ajak saya makan di restoran seafood favorit Bapak, gimana kalau sekarang saya ajak Bapak makan di warteg favorit saya?"
"Boleh, dimana?"
Marisa tidak menyangka kalau Andro yang kaya raya itu mau makan di warteg bersamanya. Luar biasa! Kalau Indra mana mungkin mau! Bisa-bisa langsung di bentaknya Marisa kalau berani mengajaknya makan di warteg.
"Bapak serius? Mau makan di warteg sama saya?"
"Iya, sebelah mana?"
"Sebentar lagi, Pak. Bapak lurus saja. Sebentar lagi ada belokan. Nah, warteg favorit saya itu dipinggir jalan pas belokan itu. Dekat kampus saya."
__ADS_1