
Air mata berlinang membasahi pipi Marisa saat bercerita pada Gery apa yang di katakan Indra tadi di kantor. Tentang Andro yang meminta Marisa menjadi kekasih nya, kemarahan Indra karena berpikir Marisa yang mendekati Andro, juga bagaimana Indra bilang kalau dia muak pada Marisa dan Gery.
Gery menjadi geram mendengar cerita Marisa. "Gila banget tuh CEO! Mentang-mentang kaya raya dan berkuasa! Seenaknya saja sama orang kecil kayak kita! Padahal kamu terima aja tuh Pak Andro! Biar bikin bete Pak Indra!"
"Fero mau di kemanain?!"
"Karungin dulu aja!"
"Ngawur!" Marisa menumbuk bahu Gery.
"Hehe, maaf Mar. Aku bercanda"
"Kita harus gimana Ger? Pak Indra bilang dia sama sekali tidak berniat memberikan nilai bagus untuk kita. Kita hanya bisa berharap kemurahan hatinya untuk memberikan nilai lumayan! Bisa sia-sia PKL kita Ger!" kata Marisa khawatir.
"Kita berserah dan berpasrah diri aja, Mar. Yang penting kita udah melakukan hal yang terbaik. Soal bagus atau tidaknya nilai kita, kita serahkan aja pada Allah SWT." kata Gery.
"Ya, Ger. Kamu benar!"
"Udah, jangan nangis lagi! Nanti kamu sakit!"
"Makasih Ger. Kamu selalu perduli sama aku!" Marisa tersenyum manis.
"Iya dong! Kita kan best friend forever!" Gery mengacak rambut Marisa.
"Oh iya, lusa kan Fero ulang tahun! Aku mau bikin kejutan buat dia! Aku mau diner romantis sama dia di tempat yang bagus!" ujar Marisa merubah topik pembicaraan.
"Nah aku setuju! Jangan lupa kalau ada konsumsi makanan yang tersisa, kamu bungkus bawa pulang buat aku!"
*******
Hari yang Marisa nanti-nantikan pun tiba, ulang tahun Fero yang ke 26. Marisa sudah berencana mengajak Fero makan di restoran seafood dekat kantor dimana Marisa pernah makan bersama Andro.
Rencananya Marisa yang akan mentraktir Fero. Maka itu dari pagi sampai sore hari ini Marisa tidak mengucapkan selamat ulang tahun pada Fero karena ingin memberikan kejutan untuk Fero.
__ADS_1
Hari itu Marisa menyelesaikan tugasnya dengan semangat. Menemani Indra metting bersama para kepala bagian dan mencari semua hal yang penting selama metting berlangsung.
Jam empat sore Marisa sudah siap untuk keluar kantor, tapi Indra belum meninggalkan ruangan CEO. Mau keluar duluan rasanya tidak mungkin. Masa asisten pribadi meninggalkan ruangan lebih dulu dari atasannya?
Indra masih sibuk dengan laptopnya. Marisa menghabiskan waktu dengan berdandan karena sudah siap bertemu Fero. Fero juga sudah mengirim WA pada Marisa kalau dia sudah berangkat untuk menjemput Marisa.
Indra memperhatikan Marisa yang asyik berdandan. "Aneh! Tidak biasanya gadis itu berdandan ketika pulang kantor! Hm... Pasti dia akan bertemu dengan kekasihnya, si Fero itu!" pikir Indra, lalu senyum licik tersungging di sudut bibirnya. "Kamu mau ketemu dengan pacar kamu yang gak ada apa-apanya itu, Marisa Larasati?! Kita lihat saja! Kamu tidak akan bisa bertemu dengannya hari ini!"
"Marisa!" panggil Indra.
Marisa menoleh. "Iya, Pak?"
"Kata Andro tempo hari, kamu sudah membuat design untuk perumahan yang akan saya bangun di luar kota?"
"Oh iya, Pak."
"Boleh saya lihat? Beberapa hari ke depan saya akan pergi kesana untuk meresmikan pembangunan dan peletakan batu pertama."
"Bapak mau lihat sekarang?"
"Tapi ini sudah jam pulang kantor, Pak,"
"Saya mau lihat sekarang!"
"Saya mau pulang, Pak. Bapak bisa melihatnya sendiri di laptop saya." Marisa meletakkan laptopnya di meja kerja Indra.
Kening Indra berkerut. "Kamu mau pulang duluan?! Kamu ini asisten pribadi saya! Kamu berkewajiban menemani saya sampai saya keluar kantor!"
"Tapi Pak..."
"Tidak ada tapi-tapian! Kamu lembur hari ini bersama saya!"
"Gawat! Fero bisa marah kalau aku gak muncul di gerbang padahal dia udah jemput! Mana aku belum ngucapin selamat ulang tahun!" batin Marisa. Wajahnya menyiratkan rasa khawatir dan Indra bisa membaca perasaan Marisa.
__ADS_1
"Ada apa?! Kamu pucat begitu?! Ada janji sama Gery?! Atau pacar kamu?!" tanya Indra.
"Iya Pak, hari ini pacar saya ulang tahun. Saya mau ngasih kejutan dengan ngajak dia makan di luar. Saya sudah meminta dia untuk menjemput saya. Pasti sebentar lagi dia sampai di depan kantor." Marisa terpaksa menceritakan pada Indra tentang ulang tahun Fero.
"Oh iya? Ulang tahun yang ke berapa?" tanya Indra.
"Ke 26 Pak." jawab Marisa.
"Jadi kamu ingin merayakan ulang tahun pacar kamu itu?" tanya Indra lagi dengan nada suara licik dan menaikkan sebelah alisnya.
"Iya Pak." Marisa menatap Indra dengan penuh harap.
"Kita lihat saja bagaimana hasil kerja kamu di laptop ini! Kalau kamu berhasil membuat denah sesuai dengan keinginan saya, saya akan bebaskan kamu pulang! Tapi kalau design kamu tidak memenuhi ekspektasi saya, kamu harus memperbaikinya sekarang juga!"
"Pak Andro bilang, design saya bagus."
"Selera Andro belum tentu sama dengan selera saya!"
"Baik Pak Indra. Silahkan Bapak memeriksa hasil kerja saya."
Indra memeriksa pekerjaan Marisa di laptop. Keningnya berkerut, dalam hatinya berdecak kagum. Bagaimana seorang mahasiswi muda jurusan akuntansi seperti Marisa bisa membuat design rumah minimalis modern yang bagus seolah dia adalah lulusan design grafis!
"Anak ini cerdas! Dia bisa membuat design rumah seperti yang aku inginkan! Aku tidak bisa mencari celah kesalahan dari design yang dia buat! Tapi aku tidak mungkin melepaskannya saat ini! Aku tidak mau dia pergi bersama kekasihnya itu!" batin Indra.
Selama Indra memeriksa pekerjaannya, Marisa benar-benar tidak tenang. Matanya terus melirik ke jendela untuk melihat keluar, takut-takut Fero sudah datang untuk menjemputnya.
Setelah berpikir keras, akhirnya Indra menemukan celah agar bisa menahan Marisa lebih lama diruangannya. "Hasil kerja kamu lumayan memuaskan! Tapi saya merasa masih ada yang kurang! Kamar tidur anak yang kamu buat ini tidak memiliki ventilasi yang cukup! Saya tidak mau konsumen saya nantinya tidak jadi memesan rumah di cluster saya hanya karena kamar anak yang kurang pencahayaan! Saya minta kamu buat ulang design ini di bagian kamar tidur anak!" tutur Indra yang membuat Marisa menggeram kesal dalam hatinya!
"Saya juga sempat berpikir seperti itu Pak, tapi karena tidak bisa membuat ventilasi di kamar tidur anak di bagian sebelah depan karena berbatasan dengan kamar mandi, paling saya bisa buat taman kecil di belakang kamar tidur anak agar cahaya bisa masuk." usul Marisa.
"Kamu buat saja dulu, nanti saya periksa hasilnya!"
"Saya akan membuatnya nanti di rumah, Pak. Saya janji akan menyerahkannya langsung pagi besok di meja kerja Bapak."
__ADS_1
"Saya mau kamu kerjakan sekarang!"
"Maaf Pak, membuat design itu butuh inspirasi, saya tidak bisa membuatnya sekarang. Apalagi pikiran saya tertuju pada Fero."