
Pagi itu Marisa menyempatkan diri untuk beres-beres kos-annya. Sudah lama sekali Marisa tidak pernah beres-beres rumah. Mungkin hanya sesekali Marisa bisa menyapu kos-annya itu selama bekerja di Perdana Enterprise. Sekarang Marisa berkesempatan untuk mengepel, mengelap kaca, dan juga mencuci gorden.
Semalam Andro masih rutin menelepon Marisa. Bahkan mereka sampai berjam-jam bertelepon ria. Andro sebenarnya ingin sekali bisa melakukan video call dengan Marisa. Tapi Marisa menolak karena alasan HP nya sudah mau lowbat. Padahal batu HP nya penuh.
Entah kenapa selama seminggu lebih Andro pergi ke Turki. Selama itu pula perasaan Marisa semakin mengambang. Marisa tidak pernah merasakan kerinduan seperti yang Andro rasakan. Yang ada justru semalaman tadi Marisa mengingat-ingat Indra!
Bagaimana sekarang keadaan Indra? Apakah dia marah dan membenci Marisa? Bisakah Indra memimpin metting tanpa bantuan Marisa? Bagaimana hubungan Indra sekarang dengan Kayla? Dan apakah Indra sudah berbaikan dengan Sofie? Berbagai pertanyaan melintas di benak Marisa. Tentang Indra dan hanya tentang Indra!
Walaupun sebenarnya Marisa merasa santai dan tenang karena tidak ada beban pekerjaan, tapi dalam hati terdalamnya masih saja memikirkan Indra. Seperti saat ini, Marisa yang sibuk mengelap kaca jendela rumahnya sampai tidak menyadari kalau Mbak Niki sudah ada di dekatnya.
"Marisa!" panggil Mbak Niki galak.
"Eh!" Marisa kaget dan menoleh ke arah Mbak Niki. "Ada apa, Mbak?" tanyanya.
"Tumben beres-beres rumah ampe mendetail begini! Mau ada acara apa? Apa mau ada tamu baru?! Tamu dari masalalu mungkin?!"
"Gak ada tamu. Ini kan saya udah lama gak beres-beres. Sekarang saya kan udah gak kerja. Kuliah juga belum di mulai lagi. Jadi saya sempetin deh"
"Kok Gery masih kerja?!"
"Masa PKL Gery kan masih seminggu lagi. Kami beda bagian"
"Yang bener! Lo lagi gak ada masalah kan sama Pak Andro?!" mata Mbak Niki menatap julid.
"Gak ada"
"Apakah dia kesengsem madam Turki yang jangkung dan mancung?! Jadi lo kecewa dan gak mau kerja lagi di kantor nya?!"
"Apaan sih? Gak ada kok! Saya sama Andro Alhamdulillah baik-baik saja!"
"Ya, syukur deh! Gua cuma khawatir aja. Takutnya lo ada masalah sama Andro dan sekarang lo memilih berhenti sebelum waktunya! Gua juga khawatir kalau lo berpikir untuk merebut kembali Fero dari tangan gua!"
Marisa menggeleng. "Kalaupun saya memang tidak ada jodoh dengan Andro, saya tidak akan kembali pada Fero. Fero hanya masalalu buat saya! Mbak Niki gak usah khawatir!"
__ADS_1
"Lalu apa lo tahu kalau Fero tadinya mau ikut syuting di halaman kantor lo, tapi gak jadi karena kata Gery gak akan di izinkan sama CEO nya?!"
"Hah?! Kalau masalah itu saya gak tahu. Fero gak pernah bilang apa-apa sama saya"
"Iya lah! Mana mungkin Fero bilang-bilang saya lo! Lo kan gak ada hubungan apa-apa lagi sama dia! Kege-eran aja lo!"
Marisa menghela nafas panjang!
"Mau Mbak Niki apa sih?! Sekarang kan Mbak udah sama Fero. Kenapa masih usil sama saya?!"
"Gua peringatin sama lo ya, Marisa! Fero itu milik gua. Jadi jangan berharap kalau Fero akan balikan lagi sama lo! Lagipula gua gak merebut Fero dari tangan lo! Gua jadian sama Fero setelah dia putus sama lo!"
"Iya, Mbak! Kalau perlu saya pindah dari sini agar gak usah ketemu lagi sama Fero!"
"Nah itu adalah ide yang sangat bagus!"
"Ya. Nanti sepulang Andro dari Turki, saya akan pindah!"
"Maaf, Mbak Niki. Saya udah selesai beres-beres. Mau mandi dulu"
"Gua belum selesai ngomong!"
Marisa tidak memperdulikan kata-kata Mbak Niki dan langsung masuk ke rumahnya. Masih terdengar suara Mbak Niki yang bersungut-sungut!
Marisa pergi mandi dan berganti pakaian. Rencananya Marisa ingin pergi keluar dan mencari makan siang diluar. Marisa ingin sekali makan ketoprak siang ini. Maka itu Marisa segera mengambil tas kecilnya dan pergi keluar. Kebetulan di depan komplek perumahan ada tukang ketoprak yang rasanya tidak kalah enak dari ketoprak Mang Epep di kampus.
Sambil makan ketoprak, Marisa juga masih sempat memeriksa HP nya tapi tidak ada pesan ataupun telepon dari Indra. Entah kenapa Marisa merasa sangat kehilangan dan sedih. Beda sekali dengan perasaannya pada Andro yang biasa saja.
"Sejak kemarin, Pak Indra tidak ada mengirim pesan ataupun menelepon ku. Apakah dia memang tidak membutuhkan aku lagi?! Tidak merasa kehilangan aku?! Tidak ada sama sekali pengaruhnya mau aku ada ataupun tidak?!" batin Marisa.
Lucunya lagi, Marisa bahkan mulai merindukan kebawelan dan kegalakan Indra! Rasanya tidak apa-apa kalau saat ini Indra menelepon nya walaupun hanya untuk sekedar marah-marah. Yang penting Marisa bisa mendengar suara Indra!
Saat itulah tiba-tiba ada seseorang yang ikut duduk di tempat Marisa makan. Padahal tempat duduk yang lain masih kosong. Marisa yang masih sibuk dengan pikirannya tentang Indra tidak menyadari kehadiran orang itu hingga akhirnya ada suara yang menyapanya.
__ADS_1
"Mar, aku boleh ikut makan disini?!"
Marisa mendongak dan menatap Fero yang ternyata sudah duduk di kursi yang ada di sebelahnya.
"Fero?" kata Marisa bingung.
"Aku mau ikut duduk disini, kamu sendiri kan?" kata Fero.
"Kursi kosong masih banyak"
"Sekalian ada yang mau aku bicarakan sama kamu, Mar"
"Ada apa?"
"Aku mau minta maaf"
"Maaf? Masalah apa?"
"Masalah aku yang dulu gak mau mendengarkan penjelasan kamu. Sehingga aku mutusin kamu. Padahal sekarang aku tahu kalau kamu gak ada hubungan apa-apa dengan Pak Indra"
"Ya Allah! Masalah itu?! Aku juga udah lupa"
"Tapi aku merasa gak enak dan merasa bersalah"
"Aku udah gak apa-apa. Aku udah ikhlas kok! Beneran! Malahan aku ikut seneng kamu sekarang sama Mbak Niki. Mudah-mudahan segera ke jenjang pernikahan"
"Ngacok, ah!" Fero seperti tidak senang dengan perkataan Marisa.
Marisa mengerutkan keningnya. "Ngacok gimana?"
"Aku sama Niki menjalani semuanya dengan tenang tanpa ada rencana ke arah sana. Aku belum ada niat apalagi pikiran untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Aku dan Niki merasa sama-sama nyaman. Itu saja!" kata Fero seolah tanpa beban.
"Astaghfirullah! Kamu kok bisa bicara seperti itu?! Kamu cuma main-main sama Mbak Niki apa gimana?! Kalau kamu gak serius, kenapa kamu jalani?! Mbak Niki mungkin sudah berpikir kalau kamu serius dan akan menikahi nya!" Marisa berkata agak keras karena tidak menyangka kalau Fero tidak serius berhubungan dengan Mbak Niki!
__ADS_1