My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 112 : Saya Sudah Lelah!


__ADS_3

Untuk beberapa saat Marisa tidak bisa berbuat apa-apa ketika Indra mendekap kepala Marisa di dada bidangnya. Apalagi dekapan Indra terasa sangat kokoh. Ada getaran rasa nyaman saat Marisa bersandar di dada Indra dan mendengarkan detak jantungnya yang berdegup kencang.


"Detak jantungnya begitu kencang" batin Marisa. "Kenapa bisa sekencang ini? Apakah dia merasa debaran saat mendekap ku seperti ini?"


Hingga akhirnya kesadaran Marisa kembali dan refleks dia menjauh dari dada Indra. Wajah Marisa bersemu merah, sementara Indra tampak kecewa karena Marisa menjauhinya.


"Kenapa menjauhi saya?" tanya Indra.


"Maaf, Pak Indra. Saya tidak nyaman Anda dekap seperti itu" kata Marisa berdusta, dia sangat suka dengan dekapan Indra. Sangat suka! Lengan besar yang merangkul dengan kokoh, membawa rasa nyaman yang hakiki.


"Kamu lebih suka kalau Andro yang mendekap kamu! Iya kan?!" Indra mulai ngegas lagi!


"Anda bicara apa sih!" sergah Marisa gusar.


"Tadi kan kamu yang berbisik di telinga saya agar saya bangun! Kamu juga bilang Sayang!" desak Indra.


"Sepertinya Anda sedang bermimpi tadi" Marisa masih juga tidak mau jujur.


"Tapi saya tidak bermimpi! Saya bisa merasakan kamu mencium pipi saya!"


"Ya, terserah Anda! Kalau Anda mau beranggapan begitu, ya silahkan!"


"Kamu sombong sekali, Marisa..." kali ini Indra mengeluh dan meraba kepalanya yang di perban. "Aduh! Sakit sekali!"


Marisa kaget dan segera memegang tangan Indra. "Ada yang sakit, Pak Indra? Saya panggilkan dokter ya?" Marisa khawatir sekali.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada saya? Kenapa saya ada di rumah sakit ini?" tanya Indra seraya memerhatikan keadaan sekitarnya. "Rumah sakit ini jelek dan sangat tidak memenuhi syarat! Kamu yang membawa saya kesini?! Kamu seenaknya saja membawa saya kesini!" Indra malah merutuk!


"Lho, kalau saya tidak segera membawa Anda kesini, Anda bisa tidak tertolong!" kata Marisa kesal!


"Memangnya apa yang terjadi pada saya?"

__ADS_1


"Semalam saya menemukan Anda di sebuah bar. Anda dalam keadaan terluka parah karena di aniaya oleh seseorang"


"Apa?! Di aniaya?!"


"Iya"


"Siapa yang melakukan nya?"


"Saya menduga dia adalah Herman"


Indra coba mengingat-ingat kejadian semalam. Hingga akhirnya dia perlahan bisa mengingat semuanya.


"Sial! Kurang ajar! Pasti Herman yang melakukan ini semua pada saya! Dasar tidak tahu diri! Saya akan bawa dia ke jalur hukum! Saya pastikan dia akan membusuk didalam penjara!" geram Indra!


"Anda telah menganiaya Herman lebih dulu. Keadaannya sangat menderita. Wajah nya rusak. Dia cacat seumur hidup. Kalau bisa wajah nya harus di operasi plastik. Kasihan sekali! Pasti tidak akan ada yang naksir sama dia sekarang" kata Marisa.


"Dasar konyol kamu! Dia hanya saya pukuli! Mana mungkin dia bisa cacat?!"


"Ya ampun, Pak Indra! Keadaan wajah Herman sangat mengerikan! Saya sendiri ketakutan melihatnya! Kalau tidak percaya, Anda bisa tanyakan pada Fero!"


Marisa kaget sekali! Hatinya terasa perih mendengar kata-kata Indra yang jahat! Matanya berkaca-kaca.


"Jaga ucapan Anda, Pak Indra Perdana yang terhormat! Saya bukan wanita seperti itu! Saya masih punya harga diri!"


"Harga diri! Selalu itu yang kamu katakan dan kamu bangga-banggakan! Tapi bagaimana saya mau percaya?! Kamu bersama pria yang adalah mantan kekasih kamu di malam hari berada didalam sebuah bar?! Mau apa kalau bukan untuk bersenang-senang?! Padahal adik saya sekarang ini sedang berada jauh di Turki untuk memperjuangkan kamu!"


..."Cukup! Anda ini benar-benar tidak bisa memberikan kesempatan saya untuk bicara! Saya berada di bar Alexandre karena sedang mencari Anda!"...


"Mencari saya?!"


"Iya! Malam tadi saya sudah tidur di kosan! Mama Anda tiba-tiba menelepon saya dan meminta saya mencari tahu dimana keberadaan Anda karena Anda belum pulang juga! Saya lalu ingat kalau siang kemarin Anda bilang senang menghabiskan waktu di bar yang tidak jauh dari kampus Anda dulu! Saya lalu mencari tahu di google maps tentang bar yang ada di sekitar kampus Anda dan saya menemukan nama Alexandre bar! Saya pun memutuskan kesana! Saat itu hujan turun deras sekali dan saya bertemu Fero di jalan raya saat sedang menunggu taksi online! Jadi saya pergi bersamanya!" tutur Marisa panjang lebar.

__ADS_1


"Bagus juga ya cerita karangan kamu!" Indra malah meledek seraya bertepuk tangan!


Marisa kehabisan kesabarannya! Marisa bangkit berdiri dan berbalik hendak meninggalkan ruangan itu.


"Hey! Mau kemana?!" seru Indra dan segera mencengkeram lengan Marisa lagi!


..."Lepaskan saya!" bentak Marisa kesal dengan air mata sudah membanjiri wajahnya....


"Kamu tidak boleh pergi begitu saja! Siapa yang akan membantu saya meninggalkan rumah sakit jelek ini?!"


"Bodo amat! Bukan urusan saya!"


"Dasar cengeng! Di kata-katai seperti itu saja kamu merajuk dan menangis!"


"Saya sudah lelah, Pak Indra! Semalaman saya berjuang mencari Anda! Walaupun dingin dan hujan deras saya tetap mencari Anda! Hingga akhirnya saya berhasil menemukan Anda dan membawa Anda kesini. Ke rumah sakit jelek tapi sudah menyelamatkan nyawa Anda ini! Tapi bukannya ucapan terima kasih yang saya dapatkan, melainkan selalu penghinaan!"


Indra menarik lengan Marisa dan mengusap pipi Marisa yang basah dengan air mata. "Sudah! Jangan menangis terus! Saya kan, hanya menduga-duga!" katanya seolah tidak merasa telah menyakiti perasaan orang!


"Sekarang saya mau pulang. Saya tidak tidur semalaman karena menunggui Anda! Saya mau istirahat! Saya akan menelepon Mama Anda dan Mbak Bella atau Pak Rafi untuk datang kesini dan mengurusi Anda!" kata Marisa sambil mencoba melepaskan cengkraman Indra dari tangannya.


"Saya tidak mau! Saya mau kamu yang mengurusi saya disini!" kata Indra seenaknya.


"Itu bukan kewajiban saya! Saya tidak mau!"


"Harus mau! Kamu kan asisten pribadi saya! Kalau tidak saya akan memberikan nilai D untuk kamu!"


"Saya tidak perduli! Saya sudah lelah!"


"Saya tidak bisa meninggalkan rumah sakit ini sendirian! Saya juga tidak bisa memberi tahu Mama tentang kondisi saya saat ini! Mama bisa syok!"


"Saya akan telepon pihak kantor!"

__ADS_1


"Ini bukan urusan kantor, Marisa! Ini urusan pribadi diluar pekerjaan! Bella dan Rafi hanya berhak mengurus masalah pekerjaan kantor!"


"Saya juga tidak berhak! Saya bukan siapa-siapa Anda! Saya cuma seorang wanita miskin yang selalu Anda hina dan kebetulan terlibat dalam kehidupan Anda yang ruwet! Sekarang lepaskan saya!" Marisa menghentakkan lengannya dengan keras dan akibatnya membuat Indra yang terbaring di ranjang perawatan ikut terseret dan jatuh terguling ke lantai!


__ADS_2