
Marisa sudah mabuk kepayang dengan perlakuan Indra kepadanya. Secara perlahan-lahan Marisa mulai mengenal kenikmatan surga dunia dari Indra. Marisa mulai mau menikmati apa yang Indra lakukan kepadanya tanpa ada penolakan.
Seperti saat ini, Marisa malah semakin membenamkan wajah Indra ke dada nya. Bibir Marisa tidak hentinya merintih dan mendesah karena merasa nikmat dengan apa yang Indra sedang lakukan kepada tubuh bagian atasnya. Semakin kuat hisapan bibir Indra, semakin nikmat juga yang Marisa rasakan.
Indra yang sudah berpengalaman dalam hal menaklukkan wanita di atas ranjang tahu persis kalau Marisa sedang dalam keadaan sangat bergairah. Apalagi suasana kamar Marisa yang gelap dan udara dalam kamar yang sangat dingin.
Perlahan Indra menyusupkan satu tangannya ke balik celana tidur Marisa, terus merayap ke arah bawah tubuh Marisa dan menemukan sebuah gundukan hangat di antara kedua belah paha Marisa yang masih terhalang oleh penutup nya.
Indra dengan lihainya meraba-rabanya sehingga Marisa merasa kaget dan segera merapatkan kedua kakinya. "Jangan, Dra! Jangan yang itu!" desah Marisa.
Indra melepaskan hisapannya dari pucuk dada Marisa dan menatap wajah gadis itu dengan penuh gairah. "Tidak apa-apa, Sayang. Tidak akan saya rusak! Saya sangat mencintai kamu dan saya sudah berjanji tidak akan memetik kegadisan kamu sebelum waktunya" katanya.
"Tapi kamu bisa kelepasan, Dra..."
"Marisa, kita sudah beberapa bulan pacaran dan bahkan kita sudah bertunangan. Saya sudah terlatih untuk menahan nafsu saya kepada kamu. Kamu tenang saja. Saya hanya ingin mengajari kamu sedikit kenikmatan dan menghangatkan tubuh kamu di udara yang dingin ini"
Indra meraba lagi ke antara kedua belah paha Marisa dan kali ini Marisa agak melebarkan kakinya untuk memberikan Indra jalan dan mengakses bagian tubuhnya yang paling rahasia dan berharga.
Indra menggesek-gesek bagian bawah tubuh Marisa dengan jari-jarinya dan Indra bisa merasakan bahwa penutup dari bagian bawah itu telah menjadi lembab.
"Ah... Indra...! Auh...! Kamu nakal sekali, Indra Perdana...!" Marisa tidak sanggup menahan kenikmatan dan langsung merangkul bahu Indra dengan kencang.
Darah Indra mengalir deras dan jantungnya berdetak kencang. "Gila! Baru saya raba bagian luarnya saja tapi saya bisa langsung gemetaran begini!" batin Indra seraya menelan ludahnya sendiri.
__ADS_1
Indra tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menyusupkan tangannya kedalam penutup bagian bawah tubuh Marisa dan merasakan betapa lembab nya bagian itu. Dengan perlahan Indra menyusupkan dua jarinya kedalam celah disana dengan hati-hati agar tidak sampai merusak nya.
"Akhh! Akhh! Indra please...! Oh Indra!" Marisa melejang-lejang seperti cacing kepanasan saat merasakan dua jari Indra di bawah sana bergerak dengan liar membawa rasa sensasi yang luar biasa untuk Marisa!
"Nikmat, Sayang?" bisik Indra lalu melu mat bibir Marisa dengan kasar.
"Enggh... Enggh..." Marisa tidak bisa menjawab karena bibirnya tersumbat oleh bibir Indra tapi kepalanya mengangguk-angguk.
"Nikmati saja, Sayang... Buka lebar kaki kamu, agar saya lebih leluasa" bisik Indra.
"Jangan dalam-dalam Dra...!" bisik Marisa tapi melebarkan kedua kakinya.
"Iya, Sayang. Ini masih di bagian luar kok" Indra mempercepat gerakan jari-jarinya sehingga membuat Marisa menjerit-jerit kecil.
"Lepaskan saja, Marisa! Jangan di tahan! Ayo lepaskan!" perintah Indra tegas!
Marisa menjerit histeris dan tubuhnya mengejang hebat dalam dekapan Indra. Untuk sesaat Marisa merasa seluruh tubuhnya lemas dan ringan seperti melayang-layang di udara. Nikmat sekali rasanya apa yang telah Indra perbuat kepadanya.
Wajah Marisa merah padam terbenam dalam dada bidang Indra. Nafas Marisa tersengal-sengal menahan sensasi yang belum pernah di rasakan nya.
Indra menciumi rambut Marisa dengan penuh kasih sayang. "Lemas, Sayang?" bisik Indra.
"Iya, lemas sekali..." bisik Marisa.
__ADS_1
"Ya sudah, tidur saja dalam dekapan saya! Dasar anak gadis kesayangan! Baru pakai jari saja kamu sudah kewalahan! Apalagi kalau nanti saya pakai bibir, lidah, dan senjata saya yang utama?!" goda Indra seraya terkekeh.
"Kamu jahat, Indra!" pekik Marisa seraya memukuli dada Indra.
"St! Sudah! Sudah! Jangan memukuli saya begitu! Sekarang kamu tidur! Tadi kan kamu bilang kalau kamu lemas?! Ayo jangan buat saya berubah pikiran! Karena saat ini senjata saya sudah sangat tegang! Saya takut tidak bisa menahan diri dan langsung menerkam tubuh kamu yang nikmat itu!" geram Indra.
"Iya! Saya akan tidur!" kata Marisa takut dan langsung memeluk Indra! Di pejamkan mata nya dan meringkuk dalam dekapan hangat Indra.
Indra balas memeluk Marisa sambil membelai-belai rambutnya dengan lembut dan sebentar saja Marisa langsung terlelap dalam tidurnya.
"Kamu benar-benar luar biasa, Marisa! Begitu bernafsunya saya kepada tubuh kamu, tapi saya masih bisa menahan nya karena saya sangat mencintai kamu!" bisik Indra.
*******
Andro Perdana melihat dari kaca jendela kamarnya kalau sang kakak, Indra Perdana keluar dari kediaman keluarga mereka dengan menggunakan mobil sport mewah nya. Indra pasti pergi untuk menemui Marisa karena tidak sanggup menahan perasaan rindu kepada kekasihnya itu.
Andro menghela nafas panjang. Kenapa rasanya masih begitu berat untuk menerima kenyataan kalau Marisa bukan miliknya lagi?! Marisa milik Indra dan selamanya tidak akan kembali kepada Andro! Tidak mungkin!
Baru beberapa jam yang lalu, Andro mengimami shalat Marisa. Semuanya begitu indah terjadi, tapi kini Indra yang sedang berangkat ke rumah Marisa padahal jam masih menunjukkan pukul 3 dini hari, masih terlalu gelap untuk berkunjung ke rumah seseorang.
"Untuk apa Indra pergi ke rumah Marisa selarut ini? Apakah dia tidak bisa menunggu sampai pagi? Bagaimana jika Indra lupa diri dan melakukan sesuatu yang tidak baik kepada Marisa? Ya Allah... Semoga Indra bisa menjaga Marisa sampai hari pernikahan mereka berdua" gumam Andro.
Sekarang beban pikiran Andro sudah berkurang. Marisa dan Indra pasti sudah berbaikan. Tinggal menemui Henry untuk membicarakan masalah nya dengan Indra. Mau tak mau Andro lagi yang harus menyelesaikan masalah ini. Tidak mungkin Andro menceritakan semuanya kepada Indra bahwa Henry lah yang telah mengirim tiga wanita itu untuk menggoda Indra dan mengirim pesan kepada Marisa agar Marisa memergokinya. Yang ada Indra pasti tidak akan bisa bersabar dan membawa Henry ke jalur hukum! Atau yang lebih gawat lagi, Indra langsung mencari Henry dan membuat perhitungan dengannya!
__ADS_1
"Kenapa juga saya yang harus menyelesaikan masalah Indra ini?! Sementara Indra malah asyik bersenang-senang dengan Marisa saat ini!" rutuk Andro.