
Marisa pun pergi bersama Indra dan Reno ke kebun mereka yang tidak jauh dari rumah. Sampai disana, Indra yang tidak biasa berada di kebun mulai merasa tidak nyaman karena banyak serangga yang mendekatinya.
"Kamu duduk saja di saung sana, sama Reno. Saya mau petik lalapan dulu" kata Marisa pada Indra.
Indra dan Reno duduk berdua di saung sambil menunggu Marisa. Sialnya semakin banyak serangga yang mendekati Indra! Mau marah, malu sama Reno. Mau pergi, tidak tahu jalan pulang. Akhirnya Indra hanya bisa menepuk sana-sini setiap ada serangga yang mendekatinya.
Sementara Marisa dengan riang memetik daun-daun singkong dan juga lalapan lainnya seperti kacang panjang dan timun. Sudah lama sekali Marisa tidak pergi ke kebun keluarganya selama kuliah di ibukota.
"Banyak sekali serangga-serangga disini!" kata Indra kesal.
"Namanya juga kebun" kata Reno.
"Menggangu sekali! Saya jadi gatal-gatal!"
"Kalau begitu kita naik ke pohon yuk?! Ambil kelapa!"
"Tidak mau, saya takut jatuh!"
"Masa laki-laki tidak bisa naik pohon?"
"Saya kan orang kota. Kerja saya di kantor. Main komputer. Bukannya naik pohon"
Reno cemberut. Kak Indra tidak ramah seperti Kak Andro! Reno jadi teringat kepada Andro. Reno memperhatikan wajah Indra yang sangat mirip dengan Andro. Timbul rasa penasaran di hati anak laki-laki berusia dua belas tahun itu.
"Kak Indra ini siapanya Kak Andro?" tanya Reno.
"Andro adik saya" jawab Indra.
"Kenapa Kak Andro tidak ikut kesini?"
"Kakak kamu, Marisa ingin saya yang menemaninya"
"Kak Andro gak marah? Kak Andro kan pacarnya Kak Marisa?"
Indra merangkul bahu Reno. "Kak Marisa sekarang adalah pacar saya"
Mata Reno membesar. "Kok bisa sih? Jadi Kak Marisa putus sama Kak Andro?"
"Iya, karena Kak Marisa lebih suka kepada saya"
Reno diam, pikirannya tidak bisa mengerti kenapa Marisa bisa memilih Indra yang adalah kakak Andro?
__ADS_1
"Kamu juga suka kan kepada saya?" tanya Indra.
"Ya tergantung Kak Indra nya! Apakah Kak Indra bisa membahagiakan Kak Marisa?" jawab Reno serius.
"Oh, kalau masalah itu kamu jangan khawatir! Saya pasti akan bisa membahagiakan kakak kamu! Saya ini seorang CEO sukses! Perusahaan saya tersebar hampir di seluruh Indonesia dan sampai ke luar negeri! Apartemen saya jumlahnya ratusan dan mobil mewah saya puluhan!"
"Wow!!!"
"Kalau kamu mau, saya akan berikan satu mobil sport saya untuk kamu!"
"Kak Indra ini sombong sekali! Beda jauh dengan Kak Andro! Kak Andro tidak pernah menceritakan tentang harta kekayaannya kepada saya. Malahan saat saya sakit dan Kak Andro yang membayar semua biaya pengobatan di rumah sakit, Kak Andro bilang kalau dia hanya perantara Allah untuk membantu saya!"
Indra menggeram!
Andro lagi!
Indra pikir Reno adalah seorang bocah yang mudah di pikat dengan harta! Ternyata bocah itu malah men-cap Indra sebagai seorang yang sombong dan membanding-bandingkan Indra dengan Andro!
Indra mencoba tersenyum. "Saya sama sekali tidak sombong! Saya hanya ingin kamu lebih mengenal saya" katanya.
"Oh... Tapi tidak baik lho bicara seperti tadi itu! Nanti di kiranya Kak Indra ini sombong!" kata Reno.
"Saya minta maaf, ya" kata Indra.
Indra jadi garuk-garuk kepalanya sendiri yang tidak gatal. Pikirannya segera mencari jawaban yang kira-kira tepat untuk pertanyaan Reno.
"Saya tidak mengambil Marisa dari adik saya. Marisa tidak merasa cocok dengan Andro. Marisa lebih merasa cocok dengan saya" kata Indra sebisanya.
"Kenapa begitu ya?! Padahal kan kak Andro baik sekali!"
Ugh! Kalau bukan adik dari Marisa, rasanya Indra ingin sekali menjual kepala Reno sampai benjol!
Untungnya saat itu Marisa datang dengan membawa bakul berisi banyak daun-daunan untuk di jadikan lalapan. Marisa segera menghampiri Indra dan Reno yang berada di saung.
"Hai, apakah kalian berdua sudah menjadi sahabat?" tanya Marisa.
"Sepertinya begitu! Iya kan, Reno?" Indra melirik Reno.
Tapi Reno malah meruncingkan bibirnya dan berkata. "Tidak! Saya tidak mau bersahabat dengan Kak Indra! Kak Indra sombong!" seusai berkata seperti itu, Reno segera berlari dari saung meninggalkan Marisa dan Indra.
Marisa kaget sekali melihat bagaimana sikap Reno. "Ada apa? Kenapa Reno jadi sensi begitu!" tanyanya pada Indra.
__ADS_1
Indra malah angkat bahunya.
"Masa kamu gak tahu? Kamu bicara apa saja dengan Reno?" Marisa bertanya lagi sambil duduk di samping Indra.
"Adik kamu bilang kenapa saya mengambil kamu dari Andro" jawab Indra dengan nada sedih.
Marise menghela nafas panjang. "Nanti saya akan jelaskan masalah ini kepada Reno. Andro memang sangat membekas di hati Reno. Sewaktu Reno sakit, Andro yang membayar biaya rumah sakit nya"
"Pantas saja"
"Tapi Ayah berniat untuk mengembalikan uang tersebut pada Andro. Andro yang tidak mau dan berkata kalau itu adalah bantuan dari Allah SWT dan Andro hanya sebagai perantara saja"
"Andro memang pintar bicara! Padahal dia cuma cari perhatian sama keluarga kamu!"
"Masih saja su'uzan dengan adik sendiri! Lalu kenapa tadi Reno bilang kalau kamu sombong?!"
"Itu..." Indra jadi bingung.
"Itu kenapa?" Marisa menatap Indra dengan tajam.
"Saya cuma bilang kalau saya ini seorang CEO sukses dan punya banyak mobil mewah. Saya juga menawarkan salah satu mobil sport saya untuk Reno jika dia mau. Tapi dia malah bilang kalau saya sombong"
Marisa geleng-geleng kepala. "Ya ampun, Indra! Itu namanya menyombongkan diri!"
"Tapi saya tidak berniat seperti itu! Saya cuma ingin Reno kagum kepada saya!"
"Tidak semua orang bisa kamu pikat dengan kekayaan kamu"
"Iya, saya salah dalam menilai Reno. Ternyata Reno sama seperti kakaknya. Tidak bisa saya dapatkan hatinya dengan harta dan kekuasaan saya"
Marisa tersenyum. "Nanti juga Reno akan biasa lagi kok. Anak-anak kan gampang di baikin"
"Ya semoga saya bisa segera mendekati Reno"
"Ya sudah, sekarang kita pulang yuk? Mama pasti sudah menunggu kita"
"Saya sayang kamu, Marisa. Saya akan berusaha untuk bisa masuk kedalam keluarga kamu. Seperti Andro..."
"Kamu pasti bisa!"
"Apapun akan saya lakukan. Asal kamu jadi milik saya! Asal kamu menyayangi saya! Saya tidak akan menyia-nyiakan pilihan yang telah kamu buat atas diri saya!"
__ADS_1
Marisa tersenyum dan membelai pipi Indra. "Saya juga sayang kamu"
Indra menggenggam tangan Marisa dan menciuminya. "Terima kasih, Marisa"