
Tibalah saatnya hari pertunangan Marisa dengan Indra. Tepat di enam bulan perkenalan mereka saat dimana Marisa hadir di Perdana Enterprise dengan status sebagai mahasiswi PKL dan kini status nya berubah drastis menjadi calon istri Indra Perdana!
Pertunangan mereka di gelar di sebuah gedung mewah kelas atas di pusat kota Jakarta. Pukul 7 malam acara resmi dimulai dan saat itu Marisa masih berada di ruang make-up. Marisa sedang menjalani proses make-up dengan di temani dua make-up artis ternama.
Marisa yang saat itu sudah berganti pakaian dengan gaun pertunangannya sudah hampir selesai di make-up dan kini sedang menjalani proses hair styles. Beberapa menit kemudian Marisa pun selesai di make-up dan kini sudah tampil sangat cantik dan anggun.
Dengan gaun pertunangan warna peach yang memiliki dada rendah tapi panjang hingga menyentuh lantai, sepatu high heels dengan warna senada dan bertabur Swarovski, riasan wajah yang elegan dan mewah, juga rambut yang ditata bergelung di puncak.
"Wah, Kak Marisa! Kakak cantik sekali!" kata salah seorang make-up artis yang bernama Vivi.
"Iya, cantik banget deh!" seru yang satunya lagi bernama Sintya yang adalah seorang pria tapi berpenampilan wanita.
"Makasih" kata Marisa sembari tersenyum menambah kecantikan nya semakin terlihat.
"Aduh! Kalau ike cowok, pasti ike untuk naksir deh sama Kak Marisa!" kata Sintya.
"Lho! Bukannya situ cowok?" goda Vivi.
"Ike ini cewek! Cewek jadi-jadian! Hik hik hik!"
Marisa dan Vivi pun mau tak mau jadi ikut tertawa mendengar kata-kata Sintya.
Saat itulah pintu ruangan make-up terbuka dan seseorang memasuki ruangan itu. Spontan Marisa, Vivi dan Sintya melirik ke arah pintu dan mendapati seorang pria tampan berjas hitam berdiri disana. Wajahnya yang tampan tampak tersenyum manis.
"Hai" sapa pria itu yang tak lain adalah Andro!
"Hai!" seru Sintya dan segera menghampiri Andro dengan gaya berlenggak lenggok khas kaum transgender. "Aduh, Pak CEO! Dilarang masuk kedalam ruangan ini! Calon istrinya masih belum boleh di temui! Nanti saja di acara pertunangan! Bisa pamali! Sana pergi! Hus! Hus! Hus!" seru Sintya yang mengira bahwa Andro adalah Indra, calon suami Marisa.
"Saya memang bukan calon suami Marisa" kata Andro.
"Hah!" Sintya kaget sekali! "Kalau bukan Pak CEO calon suami Kak Marisa, lalu Anda siapa?!"
"Saya Andro, adik dari Indra. Indra adalah calon suami Marisa"
__ADS_1
"Wah...! Adiknya aja udah ganteng tingkat dewa kayak gini! Apalagi kakaknya yang mau tunangan?!" seru Sintya.
"Iya, saya kira Anda adalah Pak Indra. Cocok banget lho sama Kak Marisa! Sumpah!" kata Vivi.
"Saya di minta oleh Indra untuk melihat bagaimana keadaan Marisa. Apakah dia sudah siap untuk memasuki ruang pertunangan" kata Andro.
"Oh! Tentu saja sudah siap! Ini Kak Marisa nya! Gimana? Udah cantik banget kan?"
Andro mendekati Marisa yang saat itu memang sudah terlihat sangat cantik! Mata Andro sampai tidak berkedip melihat Marisa. Rasanya seumur hidupnya belum pernah Andro merasa setakjub ini melihat ciptaan Tuhan.
"Luar biasa... Kamu cantik sekali, Marisa" kata Andro.
"Makasih" kata Marisa pelan dengan hati yang tidak menentu.
"Jangan di pandangi lama-lama! Nanti naksir lho!" kata Sintya.
"Saya memang sudah naksir Marisa jauh sebelum Indra naksir dia" kata Andro.
"Apaan sih, Ndro!" sergah Marisa dengan tatapan mata tidak suka.
Andro menutup mulutnya sendiri seolah sadar telah salah bicara. "Maaf, Marisa. Saya tidak sengaja"
"Kalau begitu saya dan Sintya keluar dulu ya?! Lagipula tugas kami disini sudah selesai" kata Vivi lalu menarik tangan Sintya.
"Apaan sih, Vi?! Ike masih betah disini!" kata Sintya.
"Ayo! Jangan ganggu orang yang mau bicara empat mata!"
Akhirnya mau tak mau Sintya ikut tarikan tangan Vivi untuk pergi meninggalkan ruangan itu.
Tinggalah Marisa dan Andro berdua disana.
Marisa berdiri berhadapan dengan Andro. "Apakah benar Indra meminta kamu kesini untuk melihat persiapan saya?" tanyanya.
__ADS_1
"Tidak, mana mungkin Indra meminta saya untuk menemui kamu" kata Andro.
"Lalu kenapa kamu kesini?"
"Saya hanya ingin bertemu dengan kamu. Selama ini sangat sulit bagi saya untuk bisa bertemu apalagi bicara hanya berdua dengan kamu. Indra selalu ada untuk mengekor di belakang kamu!"
"Apa yang mau kamu bicarakan?"
"Saya hanya ingin melihat kamu dengan gaun pertunangan itu. Luar biasa...! Indra sangat beruntung! Betapa dulu saya pernah memimpikan ada di posisi Indra.... Bertunangan dengan kamu. Saya sering membayangkan bagaimana kecantikan kamu di malam pertunangan kita. Saat ini justru kamu akan bertunangan dengan kakak saya, bahkan kamu lebih cantik dari yang saya bayangkan!"
Marisa merasa tidak enak hati karena pria pertama yang melihat penampilannya malam ini adalah Andro, bukan Indra. Padahal malam ini adalah malam pertunangan Marisa dengan Indra.
"Kenapa jadi Andro yang pertama kali melihat aku malam ini?! Aku khawatir pamali! Bagaimana kalau jodoh ku tertukar? Bukannya Indra tapi malah Andro?! Aku merasa hatiku tidak suci lagi karena pria pertama yang melihat wajahku adalah adik dari calon suami ku..." batin Marisa.
Marisa teringat satu novel lama yang pernah dia baca dari perpustakaan sekolah yang berjudul Belenggu Pintu Cinta karangan. Di novel itu menceritakan tentang seorang calon mempelai wanita bernama Menghan yang tidak sengaja terbuka kain penutup kepalanya dan terbang ke bahu seorang pria yang adalah kakak dari calon suaminya. Cerita selanjutnya dalam novel tersebut adalah Menghan akhirnya malah berjodoh dengan pria yang pertama melihat wajahnya di hari pernikahannya itu.
Seperti bisa merasakan kegelisahan hati Marisa, Andro pun meminta maaf kepada Marisa karena menemui Marisa malam itu. "Saya minta maaf, Marisa. Saya salah karena memaksakan untuk bertemu kamu malam ini..." katanya dengan nada sedih.
"Tidak apa-apa, saya tidak marah" kata Marisa.
"Anggaplah kehadiran saya malam hari ini untuk mengucapkan salam perpisahan kepada kamu. Setelah malam ini kamu adalah calon istri kakak saya, yang artinya adalah calon kakak ipar saya. Saya akan berusaha untuk bisa menerima kamu sebagai saudara saya. Selamat ya, Marisa. Selamat datang di keluarga Perdana. Semoga kamu bahagia bisa menjadi bagian dari keluarga kami"
Marisa tersenyum haru. "Terima kasih, Andro. Kamu baik sekali..."
"Saya juga berdoa agar kamu dan Indra bisa segera menikah dan hidup bahagia bersama"
"Amin..."
"Satu hal lagi yang ingin saya katakan"
"Tentang apa?"
"Sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi bagian terindah dalam hidup saya dan kamu akan selalu mendapat tempat didalam hati saya..."
__ADS_1