
Marisa memasuki ruangan CEO dengan langkah yang cepat. Begitu sampai disana ternyata Indra belum sampai. Marisa segera membuka laptopnya dan menyempurnakan agenda metting yang telah disusunnya untuk pagi ini. Mumpung masih ada waktu.
Indra datang sekitar lima belas menit kemudian. Indra sempat terpana melihat Marisa yang pagi itu tampak semakin cantik saja. Segar dan menggiurkan. Sosok yang semalam membuat Indra tidak bisa tidur karena terus menggangu pikiran.
Senyum manis Marisa tersungging dan suaranya begitu menyejukkan hati. "Selamat pagi, Pak Indra."
"Selamat pagi." baru kali ini Marisa mendengar Indra membalas sapaannya. Biasanya Indra hanya menggumam setiap kali Marisa atau yang lainnya mengucapkan salam.
Marisa dan Indra bertatapan. Indra rasanya ingin memeluk Marisa dan berkata kalau semalam bahkan beberapa hari ini selalu merindukan dan memikirkan Marisa. Tapi itu sama saja dengan menjatuhkan harga dirinya!
Sementara Marisa merasa ada sesuatu pada diri Indra. Indra tampak sedikit pucat dan tidak bersemangat. Marisa sedikit khawatir pada keadaan Indra. Bagaimanapun Marisa tidak bisa bersikap acuh pada Indra. Walaupun selama ini Indra sudah demikian menghinanya dan melecehkan dirinya. Tapi Indra tetaplah atasan Marisa dan juga kakak dari Andro.
"Pak Indra kenapa? Apakah Bapak sakit?" tanya Marisa.
"Saya kurang enak badan," jawab Indra.
"Apakah Bapak bisa memimpin metting nanti?"
"Bisa, saya tidak apa-apa."
"Syukurlah, saya khawatir. Apalagi saat ini Pak Andro tidak ada di kantor, dia sedang ada agenda metting di luar kota."
"Saya tahu Andro sedang tidak ada di kantor! Saya kakaknya! Kamu tidak perlu memberitahu saya tentang Andro! Memangnya kamu ini siapa?! Kamu hanya kekasihnya yang mungkin akan segera menjadi mantannya!" sentak Indra.
"Maaf, saya bukan bermaksud seperti itu."
"Sudahlah! Kita akan ke ruangan metting tiga puluh menit lagi. Kamu sudah siapkan agendanya?"
"Tentu sudah. Saya sudah menyelesaikannya dari rumah,"
"Bukankah adik kamu sedang sakit? Kenapa kamu masih bisa mengerjakan tugas itu?"
__ADS_1
"Kalau saya tidak mengerjakannya, apakah Anda tidak akan marah?"
"Tentu saya akan marah! Pertanyaan kamu seperti orang bodoh!"
Marisa jadi bingung sendiri. Indra ini tipe orang yang sangat menyebalkan! Tidak ada satupun yang benar dan baik di matanya selain dirinya sendiri!
"Oh ya, saya sudah menyuruh pihak perusahaan untuk mentransfer gaji kamu bulan ini," kata Indra tiba-tiba.
Mata Marisa berbinar. "Terima kasih, Pak Indra!" serunya.
"Saya harap kamu bisa mempergunakan uang kamu sendiri untuk keperluan kamu! Jangan memeras adik saya!" kata Indra mulai menjengkelkan lagi!
"Iya, saya mengerti."
"Saya juga berharap setelah kontrak kerja kamu selesai di perusahaan ini, kamu tidak usah berhubungan lagi dengan adik saya! Kamu jangan ganggu lagi hidupnya! Pergi dari Andro selamanya! Atau kalau tidak saya yang akan memaksa kamu pergi!"
Marisa pun merasa sedih. Baru saja dia merasa khawatir pada keadaan Indra yang terlihat pucat pagi ini, tapi sang CEO arogan itu malah membicarakan hal-hal yang membuat hatinya sakit.
"Kamu jangan coba mengajari saya! Saya bukan pria seperti itu! Wanita yang berlari-lari untuk mengejar saya!" bentak Indra.
"Saya tidak sedang membicarakan tentang Anda! Saya sedang membicarakan Pak Andro."
"Kamu sudah mulai berani berdebat dengan saya?!" Indra maju mendekati Marisa dengan kesal.
Marisa segera mengambil berkas-berkas yang ada di meja kerjanya dan bersiap pergi duluan dari ruangan itu. "Saya akan mempersiapkan segala keperluan metting! Saya tunggu Bapak disana!" kata Marisa lalu pergi cepat-cepat.
"Dasar menyebalkan!" rutuk Indra. "Kenapa aku bisa merindukan wanita menyebalkan seperti itu?! Padahal kalau sudah bertemu pasti dia hanya akan membuatku emosi! Lagipula apa maksudnya membawa-bawa nama Andro segala dalam pembicaraan denganku?! Dia fikir Andro sudah menjadi miliknya?!"
Akhirnya Indra menyusul Marisa ke ruang metting dan memimpin metting pagi itu. Metting berlangsung sampai jam sepuluh dengan hasil yang memuaskan karena pihak klien dari Korea Selatan setuju dengan tawaran kerjasama yang di tawarkan Perdana Enterprise.
"Selamat ya, Pak Indra! Mettingnya berjalan lancar." kata Pak Rafi.
__ADS_1
"Bukan hal yang sulit!" kata Indra sombong lalu meninggalkan ruangan metting dengan dada membusung dan wajah terangkat.
Sementara Marisa masih membereskan berkas-berkas metting yang berserakan di atas meja. Beberapa orang kepala bagian yang ikut metting juga masih berada di ruangan itu.
"Bagaimana Marisa, apakah kamu betah menjadi asisten pribadi Pak Indra?" tanya Pak Rafi.
"Alhamdulillah saya betah, Pak." jawab Marisa.
"Apakah seterusnya kamu akan menjadi asisten pribadi Pak Indra? Apakah Pak Indra akan mengangkat kamu jadi karyawan tetap?"
"Sepertinya tidak, saya kan seusai PKL disini masih harus melanjutkan kuliah saya satu semester lagi sebelum wisuda."
"Tapi Alhamdulillah ya, kamu sudah jadi kekasih Pak Andro." celetuk Pak Nino.
Marisa hanya tersenyum.
"Jadi bagaimana? Mau tunangan kapan? Jangan lupa undangannya!" kata Pak Nino lagi.
"Insya Allah."
Marisa kembali ke ruangan CEO seusai membereskan berkas-berkas metting. Indra tampak sedang santai sambil minum kopi panas. Marisa segera menyusun berkas-berkas metting di rak susun yang ada di sudut ruangan.
Karena posisi rak susun yang lebih rendah dari tubuhnya, maka Marisa membungkuk untuk bisa menyusun berkas-berkasnya. Posisinya Marisa yang seperti itu malah membuat bokongnya terlihat jelas oleh Indra.
Seketika itu juga Indra langsung menelan ludahnya sendiri melihat posisi Marisa yang seperti menungging ke arahnya. Apalagi betis Marisa yang putih dan juga terlihat jelas di bawah rok span selututnya.
Indra benar-benar merasa aneh, kenapa nafsunya langsung naik seketika saat melihat bokong Marisa yang indah! "Memalukan! Sejak kapan saya jadi mata keranjang seperti ini! Sialan! Kenapa tubuh saya jadi panas dan bangun begini?!" umpat Indra dalam hatinya.
Indra benar-benar tidak bisa menahan dirinya, dengan langkah perlahan Indra mendekati Marisa yang masih dengan posisi tubuhnya yang membungkuk membelakangi Indra.
Marisa tidak sadar kalau saat itu Indra tepat berada di belakangnya. Posisi Indra yang berdiri dan posisi Marisa yang setengah menungging. Kalau saja saat itu ada orang yang memasuki ruangan itu, pasti di sangkanya Marisa dan Indra sedang berbuat yang tidak-tidak!
__ADS_1
Marisa baru sadar saat pinggulnya di pegang kiri kanan oleh kedua tangan Indra dan Marisa merasakan kalau ada sesuatu yang keras menekan bokongnya! Saat itu juga Marisa terkejut sehingga dengan refleks meluruskan tubuhnya dan menoleh ke belakang!