
Selama satu bulan menjalani praktek kerja lapangan, baru pagi ini Marisa merasa berat sekali untuk melangkah memasuki ruangan CEO. Dua hari sejak pergi meninggalkan Indra di Sumedang, hari ini Marisa baru mendapatkan keberanian untuk kembali bertemu dengan Indra.
Dua hari di kos-an, Marisa berdiam diri dan mencoba melupakan semua yang telah terjadi di Sumedang. Marisa merahasiakan semuanya pada Gery bahkan Marisa sudah membuang baju tidurnya yang sobek akibat di renggut Indra.
Gery juga merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan Marisa. Gery mendesak Marisa agar bercerita ada apa sebenarnya yang terjadi pada Marisa yang mendadak berubah sepulang dari Sumedang. Tapi Marisa hanya mengatakan kalau dia tidak enak badan.
Pagi itu Indra Perdana sudah ada di ruangannya. Duduk santai dengan di temani secangkir kopi panas dan roti sandwich. Wajahnya menengadah melihat Marisa yang baru memasuki ruangan. Tatapan matanya yang tajam menusuk ke dalam hati Marisa.
"Pagi, Pak Indra..." sapa Marisa gugup.
"Hm!" Indra hanya menggumam.
Marisa hendak duduk di tempatnya tapi Indra memanggilnya dengan nada yang dingin. "Marisa, sini kamu!"
Marisa menelan ludahnya sendiri lalu menghampiri Indra ke meja kerjanya. "Ada apa, Pak?" tanyanya.
"Duduk kamu!" perintah Indra.
Marisa duduk di hadapan Indra. Sedikit menunduk dengan perasaan resah.
"Kamu tidak masuk kerja selama dua hari! Tidak ada juga kabar pada saya!" kata Indra kesal.
"Maaf, Pak. Saya sakit. Saya juga sudah mengirim email pada Mbak Bella kalau saya tidak bisa masuk kerja." kata Marisa.
"Sakit?! Kamu pergi dari Sumedang meninggalkan saya, eh! Maksud saya meninggalkan pekerjaan kamu yang belum rampung dan memilih pergi bersama orang asing yang tidak termasuk dalam jajaran direksi Perdana Enterprise! Sekarang kamu bilang kamu sakit?! Jangan-jangan kamu tidak sakit! Tapi selama dua hari ini kamu menghabiskan waktu bersama Henry Adiputra!" tuding Indra penuh emosi.
Marisa menggeleng. "Tidak, Pak! Saya tidak kemana-mana! Apalagi menghabiskan waktu bersama Henry Adiputra! Saya tertekan! Saya terguncang! Saya tidak berani untuk pergi ke kantor!"
__ADS_1
"Kenapa?! Apa yang menyebabkan kamu tertekan dan terguncang?!"
Rasanya Marisa ingin menjerit histeris dan berteriak,
"Anda sudah berusaha untuk memperkosa saya!"
Tapi yang ada Marisa hanya menundukkan kepala untuk menyembunyikan matanya yang basah.
"Kamu tidak perlu sok drama dengan mengatakan bahwa kamu terguncang, kamu tertekan atau apapun itu! Saya tidak melakukan apa-apa terhadap kamu!" kata Indra enteng.
"Bapak memang tidak berhasil melakukan apa-apa terhadap saya! Tapi Bapak sudah melukai perasaan saya..." kata Marisa dengan suara bergetar.
"Saya tidak merusak kamu dan tidak merampas kehormatan kamu! Saya minta baik-baik dan kamu tidak mau! Tapi kamu begitu mudahnya ikut dengan pria asing yang berbahaya!"
"Henry mungkin awalnya berniat tidak baik, tapi Alhamdulillah dia yang menjadi penolong saya dengan mengantar saya sampai tempat tinggal saya dengan selamat!"
"Saya menerima keputusan Anda!" diluar dugaan, Marisa menerima semua keputusan Indra, dan itu membuat Indra terkejut!
"Kamu ini! Dasar tidak punya rasa tanggung jawab sama sekali!" bentak Indra.
"Lalu saya harus apa?! Apakah saya harus mengemis dan meratap memohon di kaki Anda agar Anda mau mempertahankan saya di perusahaan ini?!" ucap Marisa setengah berteriak dan menengadah. Indra pun dapat melihat air mata menetes ke pipi gadis itu.
Hati Indra kembali bergetar, ada rasa sakit yang menjalar dan merayapi hatinya. Tapi bukan Indra Perdana namanya kalau tidak bisa menguasai keadaan, dengan congkak Indra berkata sinis, "Jadi kamu memilih untuk pergi dari perusahaan ini?! Pasti Henry Adiputra sudah menjanjikan kamu pekerjaan yang bagus, atau mungkin kamu sudah meneken perjanjian kontrak pernikahan dengan dia?!"
Mata Marisa membelalak. "Saya tidak serendah itu, Pak! Apa Anda lupa?! Saya telah menolak Anda, seorang Indra Perdana yang terhormat! Sekarang mana mungkin saya meneken perjanjian nikah kontrak dengan Henry Adiputra?!"
"Mungkin dia sesuai dengan selera kamu yang rendah seperti mantan pacar kamu, si Fero itu!"
__ADS_1
"Saya lebih tertarik pada adik Anda! Pak Andro Perdana!"
Mata Indra melotot sadis! "Berani kamu mengincar adik saya?!"
"Kita lihat saja nanti! Kalau Pak Andro terus-menerus mendekati saya, saya tidak akan bisa menolaknya!" tantang Marisa.
"Kenapa kamu tidak bisa menolaknya?! Sedangkan kamu berani menolak saya?! Memangnya Andro lebih baik dari saya?!" Indra bertanya penuh amarah.
"Pak Andro meminta saya untuk menjadi kekasihnya! Bukan meminta saya untuk menemaninya tidur semalam!" jawab Marisa yang membuat Indra kehabisan kata-kata.
"Kita selesaikan masalah antara kamu dan saya! Saya tidak menghendaki kamu lagi! Anggap saja tidak ada apa-apa yang terjadi pada kita selama di luar kota!"
Marisa mengalah. Tidak ada gunanya berdebat dengan Indra. "Baiklah! Kalau begitu saya pamit pergi. Saya akan kirimkan surat pengunduran diri saya lewat email,"
"Apa kamu bilang?!"
"Tadi Bapak yang bilang kalau saya akan di berhentikan dari perusahaan ini!"
"Saya berubah pikiran! Saya akan memberikan kamu kesempatan satu kali lagi! Kalau satu kali lagi kamu melanggar aturan kerja disini, saya akan berhentikan kamu dengan sangat tidak hormat!"
"Saya memang tidak pernah mendapatkan kehormatan selama disini!"
"Karena kamu memang tidak pantas untuk saya hormati! Kamu sok drama dan jual mahal padahal kamu tidak punya apa-apa! Padahal saya tahu latar belakang keluarga kamu! Kamu tinggal sebut saja berapa harga yang kamu inginkan untuk menjadi partner tidur saya! Tapi kamu menolaknya! Jangan menyesal kalau saya sekarang tidak menghendaki kamu lagi!"
Marisa mengelus dadanya. "Ya Allah... Kuatkan hati dan iman ku..." batinnya.
"Saya memang memberi kamu satu kesempatan lagi, tapi kamu jangan senang dulu! Perbuatan kamu yang telah melanggar perjanjian kontrak kerja dengan meninggalkan tugas sebelum rampung tetap harus mendapatkan sanksi! Karena itu di bulan pertama kerja praktek kamu di perusahaan ini, saya tidak akan memberikan kamu gaji bulanan pertama kamu! Kamu juga tidak akan mendapatkan intensif dan uang makan! Bulan pertama ini kamu tidak akan mendapatkan apapun dari Perdana Enterprise!" kata Indra tegas.
__ADS_1
Marisa tersenyum getir. "Apakah ada lagi yang akan Anda sampaikan? Kalau tidak ada, saya akan kembali ke meja kerja saya dan memulai tugas saya hari ini. Masalah gaji pertama saya, saya tidak akan ambil pusing dengan hal itu! Lagipula berapapun jumlah yang saya inginkan kalau saya mau, saya bisa memintanya dari Pak Andro, adik Anda!"