
"Aku menyukai Marisa! Satu kenyataan yang benar-benar aku takutkan dan akhirnya malah menjadi realita! Herman yang menyadarkan aku bahwa aku memang menyukai gadis itu.
"Lantas, kenapa aku bisa menyukainya? Apa karena wajah cantiknya? Senyum manisnya? Atau keindahan tubuhnya? Ah! Aku tidak tahu alasan pastinya! Yang jelas Andro juga sangat menyukai Marisa dan selera ku dan Andro biasanya sama.
"Aku bisa mendapatkan Marisa tanpa harus ada ikatan seperti kata Herman! Betul juga supirku itu! Aku adalah Indra Perdana! Aku tampan, atletis, kaya raya dan berkuasa! Marisa pasti bisa masuk ke dalam pelukanku tanpa aku memiliki ikatan dengannya.
"Tapi kenapa baru kali ini aku menyadari kalau aku bisa terpikat pada seorang gadis? Padahal selama ini Sofie selalu ada bersama ku dan aku tidak pernah sedikitpun berfikir untuk menikmatinya!
"Kadang beberapa klien bisnis mengajakku metting untuk menjalin kerjasama dan mereka mengimingi dengan keuntungan dan juga wanita! Belum lagi wanita-wanita yang mendekatiku! Entah dia dari partner bisnis, taman masa kuliah, atau karyawati-karyawati kantor. Tapi aku tidak perduli!
"Dan sekarang aku sangat menginginkan Marisa! Aku bisa membawanya ke dalam pelukan ku! Aku yakin setelah aku mendapatkannya, aku akan lekas melupakannya! Tapi untuk saat ini aku benar-benar menginginkan Marisa!"
Indra Perdana tersadar kalau saat ini dia sudah terpikat pada Marisa, seorang mahasiswi muda yang sedang menjalani PKL di perusahaannya.
Marisa kini sedang tidak baik-baik saja dengan Fero, kekasihnya. Pasti akan dengan sangat mudah untuk Indra bisa mendapatkan Marisa! Ia tinggal memberikan gadis itu hadiah untuk menghibur kesedihan hatinya dan selanjutnya gadis itu akan jatuh ke dalam pelukannya!
Masih ada beberapa hari lagi untuk Indra mendekati Marisa sebelum membawanya pergi ke luar kota untuk meresmikan proyek perumahan yang akan dibangun disana. Marisa harus benar-benar terpikat lebih dulu sebelum akhirnya mau menyerahkan dirinya secara sukarela!
Dan sejak hari itu, sikap Indra pun berubah menjadi lebih manis pada Marisa. Indra menjadi agak ramah dan tidak suka marah-marah apalagi sampai mengerjai Marisa. Indra juga sering melayangkan senyum pada Marisa.
"Marisa, Senin depan saya akan mengajak kamu pergi keluar kota untuk meresmikan pembangunan perumahan Perdana Enterprise. Kamu sudah siap kalau saya meminta kamu memberikan persentasi disana?" kata Indra pada Sabtu siang.
"Saya siap, Pak Indra!" seru Marisa.
Marisa berfikir kalau sikap Indra membaik karena ia puas dengan hasil design rumah yang Marisa buat untuk proyek perumahan yang akan segera dibangunnya. Tidak terpikirkan sama sekali oleh Marisa kalau Indra sedang berniat untuk mendapatkan dirinya.
Berbanding terbalik dengan Indra, Fero justru tidak pernah lagi menghubungi Marisa sejak tiga hari lalu dimana Marisa gagal untuk merayakan ulang tahun Fero.
Marisa sudah beratus kali mencoba untuk menghubungi Fero tapi tidak pernah berhasil. Malahan sejak hari ini, no HP Marisa sudah di blokir oleh Fero.
__ADS_1
Marisa benar-benar tidak mengerti apa kesalahannya pada Fero. Marisa ingin sekali menemui Fero di tempat kerjanya atau ke rumahnya, karena pernah beberapa kali diajak oleh Fero kesana, tapi Marisa belum ada waktu luang.
Besok hari Minggu, Marisa bisa menemui Fero di tempat kerjanya. Marisa tahu kalau saat ini Fero sedang ada pekerjaan di sebuah lokasi syuting FTV. Marisa harus menemui Fero untuk memastikan ada apakah sebenarnya dengan Fero yang tiba-tiba menghilang dari kehidupan Marisa di hari ulang tahunnya.
"Aku harus menemui Fero di lokasi syuting nya! Atau aku akan pergi ke Sumedang bersama Pak Indra dengan membawa beban masalah karena tidak mengetahui apa sebenarnya yang terjadi pada Fero!" batin Marisa.
Marisa menghela nafas panjang dan tak sengaja melirik Indra yang tampak sibuk dengan laptopnya. "Ini hari Sabtu. Tumben Pak Indra masih ada di kantor sampai sesore ini."
Marisa kembali menghela nafas. "Sudah jam tiga sore, biasanya dia sudah meninggalkan kantor dan pergi menemui Bu Sofie. Sementara aku... Aku malah sendirian di malam minggu ini karena Fero tampaknya tidak akan menemui aku..." batin Marisa sedih.
Tiba-tiba Indra menoleh dan matanya bertatapan dengan Marisa. Marisa gugup dan takut sekali kalau Indra akan membentaknya karena Marisa ketahuan mencuri pandang.
Tapi yang terjadi adalah sebaliknya! Indra tersenyum sangat manis, dan anehnya membuat dada Marisa berdegup kencang! Pipi Marisa memerah karena tersipu malu. Bahkan Marisa tidak sampai tersipu malu seperti ini saat Andro yang tersenyum padanya!
"Ada apa, Marisa?" tanya Indra ramah.
"Gak ada apa-apa, Pak..." jawab Marisa gugup.
Marisa pun terdiam, lalu menjawab dengan lemas. "Tidak ada, Pak."
"Lho, kenapa? Apa Fero masih belum bisa dihubungi?"
"Belum, Pak..."
"Aneh! Ada apa, ya?" Indra berpura-pura terlihat heran.
"Saya juga gak tahu apa yang terjadi sama dia..."
Indra bangkit dari duduknya dan mendekati meja kerja Marisa. "Berarti kamu tidak ada acara kan, malam minggu ini?" tanyanya sambil duduk di depan Marisa-hanya terhalang meja kerja.
__ADS_1
"Tidak ada, Pak." jawab Marisa.
"Apa kamu mau pergi sama saya?"
"Kemana, Pak?"
"Kita belanja keperluan untuk Senin nanti. Mungkin kamu mau membeli bekal cemilan, atau jaket dan sweater untuk ke Sumedang? Katanya disana dingin." tawar Indra dengan senyum manis yang membuat Marisa semakin terpana.
"Tidak usah, Pak." tolak Marisa halus.
"Kamu tidak usah malu-malu atau sungkan! Sudah menjadi kewajiban saya untuk memenuhi semua keperluan kamu selama kita di Sumedang nanti." Indra ulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Marisa yang ada diatas meja. Di genggam dan diremasnya perlahan.
"Pak Indra!" pekik Marisa tak tertahan. Ia spontan menarik tangannya dari genggaman Indra dengan mata yang terbelalak. "Ini beneran Pak Indra?! Atau jangan-jangan Pak Andro yang menyamar?!" batin Marisa dengan perasaan terkejut bukan main.
Indra mengerutkan keningnya. "Kenapa? Kamu gak suka kalau saya memegang tangan kamu?"
"Bukan begitu, Pak!"
"Jadi kamu mau kan pergi sama saya malam ini?"
"Maaf Pak, saya tidak bisa pergi dengan Bapak malam ini."
"Lho? Alasannya?"
"Ini malam minggu, Pak. Bapak pasti akan bertemu dengan Bu Sofie, kan? Mbak Bella pernah berkata pada saya kalau malam minggu adalah hari dimana Bapak tidak menerima metting atau acara apapun karena sudah menjadi jadwal pribadi Bapak dengan Bu Sofie."
Indra tertegun. Dia baru ingat kalau malam Minggu adalah jadwalnya bersama Sofie, dan itu sudah menjadi kebiasaan dari sejak mereka bertunangan.
Indra tidak pernah melewatkan satu malam Minggu pun tanpa kebersamaan dengan Sofie. Ibarat sebuah rutinitas, pertemuan dengan Sofie selalu menjadi prioritas Indra selama ini.
__ADS_1
Lalu apa sebabnya hingga kini Indra lupa pada rutinitas itu?! Apa hanya karena seorang Marisa lalu Indra bisa melupakan seorang Sofie?! Demi untuk bisa pergi dengan Marisa, Indra sampai lupa kalau hari ini adalah malam minggu yang biasa dia habiskan bersama Sofie!
Indra jadi ngeri pada pikirannya sendiri!