
Akhirnya setelah kurang lebih tiga bulan lamanya Marisa tidak menginjakkan kakinya di kampus kebanggaan nya itu. Kalau dulu Marisa pergi ke kampus dengan di bonceng motor oleh Gery, kini Marisa kembali ke kampus tapi dengan menaiki mobil mewah milik kekasih barunya, Sang CEO tampan bernama Indra Perdana.
"Makasih ya sudah mengantarkan saya sampai kampus" kata Marisa lalu mencium lembut pipi Indra.
"Sama-sama, Sayang" kata Indra.
"Nah sekarang kan saya sudah sampai di kampus. Kamu boleh berangkat ke kantor"
"Saya mau ikut ke area kampus kamu!"
Kening Marisa berkerut. "Mau ikut kedalam? Mau apa?"
"Ya mau lihat-lihat saja"
"Mau cari cewek baru ya?!"
"Tentu saja tidak! Saya tidak menginginkan wanita lain lagi!"
"Terus kamu mau apa?"
"Mau memperlihatkan kepada para mahasiswa yang menjadi teman kamu kalau sekarang kamu sudah memiliki kekasih! Jadi mereka akan mundur dan tidak lagi mengejar kamu!"
"Siapa yang mengejar saya?"
"Kamu sangat cantik, ramah, dan seksi! Saya yakin banyak mahasiswa atau mungkin dosen yang mengincar kamu!"
"Ada-ada saja kamu ini! Saya tidak pernah melayani orang-orang yang mencoba menggoda saya! Jadi kamu tidak usah khawatir!"
"Kalau saya mau masuk kedalam, kenapa kamu seperti yang tidak suka?! Kamu mencurigakan!" nada suara Indra mulai meninggi.
"Oke, oke! Kamu boleh ikut masuk kedalam area kampus! Jangan marah dulu dong!" Marisa mencoba untuk mengajak Indra tersenyum.
"Harusnya kamu bangga jadi kekasih seorang pria tampan dan kaya raya seperti saya! Tapi ini kamu seperti yang malu untuk go publik sama saya!" kata Indra masih dengan nada yang tinggi.
"Bukannya begitu. Saya hanya tidak mau mengganggu waktu kerja kamu. Banyak hal yang kamu harus kerjakan di kantor. Apalagi sudah dua minggu kamu tidak pernah ke kantor semenjak kita berada di puncak"
"Ya, saya tahu. Saya juga tidak akan lama, kok!"
__ADS_1
"Ya sudah yuk!"
Marisa dan Indra pun melangkah bersama memasuki area kampus Marisa yang ramai dengan para mahasiswa dan mahasiswi yang berkuliah disana. Kebanyakan dari mereka langsung menatap Indra yang sangat berkharisma dengan dandanan berkelas nya. Siapapun yang melihat pasti sudah memaklumi bahwa Indra bukan orang sembarangan. Terlihat dari penampilannya yang terlihat sangat berkharisma.
Dua orang sahabat Marisa langsung menghampiri dan memeluk Marisa yang sudah lama tidak mereka temui. Mereka bertemu kangen karena selama tiga bulan ini menjalani masa PKL di tempat yang berbeda.
"Marisa! Ya ampun! Kamu tambah cantik aja!" seru Julia.
"Iya ih! Makin dewasa dan terlihat segar!" kata Nita.
"Kalian juga makin cantik, kok! Gimana PKL nya? Sukses?" kata Marisa.
"Alhamdulillah. Aku dapat nilai baik" kata Nita.
"Aku gak tahu sih. Cuma selama ini aku banyak buat kesalahan! Mudah-mudahan aja atasan aku mau berbaik hati memberikan aku nilai cukup" kata Julia.
"Kalau kamu gimana, Mar?" tanya Nita.
"Aku Alhamdulillah dapat nilai bagus" kata Marisa.
"Wah! Apakah nilai A?" tanya Julia.
Julia dan Nita mengalihkan perhatian pada Indra yang berada di samping Marisa. Saking antusiasnya bertemu dengan Marisa, mereka sampai tidak menyadari bahwa ada seorang pria tampan berpenampilan eksekutif muda yang menemani Marisa saat itu.
"Ini siapa?" tanya Julia.
"Ini Pak Indra. Atasan aku di perusahaan tempat aku PKL" jawab Marisa.
"Kok ikut kesini?" tanya Nita.
"Tahu tuh dia mau ikut kesini!" kata Marisa seraya mengerling manja ke arah Indra.
Julia dan Nita menjadi bingung. Marisa tampak sangat berani kepada atasannya. Padahal selama PKL, Julia dan Nita hampir tidak pernah bertemu dengan CEO di tempat mereka bekerja.
Indra merangkul bahu Marisa. "Kenalkan, saya Indra Perdana. CEO utama di Perdana Enterprise tempat Marisa PKL dan sekarang saya adalah kekasih Marisa" kata Indra yang membuat Julia dan Nita terperangah.
"Wah! CEO utama masih muda begini" kata Julia.
__ADS_1
"Iya ih! Di tempat aku PKL tuh CEO nya udah Om-Om!" kata Nita.
"Pantes aja Marisa dapat nilai A+!"
"Beruntung sekali, Marisa!"
"Sudah ah! Aku dapat nilai A+ karena kerja aku juga bagus kok!" kata Marisa.
"Percaya deh!" kata Julia sembari tertawa.
"Aku serius! Aku tidak memanfaatkan Indra untuk mendapatkan nilai bagus!"
Hari itu berjalan menyenangkan. Marisa kembali ke kampus dan bertemu dengan teman-temannya. Sebentar saja kabar kalau Marisa berhasil berpacaran dengan CEO di tempat PKL nya sudah menyebar. Apalagi Julia dan Nita menceritakan kepada teman-teman yang lain kalau Sang CEO bernama Indra Perdana itu berwajah sangat tampan.
Marisa merasa risih juga, apalagi tidak semua teman-teman seangkatannya itu berbaik hati. Di antara mereka ada saja beberapa orang yang sirik dan menilai buruk terhadap Marisa. Mereka menganggap keberhasilan Marisa dalam mendapatkan nilai bagus dalam PKL nya adalah hal yang di dapatkan dengan cara yang tidak halal.
Saat jam pulang kuliah, Marisa mendapati Indra sudah berada di depan kelas nya dengan membawa satu buket bunga mawar merah. Begitu Marisa keluar dari ruangan kelas, Indra langsung menghampiri dan menyerahkan buket mawar merah itu sembari menundukkan kepalanya.
"Selamat siang, Tuan Putri" sapa Indra yang terdengar konyol di telinga Marisa.
"Saya tidak ulang tahun! Kenapa bawa-bawa bunga segala!" tanya Marisa.
"Ini bukan hadiah ulang tahun. Ini hanya sekedar hadiah kecil untuk menyambut kekasih saya yang baru pulang kuliah" jawab Indra.
Tentu saja para mahasiswa yang melihat kejadian itu langsung heboh dan menyoraki Marisa. Marisa menggeram kesal dan langsung menarik lengan Indra untuk segera pergi dari sana.
Marisa menarik Indra ke pelataran parkir gedung kampus nya. Dengan kesal di hentakannya lengan Indra yang sedari tadi di tarik-tarik nya.
"Kamu kenapa? Ini bunga nya kok tidak segera di terima?" tanya Indra.
"Kamu yang kenapa?!" Marisa balik bertanya.
"Memangnya saya kenapa?!" Indra tidak mengerti.
"Kamu konyol! Datang kesini dengan membawa bunga mawar merah! Ini tempat umum! Saya tidak suka jadi pusat perhatian seperti tadi itu! Saya malu!" Marisa marah-marah kepada Indra.
Indra tampak kesal tapi pria itu berupaya keras untuk menahan emosi nya. Indra kini seolah mendapatkan karma atas perbuatan buruknya di masa lalu kepada Marisa. Sekarang Indra yang merasa sangat ketakutan kehilangan Marisa dan ingin selalu berdekatan dengan gadis itu. Tapi setiap kali Indra datang, Marisa bukannya menunjukkan kebahagiaan malahan memperlihatkan rasa kesal.
__ADS_1
"Saya tidak bermaksud untuk mempermalukan kamu. Saya hanya ingin membahagiakan kamu. Tadi di kantor saya sempat bertanya pada Bella. Apa kira-kira yang bisa membuat seorang wanita bahagia kalau seorang pria ingin memberikan hadiah kecil. Bella berkata kalau wanita biasanya senang jika di bawakan bunga" tutur Indra dengan nada sedih.