
Marisa malam itu tertidur nyenyak. Hatinya sudah tenang karena yakin kalau Indra tidak ada kaitannya dengan tiga wanita yang tadi siang di pergoki nya di apartemen Pak Tio itu. Apalagi setelah Andro meyakinkan Marisa kalau ini semua adalah ulah dari Henry.
Tiba-tiba saja Marisa merasakan tubuhnya di peluk dengan erat dan terasa harum tubuh yang sudah tidak asing lagi merasuki penciuman nya. Harum tubuh Indra Perdana!
'cup' 'cup' 'cup'
Terasa ciuman hangat bertubi-tubi jatuh di pipi, kening, dan bibir Marisa. Marisa mulai terbangun dari tidurnya walaupun belum membuka mata. Benak nya mulai berpikir. "Indra... Apakah aku sangat merindukan nya sehingga aku bisa merasakan pelukan hangat, harum tubuh, dan kecupan mesra nya?"
Marisa tidak bisa berpikir lebih jauh lagi karena masih mengantuk, perlahan-lahan kesadarannya mulai menurun dan Marisa mulai masukkan ke alam mimpi. Tapi sentuhan itu terasa lagi, lebih nyata dan nyaman karena Marisa merasa punggungnya di belai-belai.
Perlahan Marisa bangun kembali dan matanya mulai membuka. Saya di lihatnya wajah tampan Indra. Wajah sang kekasih yang dia rindukan.
"Indra..." ucap Marisa perlahan.
"Iya, Sayang" bisik Indra seraya mempererat pelukannya.
"Kamu kok disini?"
"Saya tidak sanggup menerima kerinduan saya kepada kamu, jadi saya langsung kesini untuk menemui kamu"
"Ini jam berapa?"
"Masih jam empat pagi"
"Pantas dingin sekali..."
"Sini saya peluk erat-erat" Indra semakin mendekap tubuh Marisa agar gadis itu tidak lagi kedinginan.
Marisa sendiri merasakan pelukan Indra yang begitu hangat mengusir rasa dingin. Tapi tiba-tiba Marisa teringat sesuatu. Kenapa Indra bisa berada didalam kamarnya dan tidur satu ranjang dengannya?!
"Ndra, kenapa kamu bisa ada disini?! Kamu bisa masuk kedalam kamar saya?!" tanya Marisa.
__ADS_1
"Kan saya yang membayar kontrakan rumah ini untuk kamu. Saya bertemu langsung dengan pemilik rumah ini. Jadi saya juga memiliki kunci duplikat rumah ini" jawab Indra enteng.
"Ya ampun! Jadi kamu menyimpan kunci duplikat rumah ini?! Pantas saya hanya menerima satu kunci!"
"Iya, agar saya bisa menemui kamu dengan cara menyelinap secara diam-diam seperti ini"
"Dasar kamu ini! Menyebalkan!" Marisa memukul dada bidang Indra.
"Hey, jangan memukuli saya! Marisa menangkap tangan Marisa. "Selama ini saya tidak pernah menyelinap masuk kedalam kamar ini, kan?! Baru kali ini saya melakukan nya! Karena saya tidak tahan ingin bertemu dengan kamu!"
"Kenapa kamu tidak pernah menyelinap kesini?!"
"Lho, kamu maunya saya datang menyelinap kesini setiap malam?!"
"Coba saja kalau berani! Saya akan langsung mengganti kunci rumah ini!"
"Ini rumah orang, Marisa! Kamu tidak bisa mengganti kunci atau apapun itu seenaknya tanpa izin dari pemiliknya!"
"Tidak apa-apa, kamu tidak bersalah. Saya tahu kamu pasti tidak akan mudah percaya kepada saya dengan adanya kejadian tadi itu. Untungnya Andro mau menolong saya untuk menjelaskan kepada kamu. Dasar Pak Tio sembarangan! Seenaknya saja dia menuduh saya menyukai wanita-wanita seperti itu sehingga dia mengirimkan tiga wanita sekaligus sebagai hadiah!"
"Pak Tio yang mengirimkan mereka kepada kamu?"
"Iya, tapi Andro sudah menelepon Pak Tio untuk menegur nya. Andro juga minta saya tidak memperpanjang masalah ini. Ya sudahlah! Yang penting kamu sudah memaafkan saya!"
"Oh..." Marisa kini mengerti kalau Indra tidak mengetahui kalau yang sebenarnya mengirimkan tiga wanita itu adalah gagasan dari Henry untuk menjebak Indra agar Marisa memergokinya. "Pasti Andro tidak memberitahu Indra tentang peran Henry dalam masalah ini! Andro tidak ingin Indra semakin marah kepada Henry dan berbuat hal-hal yang nantinya justru akan membuat Indra dan Henry akan semakin saling membenci" batin nya.
"Kamu sendiri sedang apa berada di area apartemen itu bersama Gery?!" tanya Indra tiba-tiba.
Marisa untuk sesaat jadi bingung sebelum akhirnya dia mendapatkan satu jawaban yang instan. "Aku baru selesai melihat seminar bersama Gery. Aku seperti melihat sosok kamu disana. Aku dan Gery mengikuti sampai di depan pintu apartemen itu dan ternyata memang kamu yang disana"
"Saya tidak akan mengkhianati kamu, Marisa Larasati! Saya serius ingin menjadikan kamu teman hidup saya! Saya tidak butuh wanita lain lagi!"
__ADS_1
"Ya, tapi kan pria itu bisa pindah ke lain body walaupun dia tidak bisa pindah ke lain hati!"
"Tidak begitu dengan saya! Saya juga sudah tidak bisa pindah ke lain body! Cuma tubuh kamu yang saya inginkan!" Indra menatap Marisa yang ada dalam pelukannya dengan tatapan tajam yang menusuk kedalam hati Marisa. Kemudian di lu matnya bibir Marisa kuat-kuat. Mereka berciuman dengan penuh gairah.
"Jangan... Dra..." kata Marisa takut saat merasakan tangan Indra menyusup kebelakang punggungnya dan masuk kedalam baju tidurnya untuk membuka kaitan bra nya.
Mana bisa Indra di hentikan?! Kini bra Marisa sudah terlepas kaitannya dan Indra sudah bebas meremas dan memilin dua bukit kembar kesayangannya.
"Ah... Indra... Eum..." Marisa mendesah nikmat karena Indra begitu lihai mempermainkan buah dadanya.
"Saya sangat menyukai buah dada kamu, Marisa Sayang..." bisik Indra sambil menjilati telinga Marisa.
"Sudah... Jangan teruskan... Aku takut kita kelepasan..." rintih Marisa.
"Kamu kan minta saya untuk tidak memetik kegadisan kamu sebelum kita menikah. Jadi saya mohon izinkan saya untuk menikmati buah dada kamu yang indah ini..." bisik Indra.
"Tapi..." Marisa tidak bisa melanjutkan kata-katanya setelah Indra menarik baju tidurnya ke atas sehingga kedua buah dadanya keluar tanpa penutup lagi. Udara dingin langsung menerpa di kedua buah dada Marisa yang padat dan kencang itu.
"Besar sekali..." desis Indra penuh gairah.
"Dingin, Dra..."
"Saya akan menghangatkan nya" Indra menurunkan tubuhnya agar wajah nya kini sejajar dengan dada Marisa.
"Dra, Auhhhfff!" Marisa merintih nikmat saat buah dadanya di lahan oleh mulut hangat Indra, sementara buah dada satunya lagi di re mas-re mas dengan kencang.
Hisapan Indra silih di keduanya pucuk buah dada Marisa. Ludah Indra berceceran di seluruh permukaan dada Marisa, menandakan begitu rakusnya Indra saat menikmati tubuh Marisa.
"Ah... Indra... Aku tidak tahan...!" desah Marisa seraya meremasi rambut Indra.
"Bagaimana rasanya, Sayang?" bisik Indra di sela-sela hisapannya.
__ADS_1
"Ah... Nikmat sekali rasanya... Hisap terus, Sayang... Auh! Iya... Ah! Ah! Ah!" Marisa menggigil dan merasa gairahnya memuncak. Bahkan Marisa merasakan bagian bawah tubuhnya mulai lembab dan mengharapkan sentuhan yang sama dari Indra!