My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 243 : Doa Seorang Istri


__ADS_3

Selesai menunaikan ibadah shalat tahajud, Marisa menadahkan kedua tangannya dan memanjatkan doa dengan suara perlahan dan bergetar. Butiran air matanya berderai membasahi pipi dan menetes membasahi mukena yang dikenakannya.


"Ya Allah ya Tuhanku... Hanya kepada Mu saja hamba berserah diri dan memohon petunjuk... Tidak ada daya dan upaya seorang manusia selain atas ridho Mu...


Saat ini hamba memohon... Tolong berikan jalan keluar atas masalah yang sedang hamba hadapi... Saat ini hamba sedang berada dalam satu titik jenuh... Titik dimana hamba merasa tidak ada rasa percaya dan rasa nyaman kepada suami hamba sendiri...


Apakah hanya karena suatu hal saja, hamba bisa berubah menjadi sedingin ini kepada suami hamba, ya Allah... Hanya karena satu kesalahan saja, disaat dia tidak bisa hadir dalam keadaan hamba sedang sangat membutuhkannya untuk ikut menjaga buah hati kami yang sedang sakit...


Ataukah memang ada firasat lain? Apakah ada sesuatu yang hamba tidak tahu? Yang telah terjadi antara suami hamba dengan wanita lain... Rasa curiga ini terus-menerus menghantui pikiran dan perasaan hamba...


Ya Allah... Jika memang ada kesalahan yang suami hamba perbuat tanpa sepengetahuan hamba, tolong Kau bukakan mata dan hati ini untuk bisa melihat dan membuktikan semuanya... Sebaliknya jika suami hamba masih memegang teguh kesetiaan kepada hamba, berikan hamba hati yang kembali hangat dan mencintainya dengan sepenuh hati...


Hanyalah kepada Mu hamba berserah diri... Amin ya Allah ya robal alamin..."


Tanpa Marisa tahu, sebenarnya Indra telah mendengar semua doanya. Indra yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan mendapati bahwa Marisa tidak lagi ada di samping Baby Syailendra. Indra pun segera turun dari ranjang dan mencari Marisa yang ternyata baru selesai menunaikan shalat tahajud di ruangan sebelah.


Indra merasa hatinya begitu sakit dan sedih karena mendengar kata-kata Marisa dalam doanya. Indra yang tidak sanggup lagi menahan air matanya yang mengalir deras. Indra yang tidak tahu harus berbuat apalagi untuk menebus kesalahannya kepada Marisa.


Kenapa hanya karena sebuah kenikmatan sesaat, Indra begitu tega menyakiti Marisa dengan cara menduakan istrinya itu dengan wanita lain. Padahal jelas Indra sangat mencintai Marisa. Tidak ada yang lain lagi didalam hatinya. Ataukah memang kebanyakan pria seperti itu? Berkata tidak bisa kelain hati tapi bisa pindah ke lain body?!


Indra melihat Marisa melepaskan mukenanya dan kemudian melipat sajadahnya. Tak bisa menahan diri lagi, Indra segera menghambur memeluk Marisa dan menciumi rambutnya. Air mata masih mengalir deras dari mata Indra.


"Maafkan saya, Marisa. Maafkan saya!" bisik Indra sambil terus menciumi rambut Marisa dan mendekapnya erat-erat ke dada.


Marisa merasa bingung karena Indra tiba-tiba memeluknya sambil menangis. Tapi Marisa diam saja. Malahan kemudian kedua tangannya bergerak untuk balas memeluk Indra.


"Marisa, kamu jangan marah lagi kepada saya! Saya minta maaf... Saya berjanji tidak akan pernah mengecewakan kamu lagi! Saya akan selalu ada untuk kamu dan Baby Syailendra!" kata Indra.

__ADS_1


"Sudah, Ndra! Kamu jangan menangis seperti ini!" kata Marisa.


"Tapi saya tidak sanggup mendengar kata-kata yang kamu ucapkan dalam doa kamu barusan. Saya sudah mendengar semuanya dan saya merasa banyak sekali kesalahan kepada kamu bahkan semenjak saya pertama kali bertemu dengan kamu..."


"Aku selalu memaafkan kamu, Ndra. Aku juga minta maaf kalau semenjak kamu pulang dari Surabaya, aku selalu bersikap dingin dan menjauhi kamu"


"Kamu tidak perlu minta maaf. Saya yang salah. Saya tahu kamu bersikap dingin seperti itu karena merasa kecewa pada saya"


Marisa mengulurkan kedua tangannya lalu mengusap air mata Indra. "Sudah, jangan nangis lagi. Sebaiknya kita segera kembali ke kamar. Nanti Baby Syailendra bangun dan menangis kalau mendapati kita tidak ada di sampingnya"


"Iya, kamu juga jangan menangis lagi! Hati saya begitu sakit melihat kamu menangis"


Marisa tersenyum. Senyuman pertama semenjak Indra kembali dari Surabaya. Begitu tulus dan menyejukkan hati Indra.


"Akhirnya kamu mau kembali tersenyum kepada saya, Marisa!" seru Indra lalu menciumi wajah Marisa dengan penuh kasih sayang.


"Memangnya selama ini aku tidak pernah tersenyum?" tanya Marisa.


"Maaf..."


"Tidak apa-apa, Sayang. Saya juga yang salah... Saya tidak bisa segera pulang saat kamu membutuhkan saya..."


"Yang sudah ya sudahlah. Aku akan berusaha untuk melupakan masalah itu. Aku ingin keluarga kita kembali hangat seperti biasanya"


"Iya, Sayang! Tentu saja! Kita mulai lagi dari saat ini! Kita berdua akan semakin dekat dan saling mencintai"


"Amin..."

__ADS_1


Marisa dan Indra pun kembali ke kamar mereka dan kembali tidur bersama Baby Syailendra di tengah-tengah mereka.


Dan tekad dalam hati Indra untuk melepaskan Melati pun semakin kuat!


"Saya akan segera menyingkirkan Melati dari Perdana Enterprise! Ya! Saya harus segera membuat surat pemutusan hubungan kerja untuk wanita itu!" batin Indra saat itu.


"Lagipula saya sudah berhasil mencicipi kenikmatan tubuhnya! Saya tidak membutuhkannya lagi! Saya akan kembali kepada Marisa! Saya sangat mencintai Marisa dan tidak akan pernah menduakan nya lagi!"


"Saya hanya khilaf dan Melati juga yang terus menggoda saya! Padahal Marisa jauh lebih cantik dan menarik dibandingkan dengan Melati!"


Keesokan harinya Indra segera meminta Bella untuk membuat surat pemecatan untuk Melati. Bella sempat heran tapi tidak berani untuk bertanya kepada Indra kenapa Sang CEO tiba-tiba ingin memecat asisten pribadinya.


"Kamu buat surat pemutusan hubungan kerja itu sekarang juga dan berikan kepada saya besok pagi segera!" kata Indra tegas.


"Baik, Pak! Saya akan segera membuatnya!" kata Bella.


Bella semakin yakin bahwa ada masalah antara Indra dengan Melati! Tidak mungkin Indra begitu saja ingin mengeluarkan Melati dari Perdana Enterprise. Padahal selama ini Indra tampak begitu mesra dengan Melati bahkan terkesan berlebihan hingga kadang membuat Bella merasa curiga kalau ada sesuatu diantara mereka berdua.


Saat Bella sibuk menyelesaikan tugasnya untuk membuat surat pemecatan itu, kebetulan Pak Rafi datang ke ruangan untuk menyerahkan berkas-berkas laporan keuangan dan melihat apa yang sedang di kerjakan oleh Bella.


"Hah?! Melati di pecat dari perusahaan?! Yang benar saja!" seru Pak Rafi antusias.


"Gak tahu nih, Pak Indra yang nyuruh aku bikin surat PHK ini segera" kata Bella.


"Nah! Berarti memang benar apa yang selama ini menjadi gunjingan para karyawan! Pak Indra ada main dengan Melati! Dan sekarang Pak Indra sudah bosan dengan Melati!"


"Hus! Sembarangan!" hardik Bella!

__ADS_1


"Lho! Itu kan sudah jadi rahasia umum perusahaan! Semenjak Bu Marisa melahirkan, Pak Indra kan tidak pernah jauh dari asisten pribadinya yang baru! Si Melati itu! Sekarang tiba-tiba Melati di pecat! Pasti Pak Indra sudah berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan dari Melati!"


"Pak Rafi ghibah ah!"


__ADS_2