My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 229 : Sesampainya di Surabaya


__ADS_3

Pada Jum'at pagi Indra bersiap untuk berangkat ke Surabaya bersama Melati. Marisa juga sudah menyiapkan semua kebutuhan Indra selama disana. Indra pun berangkat ke bandara setelah sebelumnya sempat bermain bersama Baby Syailendra.


Indra bahkan sampai menjemput Melati ke rumahnya lalu bersama-sama menuju bandara. Padahal kepada Marisa Indra berkata kalau dia sudah janjian dengan Melati untuk bertemu di bandara.


Melati kini duduk di samping Indra dalam pesawat menuju Surabaya. Laksana pasangan sah Indra, Melati menyandarkan kepalanya di bahu Indra dan Indra langsung membelai rambut gadis itu dengan sayang.


"Saya senang sekali hari ini, Pak Indra. Anda sudah mengajak saya pergi ke luar kota hanya berdua saja" kata Melati seraya mengecup pipi Sang CEO.


"Tentu saja, Sayang. Saat ini saya adalah milik kamu begitupun sebaliknya!" kata Indra.


"Benarkah? Saya boleh menganggap Anda sebagai milik saya saat ini?"


"Iya! Saat ini tidak ada siapapun yang bisa menggangu kebersamaan kita!"


"Makasih ya, Pak Indra!"


"Iya, Sayang. Nanti sesampainya kira di Surabaya, kita akan menghadiri metting penting dengan klien disana. Setelah itu saya akan mengajak kamu ke pusat perbelanjaan terbesar disana! Kamu boleh membeli apapun yang kamu inginkan!"


"Ah, tidak usah, Pak Indra" tolak Melati padahal dalam hatinya bersorak kegirangan!


"Pokoknya kamu tidak boleh menolak! Saya akan berikan kamu satu kartu kredit yang tidak ada batas limit nya!"


"Saya tidak mau! Saya mencintai Anda dengan tulus! Tanpa melihat apapun yang Anda miliki!" Melati mulai sok polos.


"Kamu sederhana dan tulus seperti Marisa! Itulah yang saya sukai dari kalian! Kalian berdua adalah wanita yang baik hati dan tidak materialistis"


Melati mendadak cemberut mendengar Indra menyebutkan nama Marisa. Melati menarik kepalanya dari bahu Indra!


"Lho, kenapa kamu cemberut begitu?" tanya Indra.


"Baru saja Anda bilang kalau Anda adalah milik saya saat ini! Tapi baru beberapa saat saja, Anda sudah menyebutkan nama Marisa!" Melati merajuk!


"Oh, masalah itu! Hahaha! Saya minta maaf! Baiklah! Saya tidak akan pernah menyebut lagi nama Marisa saat kita bersama"

__ADS_1


"Beneran ya!"


"Iya, saya berjanji!"


"Tapi, Pak Indra. Seandainya saja istri Anda itu mengizinkan Anda untuk menikah lagi dan memiliki dua istri. Apakah Anda akan menikahi saya?"


Indra terdiam sejenak.


"Anda tidak mau menjawab! Berarti Anda memang tidak pernah berniat untuk menikahi saya?" kata Melati lagi.


"Bukannya begitu, Melati. Tapi tidak ada keturunan dari keluarga saya yang memiliki dua istri. Mama saya juga tidak akan pernah mengizinkan saya berpoligami"


"Baiklah, saya mengerti. Saya juga tahu kok posisi saya" Melati menunduk sedih.


Indra merangkul bahu Melati erat-erat dan menciumi rambutnya. "Jangan bersedih, Sayang! Walaupun kita tidak terikat dengan pernikahan, tapi saya bisa memberikan kamu kebahagiaan dan kelimpahan harta setara dengan apa yang didapatkan oleh istri saya!"


"Tidak apa-apa, Pak Indra. Saya tidak meminta apapun dari Anda. Saya ikhlas dan tulus mencintai Anda"


"Lalu apa yang kamu persiapkan untuk melayani saya nanti malam?" bisik Indra penuh gairah.


"Hahahaha! Tidak ada, sayang! Saya hanya bercanda! Kamu cukup berbaring pasrah dengan kedua kaki yang membuka lebar!"


"Oh... Masalah itu. Tentu saja, Pak Indra. Saya akan memberikan tubuh saya secara utuh kepada Anda"


"Saya sudah tidak sabar...!" Indra meremas bahu Melati karena tidak mungkin meremas buah dadanya saat itu.


"Tapi Pak Indra, Bu Marisa tadi pagi sempat mengirim pesan kepada saya" kata Melati.


"Oh ya? Apa katanya?" Indra penasaran.


"Katanya saya di minta untuk membantu dan menemani Anda selama disana"


"Hahaha! Tentu saja! Kamu pasti akan selalu membantu dan menemani saya selama disana! Tentunya dengan kenikmatan tubuh yang kamu miliki!"

__ADS_1


Indra dan Melati pun sampai di Surabaya dan segera menuju satu hotel termewah yang ada di pusat kota. Mereka lalu menemui klien untuk melakukan metting di salah satu ruangan khusus yang ada di hotel tersebut. Indra pun menemui kesepakatan dengan pihak klien nya dan melanjutkan dengan acara makan-makan bersama.


Selesai makan malam bersama, Indra pun berpisah dengan kliennya dan mengajak Melati keluar dari hotel untuk berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan terbesar yang ada disana. Indra memaksa Melati untuk berbelanja barang-barang branded dengan harga selangit.


Melati yang memang pandai bersandiwara pura-pura malu dan berulang kali menolak semua barang yang di tawarkan Indra kepadanya. Justru karena hal itu Indra malah semakin bersemangat untuk membelikan Melati barang-barang berharga.


Melati benar-benar merasa menjadi wanita yang paling beruntung hari itu! Dalam hatinya bersorak kegirangan karena mendapatkan begitu banyak barang berharga dari Indra. Selesai berbelanja, mereka pun kembali ke hotel dengan setumpuk paper bag besar hasil berbelanja.


Melati segera memeluk dan mengecup bibir Indra begitu mereka berada didalam kamar hotel. "Makasih ya, Pak Indra Sayang! Anda baik sekali! Begitu banyak yang Anda berikan kepada saya hari ini. Saya tidak tahu bagaimana harus berterima kasih kepada Anda" katanya.


Indra melingkarkan tangannya di pinggang Melati, "Kamu tidak usah bingung untuk berterima kasih. Kamu pantas untuk mendapatkan semua yang saya berikan hari ini! Karena kamu adalah seorang gadis yang sangat berharga untuk saya! Apalagi tadi kamu sudah membantu saya untuk meyakinkan klien kita dengan presentasi yang kamu berikan sehingga membuat mereka tertarik untuk menjalani kerjasama dengan perusahaan kita!"


"Tentu saja, Pak Indra! Saya akan bekerja sebaik mungkin untuk Anda!"


"Kalau begitu malam ini juga kamu harus bekerja sebaik mungkin untuk saya!"


Indra mengetatkan pelukannya pada tubuh Melati dan menciumi bibirnya. Tak lama kemudian ciuman Indra sudah merambat ke leher Melati.


"Pak Indra, saya mau mandi dulu" bisik Melati dengan nada suara manja.


"Kamu sudah wangi, Sayang!" kata Indra sambil terus menciumi leher dan kini sudah merambat ke arah dada Melati yang terbuka karena gadis itu memakai baju berdada rendah.


"Tapi saya ingin mandi dulu. Kita sudah beberapa jam di pesawat, langsung metting dengan klien, setelah itu kita pergi berbelanja! Badan saya rasanya lengket!"


"Ya sudah! Memang sebaiknya kita mandi dulu agar badan kita fresh dan siap untuk bertempur semalam suntuk!" Indra melepaskan pelukannya pada tubuh Melati.


"Saya mandi duluan ya?"


"Kita barengan saja!"


"Jangan ah! Besok pagi saja kalau mau barengan"


"Ya sudah! Jangan lama-lama ya! Awas kalau lama! Saya dobrak pintu kamar mandi nya!" Indra meremas bokong Melati dengan gemas!

__ADS_1


"Siap, Pak Indra!" Melati cekikikan.


__ADS_2