
Indra menatap Marisa dengan serius. "Besok kita akan ke rumah sakit dan mengecek kehamilan kamu ke dokter kandungan yang terbaik disana! Saya mau anak kita tumbuh dengan baik dan sehat! Kamu juga harus mengurangi aktivitas kami mulai besok!" tuturnya.
"Iya, kamu ini bawel sekali sih?!" kata Marisa.
"Tentu saja saya bawel karena ini adalah anak pertama saya, cucu pertama Mama, dan juga penerus nama keluarga Perdana"
"Wah, jadi aku mengandung putra mahkota ya?"
"Ya, kalau bayinya laki-laki, kalau perempuan maka dia akan jadi putri mahkota"
"Kamu maunya anak laki-laki atau perempuan?"
"Sama saja. Yang penting sehat dan sempurna" Indra mengelus perut Marisa. "Ya Tuhan... Rasanya tidak percaya kalau sebentar lagi saya akan jadi seorang Papa... Di usia yang sudah tiga puluh empat tahun ini... Mudah-mudahan saya bisa mendidiknya sampai dewasa. Sampai jadi pengusaha muda sukses seperti Papa nya!"
"Amin ya rabbal alamin..."
Indra mencium perut Marisa dan mengajak bicara calon anaknya. "Hai, Sayang. Selamat datang di perut Mama. Kamu harus sehat dan tumbuh besar ya, Nak. Papa berjanji akan selalu menjaga kamu dan Mama kamu. Menyayangi kalian dan membahagiakan kalian"
"Amin..." ucap Marisa.
Pagi harinya seusai sarapan, suasana di kediaman keluarga Perdana jadi heboh. Indra memanggil seluruh asisten rumah tangga nya yang berjumlah 12 orang. Semuanya di minta berkumpul di ruang depan untuk mendengarkan Indra yang katanya akan mengabarkan sesuatu.
"Kalian semua dengar, saat ini istri saya sedang hamil! Saya tidak mau ada sedikit kesalahanpun yang membuat istri saya kesulitan! Kalian semua harus selalu siap siaga untuk membantu semua keperluan nya! Mulai hari ini dan seterusnya: tidak boleh ada lantai yang licin! Tidak boleh ada debu di sudut manapun! Tidak boleh ada makanan yang terlalu manis, asin atau asam! Tidak boleh ada minuman yang tidak sehat! Tidak boleh ada satupun serangga yang mengganggu! Dan BLA BLA BLA..." masih banyak lagi hal yang Indra sampaikan sehubungan dengan kehamilan Marisa.
Marisa yang juga ada di ruangan itu merasa kalau Indra terlalu berlebihan. Andro juga merasa demikian. Marisa dan Andro bisa menebak kalau kedepannya Indra akan semakin posesif kepada Marisa dan mengekang kebebasan Marisa habis-habisan! Sementara Mama justru setuju sependapat dengan apa yang di lakukan Indra. Mama juga merasa kalau kehamilan Marisa memang harus di jaga dengan sebaik-baiknya dan di dukung oleh semua anggota keluarga.
Hingga akhirnya setelah setengah jam berbicara panjang lebar, Indra resmi membubarkan semua asisten rumah tangganya untuk kembali ke pekerjaan masing-masing.
"Awas kamu kalau setelah ini akan semakin rempong dan over protektif!" kata Andro.
__ADS_1
"Lho, memangnya kenapa?! Saya kan cuma ingin yang terbaik untuk anak saya yang ada didalam kandungan Marisa!" kata Indra.
"Ya jaga juga kesehatan kamu! Kalau tiba-tiba kamu terkena darah tinggi karena terlalu posesif pada kehamilan Marisa kan, bisa repot juga!"
"Alah kamu ini ada-ada saja! Saya sehat dan bisa mengontrol emosi saya! Saya tidak akan membiarkan Marisa kesulitan sedikitpun! Marisa harus dijaga baik-baik! Dia sedang mengandung anak saya yang adalah seorang penerus nama keluarga Perdana!"
Andro tidak menjawab apa-apa. Percuma bicara dengan Indra Perdana Sang CEO arogan! Tidak akan pernah ada habisnya! Tidak akan mau mendengar pendapat orang lain apalagi menerima masukan dari Andro!
"Kalau begitu sekarang juga kamu sama Marisa pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilan Marisa. Minta nasehat dari dokter tentang kehamilan dan juga minta di resepkan vitamin yang terbaik untuk ibu hamil!" kata Mama.
"Saya memang akan segera berangkat ke rumah sakit sebelum ke kantor, Mam" kata Indra.
"Bawa juga alat tes kehamilan yang sudah di pakai Marisa untuk di perlihatkan kepada dokter!"
"Iya, Mam. Waktu itu kapan Marisa memeriksa urine nya?"
"Jum'at pagi. Mama yang minta Andro untuk membelikan Marisa alat tes kehamilan di apotek karena Marisa muntah-muntah setelah sarapan pagi itu"
Marisa dan Andro jadi saling berpandangan dan merasa khawatir.
"Iya, Mama yang minta Andro untuk membelinya" kata Mama.
"Mama, Marisa itu istri saya! Saya yang harusnya membelikan alat tes kehamilan di apotek! Bukannya Andro! Mama gimana sih?!" kata Indra jengkel.
"Lho, memangnya kenapa?! Kan kamu sedang tidak ada?!"
"Tapi saya kan pulang Senin pagi, Mam!"
"Habisnya Mama gak sabar untuk mengetahui apakah Marisa positif hamil? Ya sudahlah kamu jangan marah-marah begitu! Nanti Marisa jadi stres!"
__ADS_1
Indra melotot ke arah Andro dengan penuh rasa benci! "Ya sudah, saya akan memeriksakan kehamilan Marisa dulu! Saya akan membawa Marisa ke dokter kandungan yang terbaik di rumah sakit! Itu adalah kewajiban saya sebagai suami untuk memberikan yang terbaik pada istri dan calon anak saya! Dan kamu, Andro! Lain kali tidak usah terlalu ikut campur dan ambil bagian dalam hal yang bukan ranah kamu!" nada suara Indra meninggi!
"Indra, sudah!" Mama memperingatkan Indra.
"Ya gak bisa begitu dong, Mam! Andro sudah melewati batas-batas nya sebagai seorang ipar!" Indra tetap tidak mau kalah!
"Ya, saya minta maaf kalau karena saya bantu membelikan Marisa alat tes kehamilan itu membuat kamu kesal" kata Andro yang akhirnya mengalah.
Indra pun membawa Marisa ke rumah sakit langganan keluarga untuk memeriksa kehamilannya di poli obgin. Setelah menjalani tes urine dan USG, dokter pun memastikan bahwa Marisa telah mengandung dengan usia kehamilan delapan minggu.
Indra sampai meneteskan air matanya karena merasakan kebahagiaan yang luar biasa saat melihat calon anaknya yang masih terlihat sangat kecil didalam kandungan Marisa lewat USG.
"Denyut jantungnya dan gerakannya juga sudah dapat di deteksi" ucap dokter obgin yang memeriksa Marisa sambil memperdengarkan suara detak jantung dan gambar gerakan janin didalam kandungan Marisa.
"Alhamdulillah... Saya akan segera jadi seorang Papa" kata Indra.
"Iya, Pak Indra. Selamat ya"
"Terima kasih banyak, dokter"
"Sama-sama, pak"
Indra membelai rambut Marisa yang masih berbaring di atas ranjang perawatan lalu mencium keningnya. "Makasih, Sayang. Kamu sudah memberikan hadiah yang paling berharga buat saya"
"Ini hadiah untuk kita berdua dari Allah SWT, Dra..." kata Marisa.
"Hadiah untuk keluarga Perdana juga! Anak kita akan jadi anak kebanggaan dan juga sumber kebahagiaan terbesar didalam keluarga kita! Dia adalah anugrahh terindah dalam hidup saya!"
"Amin..."
__ADS_1
"Sekali lagi makasih, Marisa" Indra kembali menjatuhkan ciuman di kening Marisa.