My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 11 : Di Apartemen Grand Indonesia


__ADS_3

Indra Perdana memandang Marisa dengan pandangan murka dan tidak habis fikir. Indra tidak habis pikir dengan penolakan Marisa untuk tinggal di apartemen mewah ini hanya karena tidak bisa meninggalkan seorang 'kelam' seperti Gery!


Marisa jadi menciut melihat wajah Indra yang sadis seperti itu. Tahulah Marisa kalau Indra saat ini sedang marah besar. "Maafkan saya Pak! Saya dan Gery sudah berjanji untuk selalu bersama selama kami tinggal di Jakarta sebagai mahasiswa. Orang tua kami masing-masing juga sudah saling menitipkan. Saya tidak mungkin berpisah dengan Gery!" ucap Marisa mencoba memberikan penjelasan pada Indra.


Indra mendengus kesal. "Saya tidak menyangka seberat itu kamu pada cowok kesayangan kamu itu sehingga berani menolak itikad baik dari saya untuk tinggal disini! Kamu tahu berapa harga apartemen ini?! Sepuluh tahun gaji kamu bekerja sebagai asisten pribadi saya pun tidak akan sanggup untuk membeli apartemen ini! Saya dengan murah hati menawarkan kamu untuk tinggal disini! Agar kamu bisa lebih nyaman dan lebih dekat berangkat ke kantor! Tapi kamu berani menolak tawaran saya ini?! Berani sekali kamu, Marisa!" hardik Indra.


"Tapi Pak..." Marisa gugup dan ketakutan.


"Dasar sombong kamu, Marisa!"


"Bukan, saya bukan bermaksud sombong, Pak! Saya malah merasa kalau saya kurang pantas tinggal di apartemen semewah ini! Sungguh!"


"Ada hubungan apa sebenarnya kamu dengan cowok kelam bernama Gery itu?!"


"Tidak, Pak! Saya dan Gery hanya sebatas teman! Kami adalah sahabat dekat sejak dulu!"


"Kalau hanya sebatas teman, kenapa kamu tidak bisa meninggalkan dia untuk pindah kesini?!"


"Karena kami sudah seperti saudara, Pak!"


"Apa ada teman yang bisa seperti saudara?!"


"Tentu saja, Pak! Bahkan terkadang teman bisa lebih dekat dan membela kita melebihi saudara!"


"Saya tidak mengerti dengan semua alasan kamu! Kalau kamu tidak mau pindah kesini, kamu lihat saja nanti akibatnya!" ancam Indra.


"Maksud Bapak?" Marisa mulai merasa tak enak.


"Saya tersinggung dengan penolakan kamu! Para klien saya saja tidak ada yang pernah menolak tawaran kerjasama dari saya! Tapi kamu yang hanya seorang bawahan, kenapa sombong sekali?! Seolah-olah kamu ini adalah ratu!" Indra benar-benar marah sekarang. Matanya berkilat menyeramkan!


Sementara itu, Marisa bertambah pucat. "Maaf Pak..."


"Sekarang keluar dari apartemen saya!"


"Baik, Pak. Saya akan keluar!" Marisa segera keluar dari apartemen Indra. Indra ikut keluar dan pergi begitu saja meninggalkan Marisa ke arah lift. Marisa segera mengikutinya.

__ADS_1


Indra menoleh. "Mau apa kamu mengikuti saya?!" bentak Indra kasar.


"Saya... Saya kan asisten pribadi Bapak." kata Marisa mencoba tersenyum.


"Oh, ya! Benar! Kamu adalah asisten pribadi saya! Asisten pribadi yang sombong! Saya tidak butuh kamu lagi saat ini! Cukup tugas kamu sampai hari ini dan jangan ikut saya lagi!"


Marisa terbelalak. "Tapi Pak,"


"Tapi apa?!"


"Saya kan pergi kesini bersama Bapak! Saya mau ikut pulang sama Bapak! Minimal sampai kantor,"


"Saya tidak akan kembali ke kantor!"


"Mungkin sampai halte bus? Bapak bisa turunkan saya di halte bus terdekat agar saya bisa naik bus ke Jakarta!"


"Apa maksud kamu mengatur-atur saya seperti itu?! Urusan saya mau lewat halte bus atau tidak! Yang jelas saya mau pulang dan kamu tidak saya izinkan untuk ikut mobil saya!"


"Saya tidak tahu jalan pulang ke Jakarta, Pak!"


Marisa meraih lengan Indra. "Pak Indra!"


"Lepaskan tangan saya! Jangan lancang kamu berani memegang tangan saya!" bentak Indra.


Marisa melepaskan pegangannya. Pintu lift terbuka dan Indra masuk ke dalamnya. Perlahan pintu lift bergerak menutup dan Marisa hanya bisa menatap sedih pada sosok Indra yang perlahan menghilang di balik pintu lift.


"Pak Indra kenapa, sih?! Aku kok ditinggal sendiri di apartemen ini?! Apa aku salah? Aku kan tidak bisa menerima tawarannya untuk tinggal di apartemen ini! Bagaimana dengan Gery? Dan apa juga hak aku untuk tinggal disini?! Apalagi kalau sampai ada orang kantor yang tahu, aku bisa kena fitnah! Tapi dia malah marah besar dan meninggalkan aku disini! Bagaimana aku pulang sekarang?!" Marisa menjadi sangat bingung.


"Apa aku harus nelpon Fero? Ya! Aku harus nelpon Fero agar dia bisa jemput aku disini!" Marisa menemukan ide dan terpaksa menelpon Fero agar bisa menjemputnya kesana.


"Sayang, tolong jemput aku ya? Aku gak bisa pulang ke kosan. Aku gak tahu jalan." ucap Marisa lewat telpon.


"Kamu dimana itu?" tanya Fero.


"Aku di apartemen Grand Indonesia!" jawab Marisa.

__ADS_1


"Di apartemen?! Ngapain kamu disana?!" nada suara Fero terdengar tidak enak.


"Ya Allah!" Marisa tercekat. Saat ini dia ada di apartemen dan bisa saja membuat Fero menjadi curiga! "Aku... Aku abis metting sama Pak Indra dan kliennya!" jawab Marisa sebisanya.


"Metting? Di apartemen?!"


"Eh... Anu, kami metting di lantai bawah. Sambil ngopi di cafetaria."


"Dan sekarang kamu gak bisa pulang ke kantor?"


"Iya, Pak Indra mau langsung pulang ke rumahnya!"


"Aneh! Kamu kan asisten pribadinya! Masa kamu tidak diantar lagi ke kantor atau minimal di antar sampai halte?! Atau suruh orang kantor buat anterin kamu kembali ke kantor?! Pak Indra kan pasti tahu kamu kos di Jakarta dan belum paham betul lokasi di Bekasi! Kalau kamu nyasar gimana coba?!" Fero menjadi berapi-api.


"Aku yang minta pulang sendiri!" Marisa terpaksa berbohong.


"Oh gitu... Ck! Ya udah, aku otw kesana sekarang, ya? Kamu share lokasi nya."


"Oke, sayang! Makasih banyak!" Marisa menghela nafas berat dan menutup telponnya.


"Ini gawat! Fero mulai curiga dan aku juga mulai belajar berbohong! Ini gara-gara CEO sombong bernama Indra Perdana itu! Aku jadi bohong sama pacar sendiri!" rutuk Marisa dalam hatinya. Ia pun menghela nafas panjang.


Teringat kembali peristiwa yang dialami dengan Indra di tempat fitnes sebelum terjadi insiden penolakan apartemen. "Brengsek! Jangan sampai dia bikin aku terlarut dalam suasana seperti tadi lagi! Aku tidak boleh menemani lagi dia ke tempat fitnes lain kali!" tekad Marisa.


Tak lama kemudian, Fero pun muncul dan membawa Marisa pulang ke kosannya. Sepanjang jalan Marisa dihantui rasa bersalah pada Fero. Dipeluknya Fero erat-erat saat mereka masih berada diatas motor.


"Tumben kamu meluk aku erat banget, sayang?" tanya Fero.


"Aku kangen banget sama kamu, Fero..." jawab Marisa dengan penuh perasaan.


"Aku juga kangen sama kamu!" Fero menggenggam tangan Marisa yang berada diperutnya dengan erat.


Tanpa Marisa sadar, mobil Indra belum meninggalkan parkiran dan melihat bagaimana Marisa pulang di jemput oleh Fero.


Indra merasa khawatir pada Marisa yang ia tinggalkan sendiri di apartemen. Tapi kini rasa khawatir itu berganti dengan rasa murka yang luar biasa!

__ADS_1


"Baru tadi kamu bilang kalau kamu tidak bisa meninggalkan Gery! Sekarang kamu sudah berboncengan dengan cowok lain! Kita lihat saja, Marisa Larasati! Permainan baru akan di mulai!" geram Indra Perdana!


__ADS_2