
Mama Renata melihat Andro, putra bungsunya yang ternyata sudah pulang ke rumah dan kini sedang berada di meja makan pagi itu. Mama segera menghampiri dan memeluk Andro erat-erat.
"Andro, Sayang! Kapan kamu sampai ke rumah?! Kenapa gak bangunin Mama?" sapa Mama.
Andro mencium tangan Mama, "Saya sampai ke rumah jam dua belas malam, Mam. Saya pikir kalau saya tidak perlu membangunkan Mama" jawab nya.
"Malam sekali?!"
"Saya tiba di bandara jam delapan"
"Oh ya? Kenapa tidak telepon Mama?"
"Saya ketemu dulu sama teman kok Mam"
"Oh... Ya udah, sekarang kamu mau sarapan apa? Mama buatkan ya?"
"Gak usah repot-repot, Mam. Saya mau sarapan roti saja"
"Oke" Mama segera membuatkan roti tawar dengan selai kacang untuk Andro juga segelas kopi panas.
"Mam, saya mau tanya sesuatu" kata Andro di sela-sela suapan nya.
"Ada apa, Sayang?"
"Mama tahu kalau Indra pergi dengan Marisa?"
Mama terdiam sejenak. "Ya Mama tahu"
"Kemana mereka pergi, Mam?"
"Mama kurang tahu. Tapi katanya ada urusan bisnis"
"Marisa kan sudah tidak terikat kontrak kerja dengan perusahaan kita, Mam"
__ADS_1
"Ya mungkin ada pekerjaan Marisa yang belum selesai"
"Tapi kan Marisa dan Indra tahu kalau saya pulang malam tadi. Kenapa Indra tidak membawa Marisa pulang untuk menjemput saya? Saya semalam sudah mencoba menelepon Indra berkali-kali, tapi dia tidak mau mengangkatnya"
"Coba sekarang kamu telepon lagi"
"Sudah tadi, Mam. Tapi sekarang malah tidak aktif"
"Kenapa ya?" Mama jadi khawatir juga.
"Apakah Mama tahu juga kalau Indra sudah memutuskan Sofie?" Andro bertanya lagi.
"Kalau masalah itu, Mama memang tahu. Indra sendiri yang cerita sama Mama" jawab Mama.
"Selama saya pergi, sepertinya ada sesuatu yang telah terjadi antara Indra dan Marisa. Saya merasa kalau Indra sedang berusaha untuk menjauhkan Marisa dari saya, Mam. Apakah Mama tahu juga, Indra menaruh perasaan pada Marisa, pacar saya?"
Mama menghela nafas panjang. "Andro, Sayang. Mama minta kamu jangan marah dan berusaha untuk memahami ini semua dengan lapang dada. Selama beberapa hari terakhir, Indra berubah. Indra sering pulang tengah malam bahkan dini hari dalam keadaan mabuk. Indra juga sering pergi ke kantor pada siang hari karena bangun kesiangan. Padahal kita berdua tahu bagaimana teratur nya hidup Indra. Pokoknya Indra sangat kacau dan berantakan. Mama akhirnya berinisiatif untuk bertanya kepada Indra. Apakah ada masalah yang sedang di hadapinya" tutur Mama.
Andro mendengarkan dengan seksama. "Lalu, apa kata Indra?" tanyanya.
Nafas Andro terasa berhenti, wajahnya berubah memucat.
"Kamu sabar ya, Andro" kata Mama seraya memegang tangan Andro yang tampak memegang erat cangkir kopi nya hingga urat-urat di tangannya terlihat menegang.
"Jadi benar? Indra mencintai Marisa? Kenapa dia tidak bilang sejak awal? Kenapa dia justru selama ini selalu menghina Marisa kalau ternyata dia mencintai gadis itu juga?!"
"Mungkin Indra baru menyadari akan perasaan nya"
"Lalu bagaimana menurut Mama? Apakah saya harus merelakan Marisa untuk bersatu dengan Indra? Walaupun saya sangat mencintai Marisa?"
"Menurut Mama, kalian berdua jangan sampai ribut hanya karena masalah ini. Kalian adalah kakak beradik yang saling menyayangi. Kalau sekarang kalian mencintai gadis yang sama, maka sebaiknya kalian tanyakan kepada Marisa, siapakah di antara kalian yang sebenarnya Marisa cintai?"
"Sudah pasti Marisa akan memilih Indra"
__ADS_1
"Kenapa kamu berpikir begitu?"
"Mam, sejak kapan saya bisa bersaing dengan Indra? Dalam bidang apapun saya selalu kalah oleh Indra. Saya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Indra. Saya bisa melawan siapapun yang menjadi saingan saya, tapi lain halnya kalau lawan saya adalah Indra"
"Kamu bicarakan saja masalah ini dengan Indra, ya? Jangan berpikir kalau kamu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Indra. Kalian berdua adalah anak Papa dan Mama. Kalian sama spesial nya!"
"Sekarang saja sudah terlihat buktinya, Mam. Marisa lebih mementingkan Indra ketimbang saya. Marisa memilih untuk bersama Indra daripada menjemput saya di bandara"
"Kamu tidak apa-apa kan kalau memang Marisa lebih memilih Indra?" tanya Mama hati-hati.
"Tidak apa-apa, Mam" jawab Andro sambil tersenyum pahit tapi Mama tidak peka terhadap perasaan anak bungsu nya itu.
Mama merasa kalau Andro kuat. Mama tersenyum dan merangkul bahu Andro.
"Kamu memang hebat, Andro! Kamu kuat dan tangguh! Kamu tidak akan lama-lama merasa kehilangan Marisa! Kamu bisa melewati ini semua dengan lapang dada. Mama bangga sama kamu, Sayang!" kata Mama lega.
"Ya, Mam. Saya kuat!" tegas Andro.
"Mama tahu kamu pasti kuat! Kamu adalah anak yang periang! Beda halnya dengan Indra. Indra tidak akan sekuat kamu. Indra lebih pendiam dan akan memendam perasaan sakit hati yang lama. Kita berdua tahu bagaimana Indra. Di balik sifat dingin nya, Indra adalah seorang yang rapuh"
Andro menelan ludahnya sendiri. "Mam... Apakah Mama tidak bisa merasakan? Andro juga sakit, Mam... Berapa lama saya lewati masa kesendirian sebelum akhirnya saya bisa jatuh cinta kepada seorang gadis? Dan sekarang gadis itu malah harus bersama dengan Indra, kakak kandung saya sendiri! Kenapa Mama malah membela Indra? Padahal disini Andro yang tersakiti? Andro juga punya perasaan terluka, Mam. Andro tidak sekuat yang Mama bayangkan! Tapi kenapa Mama lebih peka terhadap orang Indra?!
Apakah Andro terlahir hanya untuk menjadi yang kedua? Apakah Andro harus selalu mengalah kepada Indra? Padahal Andro juga anak Mama! Andro punya hak yang sama dengan Indra. Bukankah seorang kakak yang harusnya mengalah kepada adiknya? Kenapa justru disini Andro yang harus selalu mengalah untuk Indra? Apakah selamanya Andro harus selalu berdiri di belakang Indra? Menjadi bayangan nya?!"
"Kamu relakan saja Marisa bersama Indra, ya? Kamu pasti akan segera mendapatkan gadis lain yang sama cantik dan baiknya seperti Marisa" kata Mama lagi.
"Insya Allah, Mam"
"Nanti Mama akan coba telepon Indra, ya?"
"Ya, Mam"
"Sekarang lanjutkan makan nya"
__ADS_1
Mama melanjutkan sarapannya seolah tidak terjadi apa-apa. Tanpa Mama sadari dalam hati putra bungsu nya saat itu sangat hancur.