
Operasi kaki kanan Reno berjalan lancar pada keesokan harinya. Berkat biaya yang sudah di lunasi oleh Andro, Reno berhasil tertolong dengan tepat waktu dan terhindar dari kelumpuhan permanen.
Siangnya Reno sudah sadar dan langsung menangis. Reno menangisi kenakalannya sendiri yang berani membawa motor Ayah ke jalan raya padahal belum cukup umur.
Mama, Ayah, dan Marisa memaafkan semua kesalahan Reno. Reno pun merasa lega karena keluarganya memaafkan dan tidak membencinya. Dalam hatinya Reno berjanji kalau dia akan menjadi anak baik yang penurut dan bisa di banggakan oleh Ayah dan Mama seperti Kak Marisa.
Yang semakin membuat Reno bahagia adalah Kak Andro, pria keren baik hati yang merupakan pacar dari kakaknya itu membelikan sebuah laptop untuk belajarnya. Mata Reno berbinar-binar saat menerima benda impiannya itu.
"Wah... Alhamdulillah... Terima kasih banyak, Kak Andro! Kak Andro baik sekali! Kata Ayah, Kak Andro juga yang sudah membiayai operasi kaki Reno. Sekarang Kak Andro beliin Reno laptop! Kak Andro keren banget! Kak Andro baik nya kayak malaikat!" kata Reno.
Andro merangkul bahu Reno. "Jangan berlebihan begitu. Kak Andro kan mau Reno jadi anak pintar dan baik" katanya.
"Iya Kak! Reno janji jadi anak baik dan pintar!"
"Pegang janjinya, ya! Seorang laki-laki itu harus bisa pegang janji!"
"Siap Kak! Reno juga kalau udah besar mau jadi orang kantoran kayak Kak Andro!"
"Belajar yang rajin ya?!"
"Iya, Reno akan rajin belajar pake laptop dari Kak Andro ini. Sekarang kalau belajar gak usah lagi pake HP Ayah yang lemot!"
"Apa kamu bilang HP Ayah lemot?! Itu jaringan nya aja yang jelek!" gerutu Ayah.
"Awas kalau laptopnya di buat main game online terus!" kata Marisa.
"Enggak, Kak. Reno akan pake belajar sama mau di pamerin ke teman-teman!" kata Reno polos.
"St! Gak boleh pamer! Gak baik itu!" Marisa melotot.
__ADS_1
"Iya, Kak. Maaf... Abisnya mereka juga suka pamer ke Reno! Mentang-mentang Reno pake HP Ayah terus..."
Andro membelai-belai rambut Reno. "Hehe, sekali-kali orang kayak gitu emang harus di panasin juga!"
"Nah! Kak Andro ngerti, tuh! Kak Andro memang satu server sama Reno! Kak Andro is the best!"
Reno di izinkan pulang pada hari Senin karena harus melewati observasi dari dokter dulu. Sementara Marisa memutuskan pulang ke Jakarta pada hari Minggunya, jadi Marisa tidak bisa menunggui Reno sampai pulang dari rumah sakit.
Mama dan Ayah sebenarnya masih kangen pada Marisa, tapi mereka mengerti kalau Marisa dan Andro banyak pekerjaan di kantor. Sebelum Marisa kembali ke Jakarta, Ayah dan Mama sempat mengajak Marisa bicara bertiga saat Andro sedang asyik main game online dengan Reno.
"Marisa, Ayah minta kamu terima saja perasaan dari Pak Andro! Dia orang baik! Ayah tidak yakin kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dari dia di kemudian hari!" kata Ayah.
""Iya, Marisa. Mama juga sependapat dengan Ayah. Pak Andro baik, kaya, ganteng juga! Dia sempurna! Kamu mau cari yang bagaimana lagi?" kata Mama.
"Iya Mama, Ayah. Aku akan pertimbangan kata-kata kalian" kata Marisa.
"Masih mau mempertimbangkan apa lagi?" kata Ayah.
*******
Marisa dan Andro pulang ke Jakarta pada Minggu sorenya. Andro tidak berlama-lama di rumah Marisa karena Mama nya juga sudah kangen. Apalagi Indra, kakaknya yang bawel itu tidak ada habisnya meminta Andro untuk pulang. Maka sehabis makan malam bersama, Andro pamit pulang.
Sampai di rumah, Mama segera menanyakan bagaimana kabar adik Marisa yang kecelakaan. Mama ikut merasa senang saat Andro menceritakan kalau adik Marisa sudah baik-baik saja.
"Alhamdulillah kalau begitu, Mama ikut khawatir pada keadaan adik Marisa" kata Mama. "Lalu bagaimana dengan keluarga Marisa? Mama dan Papa nya menerima kamu dengan baik? Mereka welcome sama kamu?"
"Alhamdulillah baik, Mam. Mereka baik sekali sama Andro" kata Andro.
"Ya pasti baik lah! Orang ada maunya!" celetuk Indra yang saat itu juga ada bersama Mama dan Andro di ruang duduk bersama.
__ADS_1
"Apa sih, Dra?" Andro kesal mendengar ucapan Indra.
"Berani bertaruh kamu tidak mengeluarkan uang banyak selama berada disana? Beli apa saja kamu buat mereka? Sawah? Tanah? Kamu mau jadi sapi perah keluarga mereka yang gila harta?!" Indra memberondong Andro dengan tudingan yang tidak beralasan.
"Masya Allah, Dra! Marisa dan keluarganya tidak seperti itu! Kamu udah su'uzan!" hardik Andro.
"Cih! Tahu apa kamu masalah dosa?! Aku tahu sifat dan karakter orang seperti mereka!"
"Indra, sudah! Kamu jangan seperti itu! Kalau Andro memang mencintai Marisa, tidak ada salahnya kalau dia memberikan semua apa yang Marisa inginkan kalau dia mampu! Yang penting tidak memakai uang orang lain. Kamu juga pasti akan memberikan apapun yang Sofie inginkan, bukan?" kata Mama menengahi.
"Sofie tidak butuh uang dari aku, Mam! Dia punya banyak uang sendiri! Sementara Marisa, dia hanya akan jadi benalu dalam kehidupan Andro!" kecam Indra.
Andro sampai menggeleng-gelengkan kepalanya saking kesalnya mendengar kata-kata Indra. "Terserah kamu lah, Dra! Aku capek! Aku mau istirahat!" katanya lalu bergegas pergi meninggalkan Indra.
"Andro sayang, kamu makan dulu!" kata Mama.
"Aku udah makan tadi di rumah Marisa" jawab Andro.
"Dasar budak cinta!" teriak Indra kesal lalu pergi juga dari ruang duduk bersama. Kalau sudah begini tinggal Mama yang mengusap dadanya.
Indra benar-benar kesal pada Andro saat ini! Bisa-bisanya Andro pergi ke Bogor bersama Marisa sampai tiga hari pula! "Melakukan apa saja mereka selama tiga hari ini?! Awas Andro kalau sampai berani menyentuh Marisa! Aku hajar dia!" umpat Indra sendiri!
Selama tiga hari Indra merasa kesal sendiri karena Andro pergi dengan Marisa. Rasanya Indra jadi panas hati dan tidak tenang. Pikirannya selalu bertanya-tanya sedang apa Marisa dan Andro? Pergi kemana mereka? Melakukan apa saja mereka? Apalagi mendengar cerita Andro kalau dia sudah di terima dengan baik di keluarga Marisa!
Akhirnya karena kesal sendiri, Indra memutuskan untuk menghubungi Sofie, kekasihnya. Padahal malam Minggu kemarin Indra yang menolak untuk bertemu dengan Sofie dengan alasan capek. Baru kali ini selama berhubungan dengan Sofie, Indra menolak untuk bertemu dengan tunangannya itu di akhir pekan.
"Sofie, kamu dimana sekarang?" tanya Indra lewat sambungan telepon.
"Aku di rumah, Dra. Ada apa?" Sofie balik bertanya.
__ADS_1
"Aku tunggu satu jam lagi di lobi apartemen ku! Aku berangkat sekarang!" perintah Indra tegas.