
Makan malam bersama di kediaman keluarga Perdana berlangsung sangat hangat dan akrab. Melati juga hadir dengan di jemput oleh Andro. Ternyata benar apa yang di ceritakan Marisa kalau Melati adalah seorang gadis yang cantik, dan menyenangkan. Mama juga sangat senang bisa berkenalan dengan Melati. Timbul dalam hati Mama satu keinginan untuk menjodohkan Melati dan Andro.
Mama banyak bertanya tentang keluarga dan kehidupan pribadi Melati termasuk sampai ke urusan pacar. "Apakah kamu sudah punya pacar, Melati?" tanya Mama.
Melati tampak agak kaget dengan pertanyaan Mama, dia terdiam dan sebelum akhirnya menjawab sambil menggelengkan kepalanya. "Belum, Bu. Saya belum ada pacar"
"Masa gadis secantik kamu belum ada pacar?"
"Iya, saya selama ini sibuk kuliah sambil magang di perusahaan di daerah Bandung yang dekat dengan kampus. Jadi gak ada waktu untuk dekat dengan lawan jenis"
"Lalu sekarang kamu sudah lulus kuliah?"
"Alhamdulillah sudah, Bu. Baru bulan kemarin"
"Dan kamu langsung mencari pekerjaan? Tidak ada keinginan untuk istirahat sejenak?"
"Kebetulan saya melihat ada lowongan pekerjaan di perusahaan Perdana Enterprise. Saya langsung melamar dan Alhamdulillah saya di terima oleh Pak Indra"
"Kenapa kamu tidak bekerja di perusahaan lama tempat kamu magang?" tiba-tiba Andro ikut bertanya.
Melati melirik kearah Andro dan seketika itu pandangan mereka bertemu sebelum akhirnya Melati menundukkan pandangannya dengan sopan. "Saya tidak melanjutkan karier saya di perusahaan tempat saya magang karena Mama saya meminta agar saya mencari pekerjaan di daerah sekitar Jakarta saja. Agar saya bisa pulang ke rumah dan tidak berjauhan lagi dengan keluarga" Melati menjawab pertanyaan Andro.
"Iya, betul. Aku juga kalau bukan karena ada jodoh dengan Pak Indra, pasti sekarang aku sudah bekerja di daerah kelahiran ku di Bogor" kata Marisa.
"Alhamdulillah ya kalau begitu, karena Bu Marisa bekerja di Perdana Enterprise akhirnya bisa berjodoh dengan Pak Indra" kata Melati yang sudah tahu tentang cerita perjalanan cinta antara Indra dan Marisa dari cerita Marisa sendiri.
"Iya, Alhamdulillah" kata Marisa sambil tersenyum dan melirik manja kearah Indra.
"Iya, dan sekarang Marisa akan segera melahirkan seorang penerus keluarga Perdana" kata Indra balas tersenyum sambil membelai perut Marisa.
"Ya mungkin saja kamu juga akan bernasib sama seperti Marisa" kata Mama pada Melati.
"Maksud, Ibu?" Melati kurang memahami apa yang di maksud Mama.
"Ya, mungkin saja kamu nanti bisa berjodoh dengan Andro"
Seketika itu juga wajah Melati langsung bersemu merah dan kepalanya tertunduk.
__ADS_1
"Mam...! Sudah dong! Kasihan tuh Melati nya malu" kata Andro saat melihat bagaimana Melati terlihat sangat malu dengan kata-kata Mama.
"Mama kan cuma bercanda. Gak apa-apa kan, Melati?" kata Mama.
"Gak apa-apa, Bu" kata Melati sambil tersenyum dan melirik malu kearah Andro.
Sekarang Andro yang jadi serba salah.
Makan malam bersama itu pun akhirnya selesai dan Mama berpesan agar kapan-kapan Melati mau berkunjung lagi ke kediaman keluarga Perdana. Setelah itu Mama juga meminta Andro untuk mengantarkan Melati pulang ke rumahnya.
Andro pun segera mengantarkan Melati pulang ke rumahnya. Dalam perjalanan pulang, mereka tidak saling bicara karena merasa sama-sama canggung dengan candaan Mama di meja makan tadi.
Saat mobil Andro sudah berhenti di depan pagar rumah Melati, barulah Andro meminta Melati untuk bicara sebentar sebelum turun dari mobilnya.
"Saya pamit dulu ya, Pak Andro" kata Melati.
"Sebentar, Melati. Saya ingin bicara sebentar dengan kamu" kata Andro.
Melati menatap Andro dengan tatapan agak takut-takut. "Ada apa, Pak Andro?"
"Masalah bercandaan Mama saya tadi saat kita makan bersama. Saya minta maaf. Mungkin ada salah kata Mama saya yang membuat kamu merasa tidak nyaman"
Andro tersenyum. "Saya juga tidak apa-apa, kok. Mama saya memang seperti itu. Dia mudah sekali untuk dekat dengan seorang yang dia rasa menyenangkan untuknya. Sama seperti dulu saat saya pertama kali membawa Marisa ke rumah, eh! Astaga!!!" Andro merasa sangat menyesal karena telah kelepasan berkata kepada Melati kalau dulu dialah yang pertama kali membawa Marisa ke kediaman keluarga Perdana.
"Membawa Bu Marisa untuk pertama kalinya?" Melati tampak bingung.
"Ya, memang saya yang pertama kali membawa Marisa ke rumah. Waktu itu saya berniat untuk memperkenalkan Marisa kepada Mama karena Marisa adalah kekasih saya" Andro akhirnya kepalang untuk bercerita kepada Melati.
"Ya Allah... Jadi awalnya Bu Marisa adalah kekasih Pak Andro?"
Andro mengangguk sambil tersenyum pahit.
"Lalu kenapa sekarang Bu Marisa menjadi istri Pak Indra?" tanya Melati.
"Apakah saya perlu menjawab pertanyaan kamu?" Andro balik bertanya.
"Maaf, saya kelepasan" Melati menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Ya sudah. Tidak apa-apa, kok. Saya hanya tidak ingin lagi mengungkit masa lalu saya dengan Marisa. Yang jelas dia sekarang adalah kakak ipar saya, istri dari kakak saya dan saya sudah menerima semua kenyataan itu"
Jelas sekali bagi Melati kalau dalam nada suara Andro mengandung kekecewaan dan kesedihan yang mendalam. Masih begitu nampak pada raut wajahnya yang tampan bahwa sesungguhnya Andro belum bisa melupakan Marisa sepenuhnya dan itu membuat timbul satu perasaan iba pada hati Melati.
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu, Pak Andro"
"Ya"
"Terima kasih atas ajakan makan malam nya dan untuk kesediaan Anda menjemput dan mengantar saya pulang"
"Iya, sama-sama"
"Selamat malam"
"Selamat malam, salam untuk semua keluarga kamu"
"Ya Pak" Melati pun segera turun dari mobil Andro dan memasuki pagar halaman rumahnya.
Sepulang dari mengabarkan Melati, Andro segera pulang dan bertemu Mama di ruang keluarga. Sementara Marisa dan Indra tampaknya sudah naik ke lantai atas.
"Mam, belum tidur?" tanya Andro.
"Mama nungguin kamu, Dro" jawab Mama.
"Ini kan saya sudah pulang. Sekarang Mama sebaiknya masuk kamar. Ini sudah malam lho, Mam"
"Iya, Sayang. Kamu tadi bicara apa saja dengan Melati?"
"Tidak ada"
Mama menghela nafas panjang. "Apakah kamu tidak suka pada Melati?"
"Mama serius ingin saya dekat dengan Melati?"
"Ya, dia gadis cantik dan baik juga sopan"
"Maaf, Mam. Untuk saat ini saya belum ada niat untuk mendekati Melati. Lagipula saya merasa tidak tertarik dan tidak cocok dengan melati"
__ADS_1
"Kenapa, Dro? Apakah karena kamu belum bisa melupakan Marisa?"
"Bukan, Mam. Saya sudah melupakan perasaan saya pada Marisa. Tapi untuk mendekati Melati, saya merasa tidak berniat. Ada sesuatu yang membuat saya merasa tidak enak dengan Melati. Saya tidak tahu apakah itu, tapi saya bisa merasakannya"