
"Tiga hari lagi juga kebetulan adalah hari anniversary pernikahan saya dengan Marisa, Mam. Jadi kami berharap kalau di acara syukuran Baby Syailendra nanti, para tamu juga bisa ikut mendoakan pernikahan kami" kata Indra.
"Ya Allah... Betul juga ya? Kalian juga akan melewati satu tahun pernikahan! Mama hampir lupa" kata Mama. "Apakah kalian ada rencana bulan madu berdua atau liburan bersama Baby Syailendra?"
"Tidak ada, Mam. Baby Syailendra juga kan masih kecil, kasihan" kata Marisa.
"Oh, ya sudah kalau begitu kita satukan saja acara syukuran Baby Syailendra bersama dengan anniversary kalian"
"Makasih ya, Mama" kata Marisa.
"Iya, Marisa Sayang. Mana berharap kalian berdua bisa terus bersama dan hidup di selamanya. Apalagi sekarang ada Baby Syailendra di tengah kalian berdua"
"Amin, Mama. Insya Allah" kata Marisa.
"Amin, Mam. Saya juga sangat bahagia sudah memiliki seorang istri yang cantik dan baik seperti Marisa. Juga anak yang lucu dan sehat seperti Baby Syailendra. Saya bersyukur sekali" kata Indra.
"Kamu harus bisa menjaga dan membahagiakan Marisa dan Baby Syailendra!" kata Mama.
"Pasti, Mama!" kata Indra tegas.
"Makasih ya, Dra" kata Marisa seraya tersenyum manis.
Indra membalas senyuman Marisa lalu mencium keningnya dengan lembut. Andro dan Mama Renata pun ikut tersenyum.
Keesokan harinya Indra mengundang Melati agar bisa hadir di acara syukuran Baby Syailendra yang akan dilaksanakan tiga hari lagi. Indra juga mengatakan pada Melati bahwa dalam acara syukuran Baby Syailendra itu akan menyertakan syukuran anniversary nya juga.
"Kamu bisa datang, kan?" tanya Indra pada Melati.
"Insya Allah, Pak Indra" kata Melati.
"Andro yang akan menjemput kamu nanti"
"Oh ya? Saya bisa datang sendiri"
"Mama saya yang memintanya. Mama ingin kamu bisa dekat dengan Andro"
__ADS_1
Melati hanya tersenyum tipis.
"Apakah kamu menyukai Andro?" tanya Indra tiba-tiba.
Melati membelalakkan matanya seolah kaget mendengar pertanyaan Indra itu. "Tidak, Pak! Saya tidak menyukai Pak Andro" Melati menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Andro kan tampan dan gagah. Dia juga adalah wakil saya di Perdana Enterprise. Mama saya juga suka pada kamu"
"Tidak Pak" Melati tetap menggeleng.
"Karena kamu lebih menyukai saya?" tanya Indra dengan mata yang menatap tajam pada Melati.
Melati malah menundukkan wajahnya.
Indra memegang dagu Melati dan mengangkatnya agar tidak terus menunduk. "Jangan menunduk terus! Tatap mata saya dan jawab pertanyaan saya!" katanya.
Melati malah memejamkan matanya seolah takut melihat tatapan Indra. Tentu saja itu adalah bagian dari aktingnya yang pura-pura polos di depan Indra.
Sikap Melati yang seperti itu justru membuat Indra semakin gemas kepada Melati. Melati ibarat sekuntum bunga yang sedang kuncup. Bunga yang masih polos dan suci juga lugu. Hal itulah yang dulu juga membuat Indra menyukai Marisa.
Mata Melati seketika itu juga terbuka dan terdengar suara nafasnya yang semakin memburu seolah ketakutan. Matanya semakin membelalak dan wajahnya tampak pucat.
Wajah Indra dan Melati kini menjadi sangat dekat. Mereka saling menatap. Indra dengan tatapan tajamnya sementara Melati dengan sorot mata takutnya yang palsu.
"J... Jangan Pak Indra..." desah Melati gugup dan bergetar padahal dalam hatinya bersorak-sorai!
"Jawab pertanyaan saya, Melati... Kamu tidak menyukai Andro karena kamu menyukai saya, kan?!" tanya Indra tegas.
Perlahan Melati mengangguk-anggukkan kepalanya. "Iya, Pak Indra... Saya mengaku kalau saya memang menyukai Anda, karena itulah saya tidak bisa menyukai Pak Andro..."
"Bagus! Saya suka sekali dengan kejujuran kamu. Sebagai hadiah atas kejujuran kamu, saya akan memberikan sesuatu untuk kamu" dan tanpa menunggu Melati berkata sesuatu, Indra melekatkan bibirnya ke bibir Melati.
"Hmfh...!" Melati sampai tercekik saat merasakan bagaimana bibir Indra menempel ketat pada bibirnya. Membuat satu perasaan bahagia dan kaget yang luar biasa!
Begitu mendadak dan Melati tidak bisa menghindar, atau memang Melati yang tidak berusaha menghindar?
__ADS_1
Bukan hanya mengecup, Indra perlahan melu mat bibir Melati. Begitu mesra dan memabukkan, bagaimana bibir dan lidah Indra dengan begitu lihainya mempermainkan seluruh bagian bibir Melati.
Cukup lama dan yang terdengar adalah suara desah nafas, lu matan- lu matan, serta kecupan yang tidak ada henti-hentinya.
Melati yang awalnya sengaja diam saja, perlahan mulai membalas dan akhirnya malah dia sendiri yang begitu ketatnya membelit lidah Indra dengan lidahnya. Belum lagi bibir ranum berisi nya yang terus mengecupi bibir Indra.
Gairah Indra langsung bangkit dan segera saja kedua tangannya beraksi dengan cepat. Tangan yang satu memeluk pinggang Melati, sementara yang satunya lagi naik ke atas dada Melati, mencangkup buah dada Melati dan meremasi nya dengan penuh nafsu.
"Ah..." Melati langsung melepaskan bibirnya dari bibir Indra dan mendesah panjang.
"Padat sekali" desah Indra di telinga Melati seraya menjilati daun telinga gadis itu.
"Ah... Jangan Pak Indra... Jangan... Saya mohon... Jangan... Sakit Pak... Sakit...! Jangan remas-remas dada saya..." rintih Melati dengan menghiba agar terkesan polos di hadapan Indra.
Melati tahu persis kalau Indra tidak suka wanita yang agresif, karena itu Melati sengaja mengulur waktu dengan berpura-pura kesakitan seolah baru pertama kali buah dadanya ada yang menjamah. Padahal Melati sudah tidak tahan ingin rasanya melepas kancing-kancing blus nya dan menyodorkan pucuk buah dadanya ke mulut Indra!
"Nikmati saja, Melati! Sebentar saja tidak akan terasa sakit lagi!" desis Indra sambil terus meremasi buah dada Melati yang padat berisi.
"Ah... Ah... Jangan Pak Indra... Jangan..." Melati merintih dan mendesah membakar gairah Indra.
"Mantap sekali! Keras dan padat!" ucap Indra senang.
"Sudah, Pak... Sudah...!"
"Kenapa? Nikmat bukan? Ini baru awalnya saja, Melati! Nanti saya akan membuka pakaian kamu, menjilati buah dada kamu, menghisapnya, dan bahkan mengunyahnya!"
"Ah! Jangan, Pak Indra! Saya tidak pernah melakukan hal-hal seperti itu! Aduh! Pelan-pelan Pak! Sakit...!"
"Saya yang pertama akan melakukannya kepada kamu!"
"Saya bukan istri Bapak! Saya bukan siapa-siapa Anda! Saya bukan Bu Marisa!"
"Tapi saya membutuhkan kamu saat ini! Saya ingin buah dada kamu! Kamu kan tahu kalau istri saya sedang menyusui jadi tidak bisa saya permainkan seperti ini!"
"Ah... Pak Indra!" Melati memekik saat Indra dengan cepat melepaskan kancing-kancing blus nya dan juga melepaskan kaitan Bra nya. Buah dada Melati pun kini terpampang jelas di hadapan Indra!
__ADS_1
Padat berisi dengan warna kulit yang eksotis dan pucuk yang besar menantang Indra untuk segera menikmatinya!