
Marisa dan Andro sampai di rumah sakit sekitar pukul enam lebih. Mereka langsung menuju ruang UGD dimana Reno sedang di tangani. Marisa berjalan cepat di sepanjang koridor rumah sakit. Sepatu hak tinggi nya terdengar berbunyi keras di setiap langkah yang di buatnya.
Andro memegang lengan Marisa. "Pelan-pelan jalannya, sayang. Nanti jatuh" katanya lembut.
"Maaf, saya khawatir sekali pada keadaan adik saya" kata Marisa.
Akhirnya Marisa sampai di depan ruang UGD, disana sudah ada Ayah dan Mama. "Ayah, Mama" panggil Marisa.
"Marisa" Mama langsung memeluk putri sulungnya itu sambil berderai air mata.
Sementara Andro segera mencium tangan Ayah. Dalam hatinya Ayah merasa kaget dengan kehadiran Andro bersama Marisa. Seorang pria tampan berjas. Dalam hati Ayah juga terkesan oleh sikap orang yang terlihat berpenampilan mewah itu karena dengan rendah hati bersedia mencium tangannya. Ini baru pertama kali terjadi dalam hidup Ayah.
"Ayah" Marisa ganti memeluk Ayah. Sementara Andro mencium tangan Mama.
"Reno gimana sekarang?" tanya Marisa.
"Barusan dokter nya sudah keluar dari ruangan. Katanya luka-luka Reno sudah di jahit. Sekarang Reno masih dalam pengaruh obat bius. Kalau sudah sadar mau di pindahin ke ruang perawatan" tutur Ayah.
"Reno gak apa-apa? Gak ada sesuatu yang serius?"
"Itu dia, Mar. Kata dokter ada yang mau mereka bicarakan dengan Ayah. Tapi dokter nya mau istirahat dulu. Nanti sekitar jam delapanan Ayah akan di panggil ke ruang dokter"
"Mudah-mudahan gak ada yang serius"
"Amin"
"Oya Ayah, Mama. Kenalin ini Pak Andro. Bos aku di kantor. Aku kesini di antar sama Pak Andro" Marisa memperkenalkan Andro.
"Salam kenal Pak, Bu. Saya Andro" kata Andro.
"Salam kenal juga, Pak" kata Mama.
"Terima kasih sudah mengantarkan Marisa kesini" kata Ayah.
"Sama-sama"
Saat itulah pintu ruangan UGD terbuka dan tampak ranjang rawat Reno sedang di dorong keluar. Reno sendiri tampak sudah sadar.
__ADS_1
"Ayah, Ibu, Kakak...!" panggil Reno sambil menangis.
Mama, Ayah dan Marisa segera memeluk dan menenangkan Reno.
"Reno minta maaf, Ma...! Maafin Reno" ratap Reno.
"Iya, Mama maafin. Jangan di ulangi lagi ya, nak! Kamu harus nurut apa kata orang tua" kata Mama.
"Iya Ma, Reno nyesel..."
"Sekarang Reno akan di pindahkan ke ruang perawatan. Sebelum itu dia akan di CT scan untuk melihat apakah ada benturan di bagian kepala atau tidak. Bapak dan ibu silahkan menunggu Reno dulu karena nantinya dokter akan bicara" kata seorang perawat.
"Ya, suster. Makasih" kata Ayah.
Reno pun menjalani CT scan dan di tempatkan di ruang perawatan. Suster yang mengantarkan nya pun pamit untuk pergi. Masih ada waktu sekitar satu jam untuk bertemu dengan dokter.
Reno sendiri tampak tertidur. Kepalanya di perban dan ada gips juga pada kaki sebelah kanan di bagian lutut, belum lagi luka-luka memar di beberapa bagian tubuhnya. Marisa merasa miris melihat keadaan adiknya itu.
"Reno nya biarin aja dulu istirahat. Sekarang kita makan dulu yuk?" ajak Andro.
"Kita makan diluar yuk!" kata Andro lalu memandang pada Ayah dan Mama "Bapak dan Ibu, mari kita cari makan dulu di luar"
"Enggak usah, Pak" tolak Mama.
"Jangan panggil Bapak, panggil saja saya Andro"
"Tapi kan Bapak ini bos nya Marisa"
"Saya juga pacar nya"
"Pacar?!" Mama dan Ayah menatap Marisa. Yang di tatap cuma bisa senyum.
"Iya Pak, Bu. Saya pacar Marisa. Kalau boleh sekarang saya mau ajak Bapak dan Ibu makan di luar" kata Andro.
"Reno bagaimana?" tanya Mama.
"Reno nya juga sedang tidur. Kita titipkan saja Reno pada perawat yang ada di depan. Nanti saya akan tinggalkan nomor telepon agar kalau Reno bangun bisa menghubungi saya" kata Andro.
__ADS_1
Ayah dan Mama saling menatap dan akhirnya mengangguk. "Baiklah, kami ikut makan" kata Ayah.
Andro pun mengajak Mama dan Ayah naik mobil mewahnya untuk mencari rumah makan dekat rumah sakit. Ayah dan Mama merasa canggung karena baru kali ini naik mobil semewah itu.
"Bagus banget mobilnya, Ma" bisik Ayah.
"Iya, kayak yang di TV-TV!" bisik Mama.
"Gimana ceritanya Marisa bisa pacaran sama bos nya sendiri!"
"Ya mungkin mereka kenal di kantor"
Sementara Andro menyetir mobilnya seraya bertanya pada Marisa. "Mau makan apa, sayang?"
"Kita makan di sana aja tuh. Ada rumah makan" kata Marisa seraya menunjuk sebuah rumah makan.
Andro memarkirkan mobilnya dan membawa Marisa dan orang tuanya memasuki rumah makan tersebut. Mereka duduk di sebuah meja makan yang khusus untuk empat orang. Marisa memesan empat porsi nasi goreng spesial dan juice jeruk.
Selama makan jelas sekali kalau Andro mencoba mendekati Ayah dan Mama dengan banyak bercerita tentang dia dan keluarganya, juga tentang keinginannya untuk menjalin cinta yang serius dengan Marisa.
"Saya harap Ayah dan Mama mengizinkan saya untuk bisa lebih dekat dengan Marisa" kata Andro yang kini memanggil orang tua Marisa dengan panggilan Ayah dan Mama, sama seperti Marisa.
"Ya kalau Ayah sih bagaimana Marisa nya saja. Kalau Marisa sudah mau serius ya Alhamdulillah" kata Ayah.
"Itu dia masalahnya, Yah. Setiap Andro ajak bicara serius, Marisa selalu gantung jawabannya" kata Andro.
"Marisa baru 22 tahun. Dia juga masih kuliah. Beres kuliah dia mau kerja. Jadi Marisa belum bisa kalau di ajak serius. Lagipula apakah keluarga Pak Andro setuju kalau Marisa jadi calonnya Pak Andro?" kata Mama.
"Mama saya sudah setuju. Lagipula kalau Marisa belum siap untuk menikah, kami bisa bertunangan dulu. Kakak laki-laki saya juga belum menikah tapi sudah bertunangan" kata Andro.
Mendengar kata-kata Andro tentang kakak laki-laki membuat Marisa teringat akan Indra. Indra yang tidak merestui hubungan Marisa dengan Andro. Mana mungkin Marisa bisa bersama Andro kalau Indra masih belum setuju. Restu dari Mama Andro saja belum cukup.
Selesai makan mereka kembali ke rumah sakit dan ternyata dokter sudah menunggu untuk bicara dengan Ayah mengenai keadaan Reno. Ayah dan Mama pun masuk ke ruang dokter sementara Marisa dan Andro menunggui Reno yang sudah terjaga.
Reno langsung bisa akrab dengan Andro yang sangat pintar mengambil hati anak kecil. Apalagi Reno seolah mendapatkan figur seorang kakak laki-laki dari sosok Andro yang baik dan ramah.
Diam-diam Marisa merasa kagum dengan cara Andro mendekati keluarganya. Andro begitu baik dan kekeluargaan. Marisa mulai berpikir untuk menerima cinta Andro dan meresmikan hubungan mereka sebagai sepasang kekasih. Tapi sekali lagi Marisa ingat Indra. Bagaimana dengan Indra?
__ADS_1