My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 32 : Keberangkatan ke Luar Kota


__ADS_3

Wajah Marisa pucat pasi mendengar perkataan Indra kalau dia tidak boleh menampakan diri di Perdana Enterprise lagi, dan itu artinya Marisa di pecat! Di pecat sama dengan tidak ada rekomendasi dari Perdana Enterprise, dan itu artinya Marisa tidak akan lulus tahun ini!


"Tidak, Pak Indra! Jangan!" sergah Marisa.


"Kalau kamu tidak mau pergi dari sini lebih awal dari semestinya, kamu ikut saya sekarang juga!" bentak Indra Perdana dan melangkah pergi lebih dahulu.


"Baik, Pak!" Marisa tidak punya pilihan lain lagi selain ikut Indra ke Sumedang sekarang juga. Diraihnya laptop dan berkas-berkas penting yang ada di atas meja kerjanya dengan tergesa-gesa dan segera mengikuti langkah Indra.


Indra masuk lift lebih dahulu, Marisa berhasil menyusul dan ikut masuk ke dalam lift dengan bawaan yang sangat banyak. Belum lagi tas ransel di punggungnya.


Pemandangan yang kontras saat mereka berdua keluar dari dalam lift, dimana seorang pria berjalan lebih dahulu di depan dengan langkah tegas dan dada membusung tanpa barang bawaan dan seorang wanita mengikuti di belakangnya dengan barang bawaan yang seabrek!


Bahkan Marisa sempat melewati meja kerja Kayla yang langsung melotot melihat Marisa jadi ikut bersama Indra!


"Pasti di sangkanya aku ini pelakor yang tidak mau membatalkan kepergian ku dengan Pak Indra sesuai keinginannya!" batin Marisa serba salah. Tapi saat ini bukan Kayla yang harus di pikirkan! Yang terpenting adalah masa depan Marisa dan itu bisa di wujudkan dengan rekomendasi bagus dari Perdana Enterprise! Kalau tidak untuk itu, buat apa Marisa ada disini saat ini dan sampai sejauh ini?


Sampai di depan kantor, Herman sudah ada disana dengan mobil mewah Indra dan segera membukakan pintu mobil untuk Indra dan selanjutnya untuk Marisa di sebelah pengemudi.


"Saya di belakang saja," kata Marisa menolak.


"Maaf, Anda sebaiknya di depan. Di sebelah Pak Indra." kata Herman dingin.


"Tapi..." Marisa ragu.


"Marisa! Kamu jangan buang-buang waktu! Cepat masuk ke dalam mobil sekarang!" bentak Indra yang sudah ada dibelakang setir.


"B... Baik, Pak." Marisa pun segera memasuki mobil, dan Herman pun menutup pintu mobilnya.


"Kamu ini menyebalkan sekali, ya! Mau pergi saja susahnya setengah mati! Mau masuk mobil juga bertele-tele!" rutuk Indra.


"Maaf, Pak. Saya pikir saya tidak pantas untuk duduk di depan berdampingan dengan Bapak." kata Marisa.


"Kamu duduk santai di belakang dan saya yang menyetir mobil ini?! Nanti di tengah perjalanan kamu asyik tidur di belakang dan saya masih menyetir?! Memangnya saya ini supir kamu?!"


"Bukannya begitu, Pak! Lagipula saya pikir kita akan pergi bersama Pak Herman juga,"

__ADS_1


"Buat apa kita ajak dia?! Dia sama sekali tidak mengerti apa-apa mengenai proyek perumahan yang akan saya bangun di Sumedang!"


"Tapi kan dia bisa antar kita ke Sumedang dengan selamat sampai tujuan,"


"Kamu pikir saya tidak akan bisa mengantarkan kamu sampai tujuan dengan selamat?!" sentak Indra dengan mata yang melotot galak.


Untuk sesaat Marisa tertegun dan terpesona melihat kedua mata Indra yang melotot galak. Aneh! Satu perasaan yang tidak bisa Marisa mengerti. Perasaan kagum yang bahkan tidak bisa Marisa rasakan pada Andro yang sudah jelas bilang menyukainya.


"Saya tidak bermaksud berpikir seperti itu, Pak! Cuman kan Sumedang itu jauh. Sampai disana kita harus metting. Apa Bapak tidak akan kelelahan?" kata Marisa.


"Saya bisa menghandle semuanya!"


"Tapi Pak..."


"Apa lagi?!" Indra mulai merasa gusar karena Marisa terus saja bicara!


Anehnya kali ini Marisa merasa senang melihat kegusaran Indra. Nada bicara galaknya, mata melototnya. Ah...


"Saya merasa tidak pantas kalau saya duduk di depan bersama Bapak, karena... Ini kan tempat duduk Bu Sofie kalau Bapak dengannya sedang pergi berdua..."


Marisa merasa ngeri mendengar perkataan Indra. Alarm waspada berbunyi nyaring di benaknya. Apakah ini menjadi pertanda kalau Indra mulai berfikir untuk menjadikan Marisa kekasih kedua seperti yang dia lakukan pada Kayla?!


Mengingat Kayla membuat Marisa jadi kesal dan kecewa pada Indra. "Bisa-bisanya Pak Indra menduakan Bu Sofie dengan memiliki hubungan gelap dengan Kayla! Dan sekarang Kayla di tinggalkan sampai-sampai Kayla merasa kalau itu semua terjadi karena kehadiran ku!" batin Marisa geram.


"Kenapa kamu diam? Kamu tidak akan kecewa melewatkan dua hari bersama saya! Saya akan memberikan kamu hadiah dan bonus setelah proyek kita di Sumedang selesai!" kata Indra lagi.


"Iya, Pak. Semoga semuanya berjalan lancar." kata Marisa.


"Tentu semua akan berjalan lancar, Marisa. Sekarang kamu jangan berisik! Kita akan segera memasuki jalan tol. Kamu jangan mengganggu kefokusan saya dalam menyetir!"


"Baik, Pak!"


Mobil Indra memasuki jalan tol dengan kecepatan tinggi. Mobil mewah itu laksana terbang membelah jalan tol, meninggalkan kota Jakarta untuk menuju Jawa Barat. Musik pop kesukaan Indra terdengar lembut menghanyutkan perasaan Marisa dan akhirnya membuat dia terlelap di samping Indra.


"Marisa, kamu pernah ke Sumedang sebelumnya?" tanya Indra dalam perjalanan. Tapi tak ada jawaban, Indra melirik pada Marisa yang ada di sampingnya dan mendapati gadis itu tertidur lelap.

__ADS_1


Indra mendengus kesal!


"Dasar pemalas! Di suruh duduk di depan buat nemenin kok malah tidur?! Benar-benar gadis tidak berguna! Untung saja dia cantik! Kalau saja dia tidak secantik yang aku lihat saat ini, sudah aku lempar dia keluar mobil!" rutuk Indra.


Dua jam perjalanan, mobil Indra sampai di rest area. Indra memutuskan untuk beri sejenak sambil mengajak Marisa makan siang. Tapi saat Indra sudah memarkirkan, Marisa masih terlelap.


"Benar-benar tukang tidur!" rutuk Indra lalu memegang bahu Marisa dan mengguncangnya. "Marisa, bangun Mar! Kita makan siang dulu!"


"Emh..." Marisa malah menggeliat sedikit dan terlelap lagi.


"Marisa! Bangun! Hei! Kamu mau makan atau tidak?!" kata Indra lebih keras.


Kini Marisa membuka matanya. Menatap Indra dengan sayu. Dan Marisa belum sadar sepenuhnya. "Pak Indra..."


"Marisa, kamu sadar?" tanya Indra.


Marisa mengucak matanya lalu memandang sekitarnya. "Ini dimana, Pak? Kita udah sampai di Sumedang?" tanya Marisa setelah kesadarannya pulih sepenuhnya.


"Kita belum sampai. Ini masih di jalan tol. Kita istirahat di rest area."


"Jauh sekali, ya?"


"Iya! Kamu malah tidur terus! Kita masih setengah perjalanan lagi. Kamu mau makan?"


"Mau... Saya lapar..."


"Ya sudah, ayo kita turun! Kita makan dulu di restoran."


"Iya, Pak."


Indra turun dari mobilnya. Marisa ikut turun dan mengikuti langkah Indra dari belakang. Mereka memasuki sebuah restoran yang ada di rest area.


Indra memesan roti sandwich untuk menu makan siang, sementara Marisa memesan nasi goreng.


Marisa makan dengan lahap karena sudah kelaparan. Beda dengan Indra yang makan pelan-pelan dan penuh dengan etika.

__ADS_1


__ADS_2