
Setelah menghabiskan nasi goreng seafood dan teh hangat nya, Marisa merasa tenaga nya kembali pulih. Marisa merasa konyol kepada dirinya sendiri, untuk apa dia bersedih sampai tidak mau makan segala?! Memangnya dunia Marisa cuma untuk Indra?!
"Nah, kamu udah agak segar sekarang" kata Andro.
"Makasih ya sudah memesankan aku makanan" kata Marisa.
"Sama-sama"
"Apakah kamu datang kesini karena Indra? Dia yang memintanya?"
Andro mengangguk.
"Untuk apa lagi?"
"Kamu harus percaya kepada Indra, Marisa. Indra tidak melakukan apa-apa bersama tiga wanita di apartemen itu. Indra tidak mungkin mengkhianati kamu"
"Kenapa kamu yakin sekali?"
"Pertama, itu bukan apartemen Indra! Indra datang kesana atas permintaan Pak Tio, klien bisnis nya. Kedua, menurut Gery ada seseorang yang mengirim pesan kepada kamu agar kamu datang ke apartemen itu dan menggerebek Indra. Ini jelas ada unsur kesengajaan untuk menjebak Indra! Ketiga, tadi saya sudah menelepon Pak Tio untuk menanyakan apa mengirim tiga wanita itu untuk Indra. Dia katakan kalau tiga wanita itu adalah hadiah untuk Indra atas kerjasama perusahaan nya dengan Perdana Enterprise. Keempat, ternyata Henry Adiputra yang telah menyarankan dan menyiapkan tiga wanita itu untuk Indra karena dia adalah asisten dari Pak Tio! Disini jelas kalau Henry memang berniat menjebak Indra, bukan tidak mungkin dia juga yang sudah mengirim pesan kepada kamu. Kamu tentu masih ingat tentang Henry?" tutur Andro dengan padat dan jelas sehingga membuat pikiran Marisa terbuka dan mulai meyakini kalau Indra tidak bersalah.
"Ya Allah... Aku sudah salah dalam menilai Indra. Tadi aku marah sekali melihat Indra ada disana" kata Marisa.
"Saya mengerti perasaan kamu. Indra juga merasa sedih sekali. Saya tahu kalau Indra tidak seperti itu. Dia tidak suka main perempuan"
Marisa merasa kata-kata Andro ada benarnya juga. Indra memang bukan pria suci yang belum pernah menyentuh wanita, tapi Indra juga tidak sembarangan untuk meniduri wanita apalagi tiga sekaligus!
"Aku akan minta maaf kepada Indra"
"Kamu tidak salah, semua ini juga karena sikap Indra di masa lalu sehingga membuat Henry merasa sakit hati. Saya besok akan menghubungi Henry untuk meminta dia jangan lagi mengganggu Indra dan melupakan semua yang pernah terjadi"
"Kenapa kamu tidak minta Pak Tio untuk memecatnya saja?!"
"Itu bukan solusi terbaik, Marisa. Memecat Henry hanya akan membuat dia bertambah sakit hati. Kita harus rangkul dia dengan kesabaran. Dengan cara itu siapa tahu dia akan berterima kasih dan memaafkan Indra"
__ADS_1
"Kamu baik sekali sih..." Marisa menatap Andro dengan hangat membuat yang di tatap jadi salah tingkah.
"Saya selalu berusaha menjadi orang baik. Seperti apa yang selalu di ajarkan oleh Mama" kata Andro.
"Kamu benar-benar sempurna, Andro"
Andro cuma nyengir, dalam hatinya berkata "Kalau saya sempurna, kenapa kamu meninggalkan saya?"
Suasana hening sejenak dan akhirnya Andro berkata. "Kalau begitu saya akan pulang, tapi sebelumnya saya ingin ikut shalat Isya dulu. Boleh kan?"
"Boleh, aku juga belum shalat Isya. Kamu jadi imam aku saja, bagaimana?" tanya Marisa lagi-lagi membuat Andro salah tingkah.
"Boleh, kalau begitu saya akan panggil Gery untuk ikut shalat berjamaah bersama kita"
"Oke, aku siapin dulu alat-alat shalat nya"
Andro keluar dari kamar Marisa untuk mencari Gery, tapi Gery sudah lenyap entah kemana. Andro pun kembali kedalam kamar Marisa dan melihat bagaimana Marisa sudah menyiapkan tiga sajadah yang terbentang di lantai kamar.
"Mar, kita shalat berdua saja. Gery nya sudah tidak ada" kata Andro.
"Iya, padahal tadi masih ada waktu paket makanan datang"
"Mungkin dia pulang, dari siang tadi dia kan menunggui aku"
"Iya, kalau begitu saya ambil wudhu dulu"
Andro pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan tidak lama dia sudah kembali dan melihat bagaimana Marisa sudah duduk di atas sajadah dengan menggunakan mukena. Marisa tampak tersenyum menatap Andro.
Andro sampai terpana melihat bagaimana cantiknya Marisa saat menggunakan mukena seperti itu.
"Masya Allah... Maha karya Allah yang telah menciptakan wanita secantik ini... Andai saya bisa menjadi imam dalam setiap shalat nya..." batin Andro.
Marisa merasakan hal yang sama. Saat melihat Andro selesai berwudhu dan rambutnya sedikit basah membuat pria itu terlihat sangat mempesona dan menyejukkan hati. "Masya Allah... Benar-benar tampan seorang Andro Perdana. Ya Allah, kenapa aku jadi terpesona melihatnya?! Dia kan sudah bukan kekasihku! Aku sekarang adalah tunangan kakaknya!" batin Marisa.
__ADS_1
Andro pun mengimami Marisa shalat Isya. Marisa merasa hatinya berdebar kencang mendengar suara Andro membacakan surat-surat Al-Qur'an. Ada kedamaian yang merasuk kedalam relung hati Marisa.
Hingga akhirnya mereka selesai menunaikan ibadah shalat dan Andro berbalik ke belakang, menatap Marisa dan mengulurkan tangannya layaknya seorang suami yang selesai mengimami shalat istrinya.
Marisa termangu sesaat sebelum akhirnya meraih tangan Andro dan menciumnya dengan lembut.
Akhirnya Marisa dan Andro jadi terbawa perasaan masing-masing. Ada perasaan rindu saat-saat mereka masih bisa bercanda bersama. Walaupun Marisa tidak pernah bisa mencintai Andro, tapi Marisa pernah sangat menyayangi pria itu. Sebaliknya Andro memang belum bisa melupakan yang sungguh-sungguh di cintai nya.
"Ya Allah... Kenapa aku jadi baper begini sih?! Gara-gara Andro jadi imam shalat ku! Apalagi dia pake mengulurkan tangannya segala! Jadi mau gak mau aku jadi cium tangan nya!" batin Marisa.
Sementara dalam hatinya Andro juga membatin. "Ya Allah... Apakah ini akan jadi saat pertama dan kedua saya menjadi imam shalat Marisa? Andai saya bisa menjadikan Marisa sebagai pendamping hidup saya..."
Lama mereka saling menatap tanpa kata-kata, tiba-tiba suara dering HP Andro berbunyi nyaring. Andro segera bangkit dari atas sajadahnya dan mengangkat telepon yang ternyata dari Indra. Sementara Marisa segera membereskan alat-alat shalat nya.
"Halo" kata Andro lewat sambungan teleponnya.
"Kamu dimana?! Masih di rumah Marisa? Kenapa lama sekali?! Ini sudah larut malam! Kamu ini mau mendamaikan saya dengan Marisa ataukah mau coba mendekati Marisa?!" Indra langsung memberondong Andro dengan banyak pertanyaan.
"Saya baru mau pulang. Lagipula ada Gery disini. Saya tidak berdua saja dengan Marisa. Saya juga harus membujuknya untuk makan dulu karena Marisa belum makan dari siang tadi" kata Andro.
"Kamu sudah bicara dengan Marisa tentang masalah di apartemen tadi?!"
"Ya, saya sudah bicara dengan Marisa"
"Oh ya?! Apa katanya?!"
"Dia sudah mengerti dan mau berbaikan dengan kamu"
"Oke, bagus! Kalau begitu sekarang juga kamu pulang! Tidak baik kamu terus-menerus bersama dengan tunangan saya yang cantik!"
"Iya, saya pulang sekarang!" Andro menutup teleponnya dengan perasaan kesal!
Indra yang menyebalkan! Bukannya berterima kasih dia malah berkata hal-hal yang aneh!
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Marisa yang sudah selesai membereskan alat-alat shalat nya.
"Saya harus pulang sekarang. Pemilik hati kamu, sudah meminta saya untuk pulang dan tidak terus bersama kamu" jawab Andro.