My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 68 : Kamu Belum Mencintai Saya


__ADS_3

Keesokan harinya saat Marisa masih berada di ruangan metting untuk membereskan berkas-berkas, Marisa mendapat kabar dari Henry kalau pihak Bank tempatnya bekerja memberi surat yang berisi kalau pihak perusahaan untuk sementara merumahkan Henry.


Marisa-benar merasa bersalah pada Henry. Semua ini pasti gara-gara kejadian kemarin saat Marisa dan Henry pergi dari area permainan golf dan jalan-jalan dengan golf cart.


Marisa langsung menelepon Henry untuk meminta maaf. "Maaf, Pak Henry. Saya benar-benar minta maaf. Saya menyesal sekali. Bagaimana caranya agar saya bisakah menolong Anda?!"


"Tidak ada yang bisa kamu lakukan, Marisa. Saya juga tidak menyalahkan kamu. Semua ini bukan salah kamu ataupun salah saya. Ini semua akibat dari perbuatan CEO kamu, Indra Perdana yang sinting itu!" rutuk Henry lewat sambungan telepon.


Maria bertambah tidak enak. "Saya akan coba bicara pada Pak Indra. Mungkin dia bisa bicara pada Pak Nugraha agar mempertimbangkan keputusannya untuk merumahkan Anda"


"Tidak! Kamu tidak perlu melakukan itu semua! Saya juga bukan seorang pengemis! Saya bisa mencari pekerjaan di perusahaan lain. Kamu tidak usah khawatir. Saya tidak akan mati hanya karena kehilangan pekerjaan saya! Saya juga tidak akan menganggur sampai mati!"


"Tapi saya merasa tidak enak"


"Jangan merasa seperti itu. Saya menghubungi kamu bukan karena saya minta kamu untuk ikut memikirkan nasib saya. Saya hanya ingin memperingatkan kamu bahwa orang yang saat ini menjadi atasan kamu, Indra Perdana itu adalah seorang yang licik dan jahat! Hanya karena masalah pribadi dia tega menyingkirkan saya dari perusahaan yang telah menjadi tempat saya bekerja sejak sepuluh tahun yang lalu!"


"Iya, saya tahu kalau Pak Indra memang begitu"


"Sekarang saya peringatkan kamu agar setelah kamu menyelesaikan PKL kamu di Perdana Enterprise, kamu segera jauhi Indra Perdana! Jangan pernah berurusan lagi dengan dia! Atau kamu akan menyesal!"


Dan telepon terputus.


Marisa tertegun dan tidak tahu harus melakukan apa. Marisa merasa bingung sekali sampai-sampai saat seseorang memasuki ruangan metting. Marisa tidak menyadarinya hingga orang tersebut mengendap-endap di belakangnya dan memeluk tiba-tiba memeluk Marisa!


"Eh!" Marisa kaget sekali dan refleks menoleh ke arah dan menatap wajah Andro yang tampak sedang menatap mesra padanya.


"Selamat siang, Sayang" sapa Andro.


"Hai, kapan pulang? Kok gak ngabarin?" tanya Marisa. Rasanya bahagia sekali melihat ada Andro di dekatnya. Andro dengan tatapan matanya yang selalu bisa menyejukkan hati Marisa.


"Saya dari Bandara langsung kesini. Saya kangen banget sama kamu, cantik!" kata Andro seraya mengecup pipi Marisa dengan lembut.

__ADS_1


"Aku juga kangen" kata Marisa.


"Sun dong" Andro dengan lugunya menyodorkan pipinya untuk di kecup Marisa.


"Ih! Apaan sih!" Marisa malah mendorong pelan pipi Andro.


"Katanya kangen, tapi gak mau kasih sun?!" Andro merajuk.


"Kok kamu jadi manja? Kalau di depan Ayah dan Mama aku kayak yang gentleman banget!"


"Di depan calon mertua ya harus jaga image!"


"Dasar modus! Oya bagaimana kerjaan di luar negeri nya? Lancar?"


"Alhamdulillah"


"Syukurlah"


Andro duduk di samping Marisa yang sudah selesai membereskan berkas-berkas. "Marisa, tadi saya lihat kamu seperti sedang melamun. Sampai-sampai kamu gak sadar kalau saya memasuki ruangan. Kamu sedang memikirkan apa? Masalah pekerjaan atau ada yang lain?"


"Karena saya sayang sama kamu" kata Andro.


Marisa memeluk Andro yang langsung dibalas dengan pelukan erat. "Makasih, saya juga sayang kamu" bisik Marisa.


"Cuma sayang?" Andro balas berbisik.


"Kamu maunya apa?"


"Saya mau kamu balas perasaan cinta saya"


Marisa malah diam.

__ADS_1


Andro menghela nafas dan memilih untuk membicarakan hal lain, dengan siku di atas meja dan telapak tangan menopang dagu, Andro mengajak Marisa bicara. "Lalu apa yang sedang kamu pikirkan? Coba kamu cerita pada saya"


Marisa pun mulai menceritakan tentang masalah yang menimpa Henry karena kemarin pergi dengan Marisa tanpa seizin Indra.


Andro mendengarkan dengan teliti tanpa memotong sedikitpun cerita Marisa. Sesekali Andro mengangguk-angguk, tanda kalau dia mengerti apa yang di ceritakan Marisa.


"Jadi begitu, pihak Bank tempat Henry bekerja sekarang sudah merumahkan dia. Aku merasa tidak enak karena merasa masalah ini terjadi adalah gara-gara aku. Kalau saja aku tidak mengikuti ajakannya untuk naik golf cart kemarin, mungkin dia masih bisa bekerja disana" tutur Marisa sedih.


Aku menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ada-ada saja, Indra! Dasar arogan! Apa dia tidak berpikir bagaimana nasib orang itu kedepannya? Bagaimana sulitnya mencari pekerjaan di saat pandemi seperti ini? Bagaimana beratnya meniti karir dari bawah dan hancur begitu saja?"


"Itu dia! Aku juga merasa begitu! Pak Indra dengan kekuasaan yang dia miliki telah menghancurkan karir Henry"


"Saya juga sempat beberapa kali bertemu dengan Henry. Saat ada metting di luar daerah ataupun ada kegiatan outdoor lainnya. Saya bisa melihat kalau dia adalah sosok yang ulet dan rajin bekerja. Saya bisa saja meminta salah satu klien saya yang berada di luar kota untuk menempatkan dia di posisi yang bagus, tapi saya tidak tahu apakah Henry mau menerima kebaikan saya?"


Marisa menggeleng, "Tidak bisa, tadi Henry sudah mengatakan padaku kalau dia tidak akan mengemis untuk mendapatkan satu pekerjaan. Niat baik kamu bisa saja di salah artikan sebagai penghinaan terhadap dia"


"Ya, apalagi dia tahu kalau saya adalah adik dari Indra. Orang yang telah membuat dia kehilangan pekerjaan"


"Makasih ya kamu mau mendengar cerita saya. Kamu tidak marah kan, karena kemarin saya pergi dengan Henry?"


"Kamu juga pernah pulang dari Sumedang bareng dia, saya tidak marah"


"Kamu tidak cemburu?"


Andro tersenyum getir. "Saya cemburu, Marisa. Tapi saya sadar, saya tidak ada hak untuk cemburu. Kamu belum mau terikat dengan saya. Kamu belum menerima cinta saya... Kamu belum mencintai saya..."


Marisa merasa iba pada Andro, pria ini begitu sabar menunggu Marisa menerima cintanya. Setelah apa yang selama ini telah Andro berikan pada Marisa, apakah pantas jika Marisa masih menggantung Andro?


"Maaf, Pak Andro. Saya... Saya belum bisa menjawab sekarang" kata Marisa lirih.


"Ya, gak apa-apa" Andro menggenggam tangan Marisa. "Oya Marisa, Hari Minggu ini kalau kamu ada waktu, Mama mau mengajak kamu ke panti asuhan. Mama mau mengadakan acara pengajian tujuh tahun meninggalnya Papa sekalian memberikan sumbangan rutin untuk anak-anak panti"

__ADS_1


"Oh ya? Tentu saja aku akan datang! Aku suka anak-anak" kata Marisa antusias.


"Oke, kalau begitu Minggu pagi saya akan menjemput kamu dan kita pergi ke panti asuhan bersama-sama"


__ADS_2