
Marisa merasa tidak enak hati, dia sudah mencoba untuk menghubungi Indra dan juga Melati tapi kedua orang yang sedang pergi bersama itu tidak mengangkat teleponnya! Marisa tidak bisa menahan rasa kesalnya lagi! Apalagi kemudian Indra menelepon nya pada pukul delapan lebih! Tepat saat kunjungan dokter ke kamar rawat inap Baby Syailendra.
"Lis, ini Bapak nelepon. Aku titip Baby Syailendra dulu ya?" kata Marisa.
"Iya Bu" kata Lilis.
"Kamu ke depan saja. Bicara dengan Indra diluar. Biar saya disini untuk bicara dengan dokter" kata Andro.
"Ok, makasih ya" Marisa keluar dari kamar perawatan Baby Syailendra dan mengangkat telepon dari Indra.
"Halo" kata Marisa dingin.
"Halo, Sayang! Maaf! Saya kesiangan!" kata Indra lewat sambungan telepon.
"Sejak kapan seorang Indra Perdana kesiangan?!" sindir Marisa.
"Kan saya sudah bilang kemarin, saya sedang tidak enak badan"
"Oh, kalau begitu ya sudah! Kamu lanjutkan saja istirahat kamu di hari Minggu yang cerah ini dan tidak usah repot-repot untuk pulang!"
"Marisa, kamu marah? Saya minta maaf..." Indra yang saat itu sedang berbaring bersama Melati di atas ranjang merasa tidak enak karena Indra bisa merasakan kekecewaan dalam nada suara Marisa.
"Aku tidak marah, aku hanya kecewa! Kamu sudah beristirahat semalaman! Apakah kamu tidak bisa pulang pagi-pagi sekali untuk melihat anak kamu yang sedang sakit?!"
"Iya maaf... Saya akan segera pulang sekarang!"
"Terserah!"
"Sayang, please..."
"Maaf, aku akan bertemu dulu dengan dokter untuk membicarakan tentang keadaan Syailendra!"
"Keadaannya bagaimana sekarang? Apakah semalam dia bisa tidur?!"
"Baby Syailendra sama seperti kemarin malam! Dia terus menangis tanpa henti dan tubuhnya kembali demam!"
"Ya Tuhan...! Kalau begitu izinkan saya bicara dengan dokter disana. Saya akan minta agar dokter memberikan perawatan yang terbaik buat anak kita!"
"Tidak usah! Kalau untuk bicara seperti itu, aku juga bisa!"
"Marisa, please"
Selamat beristirahat kembali dan semoga lekas sembuh. Assalamu'alaikum"
__ADS_1
"Mar!" kata-kata Indra terputus karena menyadari bahwa Marisa telah menutup teleponnya. "Ah! Kenapa dia menutup teleponnya!" rutuk Indra!
"Kenapa? Bu Marisa marah?" tanya Melati.
"Iya" jawab Indra sedih.
"Ngambekan banget sih jadi Nyonya Indra!"
"Bukannya begitu! Baby Syailendra demam lagi tadi malam! Saya merasa sangat bersalah... Saat anak saya sakit dan istri saya kelelahan merawatnya, saya disini malah..."
Melati mencibir diam-diam.
"Saya mau mandi dulu! Saya mau pulang sekarang!" kata Indra lalu melepaskan pelukannya pada tubuh Melati dan segera bergegas pergi ke kamar mandi.
Melati yang di tinggalkan di atas ranjang hanya bisa menghela nafas panjang. "Dasar Papa muda! Sebegitu khawatir nya sama anaknya!"
Indra pun segera berangkat ke bandara untuk pulang bersama Melati ke Jakarta. Dalam sepanjang perjalanan Indra merasa khawatir dan tegang. Ada rasa bersalah yang benar-benar membebaninya. Apalagi saat mendengar suara Marisa yang terdengar sangat kecewa.
Marisa tidak pernah marah. Sepanjang perjalanan rumah tangga mereka selama satu setengah tahun ini, Indra dan Marisa hampir tidak pernah bertengkar. Kalau saat ini Marisa marah, itu artinya dia terluka dengan perbuatan Indra.
"Jangan murung terus dong, Pak Indra" kata Melati sambil mengusap-usap punggung Indra.
"Saya khawatir sekali pada anak saya. Saya juga merasa bersalah pada Marisa" kata Indra.
*******
Sementara itu Marisa segera masuk kembali kedalam ruangan perawatan Baby Syailendra dan menghampiri Andro yang baru selesai bicara dengan dokter.
"Bagaimana, Ndro? Apa kata dokternya?" tanya Marisa.
"Alhamdulillah. Menurut dokter, Baby Syailendra sudah membaik dan keadaannya stabil. Kita di perbolehkan untuk membawanya pulang hari ini" jawab Andro sambil tersenyum lebar.
"Alhamdulillah ya Allah..." Marisa mengucap syukur dan segera memeluk anaknya yang tampak sedang duduk sambil tersenyum di atas ranjang perawatan.
"Ma... Ma... Mama..." Baby Syailendra berceloteh dengan lucunya.
"Sayang, kata dokter kita boleh pulang sekarang!" seru Marisa sambil menciumi wajah anaknya.
Andro ikut tersenyum dan membelai rambut Baby Syailendra. Mendapatkan belaian dari Andro, Baby Syailendra malah mengulurkan kedua tangannya minta di gendong.
"Oh, anak Om minta di gendong?" kata Andro seraya mengambil Baby Syailendra dari gendongan Marisa.
"Pa.. Papa... Papa..." Baby Syailendra, malah memanggil-manggil Andro dengan panggilan Papa!
__ADS_1
Andro dan Marisa jadi saling pandang. Agak jauh sampai akhirnya Marisa duluan yang memalingkan wajahnya dan berkata. "Aku mau beres-beres barang untuk dibawa pulang dulu"
"Hmmm... Ya" Andro jadi salah tingkah.
Siang itu juga Marisa membawa Baby Syailendra pulang bersama Andro dan Lilis ke kediaman keluarga Perdana. Mereka di sambut Mama Renata yang tadinya sudah bersiap berangkat ke rumah sakit untuk menjenguk Baby Syailendra.
"Cucu Oma, kesayangan Oma! Kamu sudah boleh pulang?!" seru Mama seraya mengambil Baby Syailendra dari gendongan Marisa dan memeluknya erat.
"Iya, Mam. Alhamdulillah Baby Syailendra sudah boleh pulang" kata Marisa lalu mencium tangan Mama.
"Baru saja Mama mau berangkat ke rumah sakit"
Saat itulah Andro keluar dari mobil di ikuti Lilis yang membawa tas besar. Mama Renata mengerutkan keningnya saat melihat Andro. Sejak kapan Andro pulang dari Italia dan bersama dengan Marisa?!
"Andro?!" kata Mama heran.
"Assalamu'alaikum, Mam" sapa Andro lalu mencium tangan Mama.
"Kapan kamu pulang?" tanya Mama.
"Tadi pagi, jam duaan" jawab Andro.
"Kenapa tidak langsung ke rumah?"
"Saya langsung ke rumah sakit untuk melihat keadaan Baby Syailendra"
"Kamu tahu darimana kalau Baby Syailendra ada di rumah sakit? Atau..." Mama kini mengalihkan pandangan pada Marisa. "Kamu yang mengabari Andro kalau Baby Syailendra sakit?" nada suara Mama terdengar curiga.
"Bukan, Mam. Saya kemarin menelepon Marisa dan menanyakan kabarnya. Jadi saya tahu kalau Baby Syailendra sedang sakit" kata Andro.
"Jadi kamu sering menelepon Marisa?" nada suara Mama mulai terdengar tidak enak.
"Tidak juga, jarang-jarang kok. Cuma kemarin itu saya mendadak ingat kepada Baby Syailendra, jadi saya menelepon Marisa"
"Tapi kan sebaiknya kamu pulang dulu ke rumah!" nada suara Mama terdengar makin tidak enak.
"Saya khawatir dengan keadaan Baby Syailendra, Mam"
Mama menghela nafas panjang dan menatap Marisa. "Sebaiknya kamu juga tidak usah mengabari Andro tentang keadaan Baby Syailendra. Kan ada Lilis di rumah sakit menemani kamu. Lagipula kan Indra sedang tidak ada! Kalau Indra tahu bagaimana?! Bisa-bisa dia marah saat tahu kalau Andro menemani kamu di rumah sakit, Marisa!"
"Maaf, Mam" kata Marisa yang merasakan kalau Mama tidak suka melihat kedatangan Andro bersamanya.
"Lalu Indra kemana, Mam?! Bukankah dia yang seharusnya menemani Marisa menjaga anak mereka yang sedang sakit?!" tanya Andro dengan suara yang di tekankan.
__ADS_1