My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 145 : Sebuah Pelajaran


__ADS_3

Kening Andro berkerut, "Herman memukuli kamu?" tanyanya.


"Ya, ini semua gara-gara saya memecatnya dan menganiayanya karena dia membocorkan keberadaan saya kepada Sofie!"


"Wajarlah kalau Herman memberitahu keberadaan kamu. Sofie adalah tunangan kamu!"


"Tapi Sofie membuat keributan saat itu! Dia cemburu buta dan melabrak klien saya didalam kamar apartemen! Dia kira saya yang sedang tidur disana!"


"Klien?! Klien mana yang kamu izinkan tidur di apartemen?!"


"Mr, Baba! Dia yang menyewa apartemen itu! Sudahlah! Kita tidak perlu pembahasan soal itu!"


"Lalu kamu di pukuli oleh Herman?!"


Indra mengangguk dengan senyuman kecut.


"Lalu kamu kalah?! Why?! Mana mungkin?!"


"Saya sedang dalam keadaan mabuk berat saat itu! Kalau saja dia menghadapi saya dalam keadaan sadar, sudah saya patahkan lehernya!"


"Saya percaya!"


"Tentu saja! Dan pada malam pemukulan itu, Marisa datang menyelamatkan saya dan membawa saya ke rumah sakit. Keadaan saya cukup parah saat itu. Saya tidak bisa kembali ke rumah karena khawatir akan membuat Mama panik. Maka itu saya membawa Marisa ke vila kita di puncak untuk merawat saya selama pemulihan"


"Sampai-sampai harus membawa Marisa?"


"Saya tidak bisa berjalan, Ndro! Saya sampai mengenakan kursi roda!"

__ADS_1


"Jadi karena itu Marisa tidak datang untuk menjemput saya di bandara? Karena dia harus merawat kamu?"


"Begitulah"


"Lalu selama kalian disana, kalian berdua memutuskan untuk bersama dan Marisa sampai tega meninggalkan saya demi kamu?"


"Ya mau bagaimana lagi?! Marisa mencintai saya, bukan kamu! Dan saya juga mencintai dia!"


"Lalu kamu lupa akan janji kamu untuk melamar Marisa buat saya kalau saya sudah kembali dari Turki?" nada suara Andro mulai terdengar bergetar menahan perasaan kecewanya.


"Saya tadinya memang berniat seperti itu. Tapi manusia hanya bisa berencana. Kenyataannya saya sangat mencintai Marisa dan saya tidak bisa kehilangan dia! Saya mohon kamu bisa mengerti! Saya minta maaf! Saya akan mempertahankan Marisa dengan cara apapun juga! Walaupun harus bersaing dengan kamu!" kata Indra tegas.


"Indra, Indra! Ternyata kamu tidak pernah berubah! Kamu sedari kecil selalu saja ingin menang sendiri! Kamu mempergunakan posisi kamu sebagai seorang kakak agar bisa menguasai semua yang kamu inginkan! Kamu anggap saya tidak ada apa-apanya!"


"Tidak seperti itu, Ndro!"


"Sudahlah, Dra! Saya tahu diri! Sampai kapanpun saya tidak akan bisa bersaing dengan kamu! Kamu lebih unggul di bandingkan saya dalam hal apapun!"


"Tapi satu hal yang saya ingin tanyakan kepada kamu, Dra. Kalau memang kamu adalah seorang kakak, kenapa kamu tidak bisa mengalah sedikit saja untuk saya? Bukankah seharusnya seorang kakak yang mengalah untuk kebahagiaan adiknya? Yang terjadi malahan kamu memonopoli semua perusahaan peninggalan Papa di semua cabang! Oke, saya sadar kalau saya belum mampu untuk itu. Saya belum bisa melanjutkan bisnis Papa yang luar biasa banyaknya. Tapi untuk masalah Marisa, kenapa kamu juga tega untuk mengambilnya dari saya?! Padahal kamu tahu bagaimana cara saya terhadap Marisa?! Saya sangat mencintainya! Dia adalah wanita pertama yang saya cintai dan saya inginkan! Kenapa setelah semuanya kamu miliki, kamu masih tega mengambil satu-satunya milik saya?! Kenapa?!!!" Andro kini berkata keras dan tidak bisa lagi menahan emosinya sampai-sampai Andro berdiri dari tempat duduknya!


Indra kali ini ikut emosi dan memelototkan matanya! "Kamu ini bicara apa?! Kalau ternyata Marisa mencintai saya, lalu mau bagaimana lagi?! Kamu mau memaksa Marisa untuk menikah dengan kamu?! Pria yang tidak pernah di cintai nya?!" bentak Indra seraya ikut berdiri dari duduknya dan kini berhadap-hadapan dengan Andro.


"Seorang wanita seperti Marisa tidak akan meminta kamu untuk menjadi kekasihnya kalau bukan kamu yang mengejarnya! Dasar saja kamu memang selalu bersifat serakah! Selalu ingin memiliki apa yang saya punya!" Andro tidak gentar sedikitpun mendengar bentakan Indra.


'Bugh!' satu pukulan Indra bersarang telak di pipi Andro! Indra tidak mampu lagi menahan emosinya dan malah menjatuhkan tangan kasar terhadap Andro, adiknya sendiri!


Andro terhuyung kebelakang saking kerasnya pukulan dari Indra! Tapi Andro tidak membalasnya, Andro hanya tersenyum tipis seraya menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya yang pecah!

__ADS_1


Indra terkesiap melihat darah di punggung tangan adiknya! "Ndro... Saya..." Indra terbata dan mendekati Andro.


"Cukup!" sergah Andro! "Cukup sampai disitu! Jangan dekat-dekat lagi! Saya tidak sudi!"


"Kamu terluka!"


"Saya tidak apa-apa! Luka dalam hati saya jauh lebih sakit dari ini!"


"Kan saya sudah berkata kalau saya minta maaf! Kenapa kamu masih saja keras kepala dan tidak mau mengerti! Kamu malah membuat saya emosi dan tidak bisa menahan diri lagi!"


"Saya tidak bermaksud membuat kamu emosi. Tapi saya akan selalu mengingat hari ini. Hari dimana saya mendapatkan satu pelajaran penting dalam hidup saya. Bahwa seorang saudara belum tentu mengasihi kita dengan setulus hati. Pantas kalau ada peribahasa yang mengatakan kalau seorang teman kadang lebih baik dari pada saudara!"


"Tidak! Kalau ada sesuatu yang buruk terjadi pada kamu, saya juga yang akan menanggungnya! Bagaimanapun saya adalah pengganti almarhum Papa yang berkewajiban untuk menjaga kamu dan Mama! Tidak akan ada yang lebih menyayangi kalian di bandingkan dengan saya!"


"Oh ya, kamu benar Dra! Kamu sangat menyayangi saya! Walaupun sedari kecil saya tidak pernah merasakan sentuhan kasih sayang dari kamu. Kamu terlalu dingin dan acuh! Kamu tidak pernah mengajak saya bermain ataupun merangkul saya seperti yang saya lihat dilakukan oleh kakak-kakak dari teman-teman saya! Tapi hari ini saya merasakan nya! Saya telah mendapatkan satu sentuhan yang berbeda dari seorang kakak! Jadi seperti ini rasanya sentuhan kasih sayang dari seorang saudara?! Makasih, Dra! Makasih atas pelajaran dan kasih sayang yang kamu berikan pada saya di hari ini!"


"Saya minta maaf"


"Semudah itu kamu minta maaf?! Setelah bibir saya mengucurkan darah?!"


Indra sudah tidak tahu harus berkata apa lagi! Indra merasa bersalah kepada Andro karena telah melukai nya. Apalagi Indra lihat ada darah yang kembali mengalir dari sudut bibir Andro yang tadi di pukul nya!


"Lalu saya harus berbuat apa?! Kalau kamu meminta saya untuk mengembalikan Marisa, saya tidak bisa!"


"Saya tidak akan meminta Marisa kembali! Saya mengaku kalah! Saya yang akan pergi!"


"Mau pergi kemana?! Ini sudah malam!"

__ADS_1


Andro tidak menjawab melainkan pergi keluar dari ruang kerja Indra. Indra sendiri tidak menahan ataupun mencoba untuk mengejar Andro. Andro sudah dewasa. Biarkan dia pergi sejenak untuk menenangkan diri. Kalau nanti hatinya sudah dingin, pasti Andro akan kembali lagi.


Indra tahu persis bagaimana sifat Andro. Andro baik hati dan bukan pendendam! Andro akan cepat melupakan kesedihannya dan akan kembali ceria lagi!


__ADS_2