
Tanpa menginap semalam lagi seperti rencana awalnya, Indra memutuskan untuk pulang ke Jakarta pada hari itu juga. Rasa marah, kesal, dan khawatir membuat Indra tidak bisa bertahan lebih lama lagi di Sumedang.
Sepanjang perjalanan Indra merutuki kepergian Marisa yang tanpa pamit. Anehnya lagi Indra merasa khawatir. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada Marisa?!
Begitu sampai di Jakarta, Indra langsung ke kantornya dan menemui Andro yang ada di ruangan CEO untuk menggantikannya menghandle perusahaan selama Indra tidak disana.
Indra memasuki ruangan dengan gusar dan langsung bertanya pada Andro. "Mana Marisa?!"
"Marisa?" tanya Andro heran.
"Iya, mana gadis itu?!" Indra bertanya lagi.
"Marisa kan ikut sama kamu ke luar kota. Kenapa kamu sekarang nanyain dia? Tunggu! Apa ada masalah? Apa Marisa hilang?! Aku dari siang video call dia tapi gak di angkat!" Andro panik.
"Iya! Marisa menghilang dari acara makan siang tadi! Dia lenyap entah kemana, tidak berpamitan dan memblokir nomor HP aku!"
"Astaga! Memangnya ada masalah apa, Dra?"
"Mana aku tahu!"
Wajah Indra merah padam. Tidak mungkin dia berterus terang pada adiknya kalau semalam dia mencoba memaksa Marisa untuk tidur bersamanya!
"Aku akan cari Marisa!" kata Andro lalu meraih HP dan kunci mobilnya dari atas meja.
"Cari kemana?!" tanya Indra.
"Ke kos-annya!" jawab Andro
"Kamu tahu kos-annya?!" Mata Indra membelalak! Indra mendadak tak enak dan panas hati!
"Tahulah! Dia kan calon pacar ku! Mana mungkin aku gak tahu!" jawab Andro.
"Sejauh mana hubungan kamu dengan Marisa?! Kenapa kamu bisa tahu kos-annya?! Berapa kali kamu mengunjunginya disana?!" Indra malah memberondong Andro dengan banyak pertanyaan.
"Lho, kok kamu jadi sewot?! Kamu mengintrogasi aku seolah aku ini anak kecil yang terlambat pulang ke rumah karena bermain dengan teman-temannya sepulang sekolah! Seharusnya aku yang tanya sama kamu! Ada apa kamu sama Marisa?! Aku curiga kamu ada masalah sama dia! Mana mungkin kamu gak tahu!"
"Aku memang tidak ada masalah dengan Marisa! Aku memperlakukan dia dengan baik selama di Sumedang! Dia saja yang tidak tahu diri! Aku curiga dia pergi dengan Henry Adiputra!"
__ADS_1
"Henry Adiputra?! Siapa dia?!"
"Dia orang Bank yang bekerja sama dengan cluster Perdana Enterprise! Malam tadi dia berusaha untuk melakukan kecurangan! Dia menawarkan kemudahan kerjasama antara Perdana Enterprise dengan pihak Bank dimana dia bekerja asal aku mau mengenalkan dia secara pribadi dengan Marisa! Aku tidak mengizinkan karena aku tidak suka bisnis dengan cara seperti itu! Siang tadi saat Marisa menghilang, aku lihat Henry juga tidak ada di lokasi! Besar kemungkinannya kalau mereka pergi bersama! Padahal aku sudah bilang kalau Henry Adiputra itu berbahaya dan sedang mengincarnya! Tapi dasar gadis bodoh! Dia malah menyerahkan dirinya!" tutur Indra berapi-api.
"Apa mungkin seperti itu? Marisa mau ikut dengan orang asing yang baru di kenalnya?" Andro tidak percaya begitu saja.
"Terserah! Kamu memang sudah di butakan dengan rasa suka mu pada gadis itu! Lihat saja nanti kalau ternyata dia menipu kamu!"
"Aku gak bisa mendengar penjelasan dari satu pihak aja, Dra! Aku akan temui Marisa sekarang dan menanyakan apa masalahnya yang membuat dia pergi dari Sumedang meninggalkan kamu lebih dulu!"
Dalam hatinya, Indra merasa khawatir juga. Bagaimana jika Marisa menceritakan tentang apa yang terjadi semalam dimana Indra mencoba memperkosanya?! Mau di taruh dimana muka Indra?!
"Sial! Awas saja kalau gadis itu berani menceritakan apa yang telah ku perbuat pada Andro! Aku berjanji akan membuatnya menderita seumur hidup!" batin Indra.
Sementara itu, Andro sudah sampai di kos-an Marisa dan langsung mengetuk pintu serta tak lupa mengucap salam. Tak lama kemudian pintu terbuka dan Marisa muncul disana. Marisa tampak rapi dan cantik sekali karena baru selesai mandi.
"Selamat sore, Marisa." sapa Andro.
"Selamat sore, Pak." balas Marisa.
"Syukurlah kamu ada disini. Saya khawatir sekali! Kata Indra kamu pergi meninggalkan dia."
Andro masuk ke dalam dan duduk di atas sebuah karpet berbulu di depan TV. Rumah Marisa tampak berantakan, malahan tas yang di bawanya ke Sumedang pun belum sempat di bereskan.
"Maaf berantakan, Pak. Gak ada kursi lagi!" keluh Marisa sambil membereskan ruangan itu sebisanya.
"Tidak apa-apa, namanya juga kos-an," kata Andro.
"Bapak mau minum kopi?"
"Boleh, kalau ada."
"Ada, Pak. Tunggu sebentar," Marisa pun bergegas ke dapur dan membuatkan Andro kopi. Tak lama Marisa sudah muncul lagi dengan dua cangkir kopi.
"Kita ngopi bareng, Pak?" kata Marisa.
"Terima kasih. Oh ya, kamu baru pulang?" tanya Andro.
__ADS_1
"Iya, saya baru sampai dan langsung mandi."
"Kamu pulang dengan siapa?"
"Dengan Pak Henry Adiputra. Orang dari pihak Bank yang akan bekerja sama dengan Perdana Enterprise."
Andro terkejut! Ternyata benar kata Indra, Marisa pergi bersama Henry! Benar juga! Kalau naik kendaraan umum, mana mungkin Marisa sampai secepat ini!
"Kamu pulang bersama Henry?" tanya Andro meyakinkan.
"Iya, saya menumpang mobilnya." jawab Marisa.
"Memangnya kamu mengenalnya?"
"Tidak, saya hanya mengenalnya sekilas saat metting. Tadi pagi dia yang melihat saya saat saya mau mencari ojek untuk ke terminal. Pak Henry menawarkan ikut mobilnya karena dia juga hendak pulang ke Jakarta. Ya saya ikut saja."
"Lalu kenapa kamu meninggalkan Indra?"
Marisa menghela nafas. "Apakah Bapak sudah bertemu Pak Indra?"
"Sudah, tadi di kantor. Dia mencari-cari kamu. Dia mengatakan kalau kamu pulang duluan bersama Henry,"
"Dia tidak mengatakan apa yang membuat saya pergi meninggalkan dia?"
"Tidak, memangnya ada apa?"
"Silahkan Bapak tanyakan saja sendiri pada Pak Indra." Marisa terlihat santai.
Andro mengerutkan keningnya. "Apakah ini serius sekali, Marisa? Indra bilang kalau Henry mengincar kamu. Kamu berani sekali ikut bersamanya padahal itu bisa berbahaya untuk kamu. Bagaimana jika dia berniat jahat?"
"Alhamdulillah saya selamat sampai disini!"
"Lalu ada masalah apa kamu dengan Indra?"
"Saya tidak bisa menceritakan apapun pada Bapak. Saya tidak berkompeten tentang masalah ini. Saya takut salah bicara. Bapak tanya saja langsung pada Pak Indra dan jangan paksa saya bercerita!"
"Oke, Marisa! Baiklah! Saya tidak akan memaksa kamu untuk bicara lagi. Yang penting bagi saya adalah kamu sudah selamat. Lain kali saya yang akan mengantar jemput kamu! Saya tidak mau sesuatu yang buruk terjadi sama kamu! Saya sayang kamu, Marisa!" kata Andro bersungguh-sungguh.
__ADS_1
Marisa tersenyum, "Iya, Pak Andro, saya mengerti. Terima kasih banyak."
Tiba-tiba Andro bergerak memeluk Marisa. Marisa tidak bisa berontak. Marisa memilih diam. Begitu hangat pelukan Andro yang di rasakan. Tapi kenapa Marisa merasa perasaannya mengambang?