My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 90 : Mengundurkan Diri


__ADS_3

Marisa pulang ke kosan nya dengan perasaan sedih bercampur kecewa. Bagaimana caranya Marisa membuat email pengunduran diri pada Bella? Marisa yakin Indra akan marah besar dan memberikan rekomendasi buruk untuk dirinya.


Tapi kalau tidak, bagaimana dengan Sofie? Sofie bilang kalau Marisa adalah penyebab Indra meninggalkannya. Kalau Marisa resign dari Perdana Enterprise, mungkin saja hubungan Sofie dan Indra bisa di selamatkan dan Sofie bisa membantu Marisa agar Indra mau memberikan rekomendasi bagus untuk dirinya.


Gery yang saat itu sedang mencuci motornya di depan kosan, melihat bagaimana Marisa muncul dengan wajah yang pucat dan tampak bersedih.


"Darimana kamu, mar? Pergi gak bilang-bilang?! Bawa jajanan gak?" tanya Gery.


"Aku dari kafe, Ger" jawab mau seraya duduk di depan kosan Gery.


Gery merasakan ada sesuatu pada masa suara Marisa yang pelan. Gery segera menyudahi aktivitasnya mencuci motor dan ikut duduk di samping Marisa.


"Kok abis dari kafe malahan kelihatan sedih. Ada apa?" tanya Gery.


"Aku bingung, Ger" jawaban Marisa.


"Kenapa?"


"Aku tadi abis ketemu sama Bu Sofie di kafe"


"Bu Sofie tunangannya Pak Indra?"


Marisa mengangguk.


"Ada apakah kamu ketemu dia?"


"Dia bilang Pak Indra memutuskan hubungannya dengan Bu Sofie. Pak Indra bilang dia gak bisa melanjutkan hubungannya dengan Bu Sofie karena ada wanita lain"


"Kayla kan? Aku udah denger ceritanya dari Pak Nino!"


"Bukan, katanya wanita yang di cintai oleh Pak Indra itu adalah aku"

__ADS_1


"Kamu?!" Gery kaget sekali.


"Ya, aku!"


"Kok bisa?! Emang selama ini kamu sama Pak Indra gimana? Kayaknya setelah Pak Indra nganterin kamu ke klinik waktu kamu sakit, kamu dan Pak Indra terlihat biasa-biasa saja. Gak ada yang mencurigakan!"


"Justru itu! Aku juga bingung! Orang setiap harinya Pak Indra sama Kayla kok! Tapi bukan masalah itu yang aku bingungkan! Ada yang lebih buruk lagi!"


"Apaan?!"


"Bu Sofie meminta aku untuk resign dari Perdana Enterprise. Aku di minta untuk mengajukan surat pengunduran diri hari ini juga. Padahal kita kan tinggal satu Minggu lagi menyelesaikan praktek di kita disana!"


"Gila banget!" Gery tak bisa menahan kemarahannya! "Enak aja nyuruh resign seenaknya! Emangnya dia siapa? Jadi istri Pak Indra juga belum! Udahlah kamu jangan turuti permintaan Bu Sofie! Kalau Pak Andro memutuskan hubungan sama dia, ya itu resiko yang harus dia tanggung sendiri! Apa urusannya sama kamu!"


"Gak bisa semudah itu, Ger! Kamu gak tahu bagaimana keadaan Bu Sofie sekarang!"


"Emangnya kenapa?!"


"Bu Sofie sedang sakit. Dia menderita kanker stadium empat! Aku gak mungkin menolak permintaannya! Aku gak tega! Katanya kalau aku resign dari Perdana Enterprise, Pak Indra pasti akan menarik kata-katanya dan mereka gak jadi putus. Bu Sofie sangat membutuhkan Pak Indra saat ini!"


"Aku juga mikirin masalah itu. Tapi kata Bu Sofie, dia akan bantu bicara pada Pak Indra agar tetap bisa memberikan nilai bagus buat aku"


Gery menggeleng. "Gak mungkin, Marisa! Kalau kamu resign sebelum waktunya, Pak Indra pasti akan marah besar dan tidak akan mau memberikan nilai bagus untuk kamu! Yang ada CEO arogan itu akan menjelek-jelekkan nilai kamu ke pihak kampus!"


"Lalu aku harus bagaimana?!"


"Kalau kamu mau denger apa kataku! Kamu jangan mau resign dari Perdana Enterprise sekarang! Kamu akan menyesal, Marisa! Kamu udah mati-matian selama tiga bulan ini jadi asisten pribadinya Pak Indra yang agak sinting itu! Lalu sekarang kamu mau berhenti di saat semuanya sudah hampir rampung?! Sia-sia dong kerja keras kamu selama! Rugi! Rugi besar!"


"Bu Sofie bagaimana!?"


"Itu urusan dia! Kamu yakin kalau kamu resign dari Perdana Enterprise, Pak Indra bakalan balikan lagi sama Bu Sofie?! Belum tentu! Yang ada mereka tetap putus dan kamu gagal lulus kuliah tahun ini!"

__ADS_1


"Tapi Bu Sofie sakit!"


"Itu bukan urusan kita, Marisa! Kita juga punya masalah sendiri! Belum tentu Bu Sofie mau bantu kita! Kamu cuma seorang karyawan praktek kerja lapangan, Marisa! Berhentilah masuk kedalam pusaran masalah Pak Indra dan Bu Sofie! Itu bukan ranah kamu!"


"Gak tahu, Ger! Aku gak tega dan aku juga udah janji sama Bu Sofie"


"Terserah!"


Marisa meninggalkan Gery dan masuk kedalam kosannya sendiri. Lama Marisa berpikir hingga akhirnya dia tetap memutuskan untuk mengirim surat pengunduran diri pada Bella.


"Aku gak mungkin mengingkari janji ku pada Bu Sofie. Aku gak mau di cap sebagai wanita tidak punya hati, tidak punya perasaan, apalagi tidak punya otak! Ya Allah... Aku serahkan semuanya kepada kehendak Mu. Apapun yang terjadi pada nilai PKL ku, aku pasrah dan ikhlas. Semoga keputusan ku ini tidak salah dan tidak akan membuat keadaan menjadi lebih buruk. Amin..." batin Marisa.


Hari Minggu itu pun berlalu dengan cepat dan Senin pagi sudah tiba lagi. Saat Gery menjemput Marisa pagi itu untuk berangkat ke kantor, Marisa keluar rumah dengan masih mengenakan pakaian tidur dan menolak untuk berangkat ke kantor.


"Lho! Kamu serius untuk resign dari Perdana Enterprise?! Kamu bodoh, Mar! Kamu bener-bener gak bisa di bilangin!" Gery marah dan menyayangkan keputusan Marisa.


"Maafkan aku, Ger! Aku gak tahu harus gimana lagi" kata Marisa.


"Terserah kamu lah! Aku cuma menyayangkan aja keputusan kamu! Kamu gak mikirin apa gimana kecewanya orang tua kamu kalau kamu gagal lulus tahun ini dan harus menunggu satu tahun lagi?!"


"Ger..." Marisa mulai berkaca-kaca. Gery sahabat terbaiknya sekarang bersikap menyalahkan dan tidak mau mengerti dengan keputusan Marisa.


"Maaf, Mar. Aku berangkat kerja dulu. Kamu baik-baik saja di rumah. Yang jelas aku gak mau kayak kamu yang hidupnya mau saja di atur-atur orang seenaknya!"


"Gery! Tunggu dulu, Ger!" teriak Marisa saat Gery beranjak pergi tapi Gery tidak mau menoleh lagi dan langsung pergi dengan motornya.


Marisa sedih sekali. Air matanya jatuh menetes dan Marisa tidak tahu harus bicara pada siapa. Gery, sahabat satu-satunya yang selama ini selalu bersamanya kini tidak mau mendengarkan kata-kata Marisa lagi.


Marisa melewati hari Senin itu dengan penuh kesedihan. Perasaan Marisa tidak menentu. Ternyata sehari tidak pergi ke kantor membuat Marisa merasa kesepian juga. Marisa malahan teringat pada Indra.


"Bagaimana sekarang keadaan Pak Indra?! Apakah dia sudah mengetahui masalah pengunduran diri aku? Apakah Pak Indra akan marah dan tidak akan memberikan nilai untuk rekomendasi kelulusan ku?

__ADS_1


Ya Allah... Hari ini ada dua metting penting lagi! Bagaimana Pak Indra menghandle metting itu tanpa aku? Agendanya kan ada di laptop aku! Aku sudah menyusunnya dan belum sempat aku berikan pada Pak Indra.


Apa aku kirim lewat email?! Tapi kan Bu Sofie bilang aku gak boleh kontak lagi sama Pak Indra! Ya Allah...! Bagaimana ini?!"


__ADS_2